Jumat, 22 Mei 2026

Kilang Pertamina Cilacap Pasang PLTS Rooftop Guna Reduksi Emisi

Kilang Pertamina Cilacap Pasang PLTS Rooftop Guna Reduksi Emisi
PLTS di atap Head Office Pertamina RU IV Cilacap. (Sumber Foto: NET)

CILACAP - Komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca terus diwujudkan melalui pemanfaatan energi terbarukan di area operasional industri vital. Dilansir dari Media Indonesia, Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) IV Cilacap kini memasang jajaran panel surya di atas atap gedung head office yang memiliki luas 7.257 meter persegi.

Langkah ini menjadi menarik karena Kilang Pertamina Cilacap dikenal sebagai pengolah crude menjadi bahan bakar minyak terbesar di Indonesia. Kapasitas produksinya mencapai 348.000 barel per hari untuk memasok 34 persen kebutuhan nasional atau 60 persen kebutuhan di Pulau Jawa.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU IV Cilacap Agustiawan mengatakan bahwa Pertamina mendukung penuh program pemerintah dalam mengurangi emisi.

Baca Juga

OJK Revisi POJK Bursa Karbon, Bidik Potensi Rp 1,36 Triliun

“Apa yang dilakukan oleh Pertamina, salah satunya adalah mengembangkan PLTS di kompleks kilang adalah untuk mengurangi emisi gas hingga 30% di tahun 20230 serta Net Zero Emission pada tahun 2060,” jelas Agustiawan kepada Media Indonesia pada Selasa (18/5).

Infrastruktur energi bersih di rooftop gedung utama tersebut memiliki kapasitas sebesar 18 Kilowatt Peak (KWp). Sistem kelistrikan HO terhubung dengan PLTS perumahan RU IV Cilacap, total kapasitas diseluruh sistem kelistrikan perumahan sebesar 3,6 Megawatt Peak (MWp).

“PLTS di RU IV saat ini merupakan PLTS on-grid, sehingga penyerapan hanya saat pagi dan sore hari, di saat peak-nya dapat memenuhi kebutuhan. Namun ketika malam tidak menghasilkan listrik. Sehingga secara total PLTS dapat memenuhi kebutuhan listrik sekitar 10-16 persen kebutuhan listrik perumahan dan perkantoran,” katanya.

Penerapan teknologi rendah emisi ini diklaim mampu mereduksi karbon secara signifikan. Pertamina mengalkulasi bahwa transisi energi ini dapat menurunkan emisi sekitar 140 hingga 150 CO2 equivalen (eq) setiap bulan.

“Sehingga dalam satu tahun, penurunan emisi kurang lebih 1.680-1.800 CO2 eq. Jika dihitung dengan penanaman pohon, sama dengan menanam sebanyak 35.196 pohon. Usaha ini akan terus dilakukan sebagai perusahaan yang berkomitmen untuk menurunkan emisi,” tegas Agustiawan.

Selain membangun pembangkit listrik hijau, fasilitas ini juga memfokuskan operasional pada pembuatan produk energi ramah lingkungan. Kilang Cilacap telah mengukuhkan diri sebagai green refinery unit yang masuk dalam Program Strategis Nasional melalui produksi biofuel.

Fasilitas tersebut memproduksi Hydrotreated Vegetable Oil (HVO), bionafta, serta bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan bakunya memanfaatkan minyak inti kelapa sawit yang diolah bersama avtur fosil melalui metode co-processing, dengan kapasitas mencapai 6.000 barel dari Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah.

Produk bahan bakar penerbangan tersebut diklaim telah mengantongi standardisasi internasional ASTM D1655 and DefStan 91-091. Sementara itu, varian green diesel diproduksi menggunakan Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO) yang bebas asam lemak.

Operasional produksi kelapa sawit ini ditopang oleh sertifikat International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) berkapasitas 6.000 barel per hari. Campuran kerosin dan RBDPO pada green avtur menghasilkan bahan bakar rendah sulfur yang efektif menekan emisi berbahaya.

Pemberdayaan Energi Terbarukan di Masyarakat

Program dekarbonisasi korporasi ini turut diperluas ke wilayah pemukiman warga sekitar. Pertamina RU IV Cilacap merancang sistem energi berkelanjutan untuk mengubah aksesibilitas masyarakat terhadap sumber daya listrik bersih.

Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid (PLTH) yang memadukan tenaga surya dan angin didirikan di Dusun Bondan, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut. Infrastruktur berkapasitas 16.200 Wp tersebut kini menerangi 74 rumah sekaligus mengoperasikan alat filtrasi air bersih warga.

“PLTS di RU IV saat ini merupakan PLTS on-grid, sehingga penyerapan hanya saat pagi dan sore hari, di saat peak-nya dapat memenuhi kebutuhan. Namun ketika malam tidak menghasilkan listrik. Sehingga secara total PLTS dapat memenuhi kebutuhan listrik sekitar 10-16 persen kebutuhan listrik perumahan dan perkantoran,” katanya.

Langkah serupa diterapkan di Desa Panikel dengan sistem solar panel berkapasitas 10.000 Wp guna mendukung operasional budi daya sidat. Pasokan listrik dari kincir air yang bergerak penuh selama 24 jam membuat kelompok peternak menghemat biaya operasional.

Instalasi gabungan energi surya dan bayu juga dibangun di Desa Kalijaran, Kecamatan Maos, dengan kapasitas 19.140 Wp. Daya listrik dialokasikan untuk menggerakkan mesin penggilingan padi dan pompa irigasi pertanian.

Ketua Gapoktan Margo Sugih Desa Kalijaran Priyatno mengatakan dengan adanya PLTS, maka kelompoknya tidak lagi bergantung pada energi fosil.

“Kami biasanya menggunakan pompa air untuk mengairi areal sawah dengan BBM. Tetapi sejak ada PLTS, kami tidak lagi membeli BBM karena sudah disuplai dari PLTS. Selain menghemat, kami juga sepanjang tahun bisa memanfaatkan lahan persawahan. Jika musim penghujan padi, saat kemarau bisa ditanami palawija,” katanya.

Penggunaan panel surya ini memangkas konsumsi bahan bakar minyak hingga 8 liter per hari pada setiap mesin pengairan petani. Modernisasi alat pertanian berbasis ramah lingkungan ini sekaligus menghilangkan polusi udara dan suara di kawasan persawahan.

“Kami juga memanfaatkan PLTS untuk menggerakkan mesin penggilingan padi. Yang pasti, hemat dan tidak berdampak polusi,” tambahnya.

Wilayah Kelurahan Kutawaru turut mendapatkan pasokan unit PLTS di dua titik dengan total daya 12.800 Wp. Energi bersih dimanfaatkan warga untuk operasional kampung kepiting serta rumah susun pembiakan vegetasi komoditas tersebut.

Tokoh pemuda Kutawaru, Rato, mengatakan kehadiran PLTS di kampung seberang Sungai Bengawan Donan itu untuk penerangan di Kampung Kepiting, instalasi aerator biofilter, dan Rumah Susun Kepiting Berbasis Energi (Rusun Tinggi).

“Kami juga memberdayakan para perempuan eks pekerja migran Indonesia untuk bersama-sama mengelola bank sampah. Sebab, sampah sempat menjadi masalah besar bagi desa yang cukup terisolir dari pusat Kota Cilacap ini. Kemudian dibangun Bank Sampah Abhipraya, yang saat ini mengolah total 4,5-6 ton sampah organik dan anorganik per tahun,” katanya.

Membangun Bauran Energi Regional

Pengamat sektor energi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Ropiudin, menilai langkah Pertamina memasukkan bauran energi hijau ke dalam operasionalnya merupakan strategi tepat. Upaya dekarbonisasi ini menegaskan perluasan peran perusahaan migas menuju industri yang lebih berkelanjutan.

“Pertamina bukan hanya bergerak di unit pengolahan dan produksi energi fosil saja, tetapi juga mulai mendorong penggunaan energi terbarukan sebagai bagian dari sistem industrinya. Ini menjadi bagian dari upaya mendukung transisi energi,” katanya.

Menurut analisisnya, integrasi teknologi ramah lingkungan ini tidak bertujuan menggantikan seluruh pasokan energi fosil secara instan. Kehadiran pembangkit surya dan angin berfungsi menciptakan bauran pasokan daya listrik yang lebih stabil.

“Energi terbarukan didorong bukan untuk menggantikan seluruh energi fosil, tetapi menjadi kombinasi atau bauran energi. Misalnya energi surya digunakan pada siang hari, sedangkan kebutuhan malam hari tetap memerlukan dukungan energi lain,” ujarnya.

Sifat pasokan energi baru terbarukan yang intermiten atau bergantung pada cuaca membuat ketersediaan energi fosil masih diperlukan sebagai penopang beban puncak.

“Energi fosil saat ini masih lebih stabil dan kontinyu, sementara energi baru terbarukan seperti angin dan surya tergantung kondisi alam. Karena itu yang didorong adalah optimalisasi bauran energi,” katanya.

Kebijakan hilirisasi ramah lingkungan ini sejalan dengan agenda dekarbonisasi internasional yang diikuti oleh pemerintah Indonesia. Pembentukan ekosistem hijau diharapkan mencakup sektor industri, wilayah perkantoran, hingga lingkungan pemukiman rural.

“Green ecosystem itu berarti teknologi yang digunakan berbasis ramah lingkungan dan minim emisi, baik di sektor manufaktur, perumahan, maupun perkantoran,” ujarnya.

Kawasan Cilacap dinilai memiliki keunggulan geografis yang besar bagi pengembangan proyek tenaga surya. Infrastruktur penunjang energi angin di daerah pesisir tersebut juga dinilai potensial untuk dioptimalkan secara berkala.

“Potensi PLTS di Cilacap cukup besar dan visibilitas pengembangannya juga baik. Infrastruktur pendukung energi angin juga mulai siap untuk dikembangkan,” tambahnya.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

PHE dan Pupuk Indonesia Garap Low Carbon Amonia Lewat CCS

PHE dan Pupuk Indonesia Garap Low Carbon Amonia Lewat CCS

OJK Optimistis Revisi Aturan Bakal Genjot Transaksi Bursa Karbon

OJK Optimistis Revisi Aturan Bakal Genjot Transaksi Bursa Karbon

Strategi Perluasan TOWR: Fokus ke Pusat Data dan Energi Terbarukan

Strategi Perluasan TOWR: Fokus ke Pusat Data dan Energi Terbarukan

Pemkab Pulang Pisau Mengajukan PLTS Komunal untuk Daerah Terisolir

Pemkab Pulang Pisau Mengajukan PLTS Komunal untuk Daerah Terisolir

Waka MPR Diskusikan Investasi EBT Bersama Petinggi Temasek

Waka MPR Diskusikan Investasi EBT Bersama Petinggi Temasek