Kamis, 14 Mei 2026

Laba Shell Melonjak Jadi USD6,92 Miliar Dipicu Konflik Iran

Laba Shell Melonjak Jadi USD6,92 Miliar Dipicu Konflik Iran
Tangki minyak Shell, (Foto:NET)

LONDON – Shell Plc melaporkan lonjakan laba pada kuartal I-2026 yang didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas (migas) akibat pecahnya perang Iran. Konflik tersebut memicu peningkatan volatilitas pasar yang menguntungkan lini bisnis perdagangan migas skala besar milik Shell.

Berdasarkan pernyataan resmi perusahaan yang berbasis di London tersebut, laba bersih yang disesuaikan merangkak naik menjadi US$6,92 miliar. Angka ini melampaui estimasi median analis yang dikumpulkan Bloomberg sebesar US$6,1 miliar.

Selain itu, margin bisnis kilang Shell turut terkerek seiring melonjaknya harga bahan bakar. Di sisi lain, perusahaan memutuskan untuk memangkas pembelian kembali saham triwulanan menjadi US$3 miliar dari posisi sebelumnya sebesar US$3,5 miliar.

Baca Juga

Kebijakan Cofiring Biomassa DitaksirHanya Perpanjang Umur PLTU

Total produksi migas Shell mengalami penurunan 4% jika dibandingkan dengan kuartal IV-2025. Penurunan ini terutama disebabkan oleh dampak konflik Iran terhadap volume produksi perusahaan di Qatar. Shell memprediksi produksi pada kuartal kedua masih akan menurun akibat penutupan efektif Selat Hormuz serta tingginya aktivitas pemeliharaan terencana.

Perang telah mengakibatkan kerusakan aset migas di Timur Tengah dan hampir menghentikan seluruh pengiriman dari kawasan tersebut, yang memicu lonjakan harga energi. Situasi ini menguntungkan perusahaan raksasa Eropa yang memiliki meja perdagangan besar untuk mengelola pergerakan pasar tersebut.

Harga minyak Brent tercatat meningkat lebih dari 50% sejak awal konflik pada Februari lalu. Namun, harga mulai turun dari level tertingginya dan berada di kisaran US$101 per barel pada Kamis (7/5/2026) menyusul laporan bahwa AS dan Iran mendekati kesepakatan damai.

Meskipun Shell tidak merinci pendapatan dari operasi perdagangannya, performa di sektor ini diyakini meningkat tajam. Divisi Kimia dan Produk mencatatkan pendapatan disesuaikan sebesar US$1,93 miliar, naik drastis dari US$449 juta pada periode yang sama tahun lalu. Margin kilang minyak indikatif Shell juga naik menjadi US$17 per barel dari sebelumnya US$14.

Gangguan akibat perang menciptakan dislokasi di pasar energi yang menguntungkan para pedagang komoditas. Shell menjadi perusahaan migas Barat terakhir yang melaporkan kinerja triwulanan, menyusul pesaing Eropa lainnya seperti BP Plc dan TotalEnergies SE yang juga membukukan lonjakan laba.

Untuk rencana ke depan, Shell menargetkan belanja modal antara US$24 miliar hingga US$26 miliar tahun ini. Angka tersebut lebih tinggi dari proyeksi awal di kisaran US$20 miliar hingga US$22 miliar, yang mencakup alokasi sekitar US$4 miliar untuk akuisisi ARC Resources Ltd.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Perubahan Paradigma: Energi Nuklir Tidak Lagi Pilihan Terakhir

Perubahan Paradigma: Energi Nuklir Tidak Lagi Pilihan Terakhir

Pemerintah Tingkatkan Kapasitas Simpan BBM guna Transisi Energi

Pemerintah Tingkatkan Kapasitas Simpan BBM guna Transisi Energi

Pertamina Edukasi Pelajar Terkait Transisi Energi Melalui Program SEB

Pertamina Edukasi Pelajar Terkait Transisi Energi Melalui Program SEB

Kebijakan Cofiring Biomassa Diperkirakan Hanya Perpanjang Umur PLTU

Kebijakan Cofiring Biomassa Diperkirakan Hanya Perpanjang Umur PLTU

PLN IP Integrasikan PLTS dengan Pasar Karbon Lewat Strategi Beyond kWh

PLN IP Integrasikan PLTS dengan Pasar Karbon Lewat Strategi Beyond kWh