Kamis, 14 Mei 2026

Target PNBP Minerba 2026 Berisiko Meleset Akibat Pertambangan Lesu

Target PNBP Minerba 2026 Berisiko Meleset Akibat Pertambangan Lesu
Ilustrasi Tambang emas dan perak Martabe. (Foto:NET)

JAKARTA – Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) memberikan peringatan bahwa target setoran penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara (minerba) tahun ini berisiko tidak tercapai. Kondisi tersebut dipicu oleh kinerja industri pertambangan yang mengalami kontraksi cukup mendalam pada kuartal I-2026.

Ketua Dewan Penasihat Perhapi, Rizal Kasli, menilai lesunya aktivitas tambang di awal tahun berpotensi membuat realisasi PNBP minerba hanya menyentuh 90% dari target Rp134 triliun. Menurutnya, produksi emas PT Freeport Indonesia (PTFI) mengalami penurunan akibat dampak longsor tahun lalu, ditambah pengurangan produksi batu bara yang signifikan sebesar 150 juta ton menjadi 600 juta ton.

Mengenai pemangkasan kuota produksi dalam RKAB 2026, Rizal memproyeksikan kebijakan ini akan memicu efisiensi alat berat serta pengurangan tenaga kerja.

Baca Juga

Kebijakan Cofiring Biomassa DitaksirHanya Perpanjang Umur PLTU

“Tujuan pemerintah mengurangi kuota produksi lebih kepada menjaga kestabilan harga komoditas akibat oversupply di pasar global. Namun, dampaknya terasa juga kepada cashflow dan keuntungan perusahaan,” jelas Rizal, Kamis (7/5/2026).

Ia menambahkan, “Untuk target PNBP yang sebesar Rp134 triliun kemungkinan tercapai sekitar Rp120—Rp130 triliun atau 90%—97% dari target.”

Rizal memperkirakan setoran royalti batu bara dengan asumsi produksi 600 juta ton dapat mencapai Rp90 triliun. Ia juga menggarisbawahi bahwa pasar batu bara sebenarnya tidak lesu karena ketegangan di Timur Tengah justru memicu kenaikan permintaan.

“Filipina dikabarkan menambah pesanan batu bara dari Indonesia. Harga batu bara juga melonjak karena faktor tersebut,” terang Rizal.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan ekonomi nasional triwulan I-2026 mencapai 5,61% (yoy). Namun, industri pertambangan justru mengalami kontraksi hingga 21,4%. Kementerian ESDM sendiri telah menurunkan target produksi batu bara tahun ini menjadi 600 juta ton dari realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 790 juta ton.

Sementara itu, APBI mencatat ekspor batu bara kuartal I-2026 sebesar 112 juta ton, merosot 10,5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Pelemahan ini dipengaruhi penurunan serapan dari China dan India. Meskipun target PNBP naik menjadi Rp134 triliun, kondisi pasar dan kebijakan kuota menjadi tantangan besar untuk mengulang kesuksesan tahun lalu yang mencapai realisasi 108,56%.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Perubahan Paradigma: Energi Nuklir Tidak Lagi Pilihan Terakhir

Perubahan Paradigma: Energi Nuklir Tidak Lagi Pilihan Terakhir

Pemerintah Tingkatkan Kapasitas Simpan BBM guna Transisi Energi

Pemerintah Tingkatkan Kapasitas Simpan BBM guna Transisi Energi

Pertamina Edukasi Pelajar Terkait Transisi Energi Melalui Program SEB

Pertamina Edukasi Pelajar Terkait Transisi Energi Melalui Program SEB

Kebijakan Cofiring Biomassa Diperkirakan Hanya Perpanjang Umur PLTU

Kebijakan Cofiring Biomassa Diperkirakan Hanya Perpanjang Umur PLTU

PLN IP Integrasikan PLTS dengan Pasar Karbon Lewat Strategi Beyond kWh

PLN IP Integrasikan PLTS dengan Pasar Karbon Lewat Strategi Beyond kWh