Senin, 18 Mei 2026

Blokade Minyak AS Perparah Krisis Energi Nasional di Negara Kuba

Blokade Minyak AS Perparah Krisis Energi Nasional di Negara Kuba
Orang-orang bekerumun sepanjang tepi laut Havana untuk memperingati Hari Buruh Internasional di Platform Anti-Imperialis di depan Kedutaan Besar AS di Havana pada 1 Mei 2026. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Krisis energi yang melanda Kuba semakin memburuk menyusul kebijakan Amerika Serikat (AS) yang menutup akses pasokan minyak ke negara tersebut.

Wilayah kepulauan ini harus menghadapi situasi pemadaman listrik masal di seluruh negeri yang terjadi secara berkesinambungan akibat pembatasan bahan bakar oleh Presiden AS Donald Trump.

Selama masa penghentian pasokan energi oleh pihak AS, tercatat hanya ada satu kapal pengangkut minyak asal Rusia, yang dikenal sebagai mitra tradisional otoritas Kuba, yang sanggup merapat.

Baca Juga

Ekspansi Global, Pertamina NRE Incar Proyek Surya di Bangladesh

"Dan minyak itu kini telah habis. Dampak blokade memang sangat merugikan kami karena kami masih belum menerima bahan bakar," kata Menteri Energi Vicente de la O Levy kepada televisi pemerintah, dikutip AFP, Sabtu (16/5).

Melalui sebuah pernyataan di media sosial X, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mendesak pihak Washington untuk menghentikan langkah blokade tersebut.

"Kerusakan itu bisa dikurangi dengan cara yang jauh lebih sederhana dan cepat, yakni dengan mencabut atau melonggarkan blokade, karena diketahui situasi kemanusiaan ini dihitung dan diciptakan dengan dingin," katanya.

Kendati situasi geopolitik kian memanas, komunikasi antarpemerintah kedua negara masih berjalan melalui dialog diplomatik tingkat tinggi di Havana pada 10 April, yang menandai pendaratan pertama armada udara resmi pemerintah AS di sana sejak satu dekade silam.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) John Ratcliffe melangsungkan kunjungan ke negara penentang AS tersebut pada Kamis pekan lalu di tengah pusaran krisis energi.

Kedatangan tersebut menjadi indikasi adanya eskalasi komunikasi yang tidak biasa antara pihak Washington dan Havana, tepat ketika negara berhaluan komunis itu mengalami tekanan masif dari AS dan mengaku telah kehabisan stok bahan bakar.

Otoritas CIA pun membenarkan informasi dari pemerintah Kuba terkait agenda kedatangan Ratcliffe tersebut.

Dokumentasi foto yang disebarkan CIA lewat akun X memperlihatkan Ratcliffe bersama sejumlah individu yang identitas wajahnya disamarkan tengah berdialog dengan Ramon Romero Curbelo selaku Kepala Intelijen Kementerian Dalam Negeri Kuba serta jajaran pejabat setempat.

Di sisi lain, pihak Kuba menganggap lawatan Ratcliffe tersebut sebagai sebuah momentum yang baik guna meredakan ketegangan bilateral.

"Pertemuan dengan Ratcliffe berlangsung dalam konteks yang ditandai oleh kompleksitas hubungan bilateral, dengan tujuan berkontribusi terhadap dialog politik antara kedua negara," tulis pernyataan Pemerintah Kuba.

Aparat pemerintah Kuba turut menambahkan bahwa dialog bersama Ratcliffe menjadi kesempatan untuk menegaskan secara gamblang bahwa negara mereka bukan merupakan ancaman bagi sistem keamanan nasional AS.

Langkah ini sekaligus menegaskan tidak adanya dasar yang valid untuk memasukkan Kuba ke dalam daftar hitam negara yang dituding menyokong aksi terorisme.

"Kuba tidak pernah mendukung aktivitas bermusuhan apa pun terhadap Amerika Serikat," imbuh pernyataan itu.

Pada hari Kamis yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyodorkan dana bantuan finansial bernilai US$100 juta.

Syarat penyaluran dana tersebut wajib dilaksanakan melalui lembaga Gereja Katolik dan sepenuhnya melompati jalur birokrasi pemerintahan Kuba.

Saat diwawancarai, Rubio menyematkan kesalahan pada pihak Kuba atas segala kesulitan yang kini dihadapi masyarakat di pulau itu akibat imbas isolasi energi oleh AS.

"Rakyat Kuba harus tahu ada bantuan makanan dan obat-obatan senilai US$100 juta yang tersedia bagi mereka saat ini. Ini adalah kepentingan nasional kami untuk memiliki Kuba yang makmur, bukan negara gagal yang berjarak 90 mil dari pantai kami," katanya.

Donald Trump diketahui sudah berulang kali memberikan indikasi kuat mengenai ambisinya untuk meruntuhkan kekuasaan rezim komunis di Kuba.

Dalam laporan, seorang narasumber resmi dari internal pemerintah AS yang enggan diungkap identitasnya membeberkan bahwa kabinet Trump tengah mengupayakan tuntutan hukum terhadap Raul Castro.

Raul Castro sendiri merupakan saudara kandung dari mendiang tokoh revolusioner Kuba, Fidel Castro, yang saat ini telah menginjak usia 94 tahun.

Salah satu pilar terakhir yang menyokong stabilitas perekonomian Kuba runtuh total pada Januari kemarin, saat militer AS menangkap dan menurunkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari takhtanya.

Setelah berhasil mendominasi negara pemilik cadangan minyak terbesar di dunia tersebut, pihak Amerika Serikat langsung menerapkan sanksi blokade distribusi bahan bakar terhadap Kuba.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Pertamina NRE Gandeng CUSP Bangladesh Dorong Transisi Energi

Pertamina NRE Gandeng CUSP Bangladesh Dorong Transisi Energi

Pakar SCU Desak Pembatasan PLTU di Jateng dan Beralih ke EBT

Pakar SCU Desak Pembatasan PLTU di Jateng dan Beralih ke EBT

Kementerian Vietnam Setujui Tarif Maksimum Listrik Air 2026

Kementerian Vietnam Setujui Tarif Maksimum Listrik Air 2026

Kemenperin-Perdagangan Tetapkan Tarif Baru PLTA 2026

Kemenperin-Perdagangan Tetapkan Tarif Baru PLTA 2026

Sinergi PLN-Pemkab Sambas Percepat Pertanian Modern Berkelanjutan

Sinergi PLN-Pemkab Sambas Percepat Pertanian Modern Berkelanjutan