OJK dan UIN RIL Gelar Sosialisasi Perdagangan Karbon
- Selasa, 19 Mei 2026
Bandar Lampung – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersinergi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Perdagangan Karbon di Bursa Karbon.
Acara tersebut dilangsungkan di Ballroom UIN RIL pada Senin (18/05/2026) dengan dihadiri oleh civitas akademika, mahasiswa, pelaku industri, serta para tamu undangan yang memadati lokasi.
Saat menyampaikan keynote speech, Rektor UIN RIL, Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D., mengutarakan apresiasinya kepada pihak OJK atas kemitraan dan kolaborasi yang terjalin dengan UIN RIL dalam menyelenggarakan agenda ini.
Baca Juga
“Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atas sinergi dan kolaborasi yang dibangun bersama UIN Raden Intan Lampung dalam pelaksanaan kegiatan ini. Kerja sama ini merupakan langkah penting dalam memperkuat literasi masyarakat terhadap isu-isu strategis global, khususnya ekonomi hijau, keuangan berkelanjutan dan perdagangan karbon,” ujarnya.
Menurut Rektor, UIN Raden Intan Lampung menjadi lokasi yang sangat tepat untuk mengadakan sosialisasi ini karena semenjak beralih status dari IAIN menjadi UIN pada tahun 2017, perguruan tinggi ini konsisten mengimplementasikan konsep kampus hijau yang ramah lingkungan.
Hal tersebut, kata ia, dibuktikan lewat komitmen penuh dari seluruh sivitas akademika dalam melestarikan lingkungan hidup. Ia menambahkan bahwa sejak tahun 2018, UIN RIL terus mempertahankan posisi teratas di lingkungan PTKIN dalam pemeringkatan UI GreenMetric.
Rektor juga memberikan sorotan terhadap tantangan global seperti perubahan iklim, kerusakan lingkungan, serta kenaikan emisi karbon yang memerlukan penyelesaian secara kolaboratif antara pemerintah, sektor industri, lembaga keuangan, dan dunia keperguruan tinggi.
“Kehadiran bursa karbon menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung upaya mengurangi emisi, sekaligus membuka peluang ekonomi baru yang berbasis berkelanjutan,” katanya.
Prof. Wan memastikan bahwa perguruan tinggi mengemban tanggung jawab moral serta akademik untuk menyokong pembangunan berkelanjutan lewat jalur pendidikan, riset, pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menumbuhkan kesadaran di kalangan generasi muda.
Sebagai sebuah perguruan tinggi keagamaan Islam, ia melanjutkan, UIN RIL menilai bahwa aktivitas menjaga kelestarian alam sangat selaras dengan prinsip-prinsip Islam yang memosisikan manusia sebagai khalifah di bumi.
“Oleh karena itu penguatan wawasan mengenai bursa karbon dan ekonomi hijau tidak hanya bernilai ekonomis, tetapi juga memiliki dimensi etik dan spiritual dalam menjaga keberlangsungan kehidupan,” ujarnya.
Rektor menghendaki agar program ini mampu menyajikan pemahaman yang menyeluruh seputar sistem kerja bursa karbon, prospek pengembangannya di tanah air, serta andil dari para akademisi dan mahasiswa dalam mengawal transisi menuju ekonomi berkelanjutan.
Di sisi lain, Kepala Departemen Pengawasan Keuangan Derivatif, Bursa Karbon, Transaksi Efek, dan Pemeriksaan Khusus OJK, I Nyoman Suka Yasa, mengemukakan bahwa sosialisasi ini menjadi bagian dari program berkala OJK guna memacu tingkat literasi serta inklusi masyarakat pada sektor jasa keuangan dan pasar modal.
Ia menguraikan bahwa dalam rangkaian acara selama dua hari di Lampung, OJK bersama mitra terkait juga melangsungkan agenda lainnya, termasuk sosialisasi obligasi daerah yang dihadiri langsung oleh Gubernur Lampung serta sosialisasi investasi reksadana.
“Literasi dan inklusi itu sesuatu yang harus mutlak kami miliki. Inklusi saja tanpa literasi bisa menjadi bumerang karena ketika terjun ke industri jasa keuangan tanpa memahami risikonya, maka bisa menimbulkan persoalan seperti judi online, scamming dan lain sebagainya,” kata Nyoman.
Menurut ia, mekanisme perdagangan karbon saat ini tengah menjadi pusat perhatian di tingkat nasional maupun internasional sebagai alat krusial demi mendukung manajemen perubahan iklim serta pemenuhan target net zero emission Indonesia pada tahun 2060 atau bahkan lebih awal.
Ia menjabarkan bahwa lewat perdagangan karbon, perusahaan atau pelaku usaha yang mampu menekan emisi bisa memperoleh keuntungan ekonomi dari unit karbon yang diproduksi. Sebaliknya, pihak lain dapat melakukan pembelian unit karbon tersebut untuk memenuhi target reduksi emisi mereka secara valid dan transparan.
Ia pun melihat bahwa Provinsi Lampung menyimpan potensi yang melimpah dalam sektor pengembangan perdagangan karbon, terutama dari bidang kehutanan serta tata guna lahan berkelanjutan. Kendati demikian, sampai saat ini baru ada satu pengguna jasa karbon yang terdaftar dari wilayah Lampung.
“Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang mengingat Lampung memiliki potensi besar untuk dikembangkan baik melalui skema nature based solution pada sektor kehutanan dan perkebunan maupun teknologi based solution melalui pengolahan limbah dan efisiensi industri,” katanya.
Melalui edukasi ini, OJK menaruh harapan agar Provinsi Lampung mampu mengambil peran sebagai salah satu penggerak utama dalam perluasan perdagangan karbon di area Sumatera dan kawasan Indonesia bagian barat.
Nyoman pun menitikberatkan besarnya prospek perdagangan karbon bagi dunia akademik dan mahasiswa, khususnya dalam ranah riset, penemuan inovasi, serta peningkatan mutu sumber daya manusia di bidang ekonomi hijau dan pembiayaan berkelanjutan.
Menurut ia, universitas memegang peran yang strategis untuk menyusun metodologi, kajian ilmiah, hingga masukan kebijakan demi menyokong ekosistem perdagangan karbon domestik, termasuk pemanfaatan instrumen modern seperti artificial intelligence, blockchain, remote sensing, hingga digitalisasi MRV untuk keperluan pencatatan serta validasi unit karbon.
Agenda ini turut dihadiri oleh Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung Otto Fitriandy, Kepala Direktorat Analisis Informasi dan Manajemen Krisis Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Bayu Samodro, Wakil Ketua Umum Bidang Perbankan dan Lembaga Keuangan Non Bank Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Lampung Irfan Gani, S.E., M.M., beserta jajaran pengurus KADIN Provinsi Lampung dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).
Turut hadir pula jajaran Wakil Rektor, Direktur Pascasarjana, para Dekan, Wakil Dekan, dosen, tenaga kependidikan, serta para mahasiswa dari FEBI UIN RIL maupun perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Lampung.
Adapun jajaran pembicara yang mengisi materi dalam sosialisasi ini antara lain Eko Nugroho, Perencana Ahli Muda Direktorat Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup yang mengulas materi Optimalisasi Nilai Ekonomi Karbon: Memperkuat Integritas Data SRUK dalam Ekosistem Pasar Karbon Global.
Selanjutnya ada Putri Rafika Dewi selaku Kepala Subbagian Sustainable Finance and Climate Solutions PT Sucofindo, yang menguraikan materi Memastikan Kredibilitas Unit Karbon: Implementasi Prinsip MRV (Monitoring, Reporting, Verification) yang Akuntabel.
Di samping itu, Puspita Pratiwi perwakilan dari Tim Pengembangan Carbon Trading dan Inisiatif Baru IDX turut menjabarkan bahasan mengenai Peran Bursa Karbon dan Mekanisme Transaksi Karbon melalui Bursa. (An/NF)
Ferdi Tri Nor Cahyo
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026












