Rekomendasi Saham dan Arah Pergerakan IHSG Hari Ini, Rabu 21 Januari 2026
- Rabu, 21 Januari 2026
JAKARTA - Rekor tertinggi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali tercipta menjadi sinyal optimisme sekaligus peringatan bagi pelaku pasar. Setelah mencatatkan all time high (ATH) di level 9.134 pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026, IHSG kini dihadapkan pada tantangan lanjutan: apakah mampu melanjutkan reli, atau justru memasuki fase koreksi sehat.
Momentum penguatan indeks memang masih terasa, namun dinamika pasar menunjukkan pergerakan yang semakin selektif. Sejumlah analis menilai bahwa meskipun peluang kenaikan tetap terbuka, investor perlu mencermati potensi tekanan jual jangka pendek seiring tercapainya target teknikal sebelumnya. Dengan kondisi tersebut, perdagangan Rabu, 21 Januari 2026 diperkirakan akan berlangsung dinamis dengan kecenderungan fluktuatif.
Peluang Penguatan dan Area Teknis yang Perlu Dicermati
Baca JugaSaham Emiten Emas Menguat Seiring Lonjakan Harga Emas Dunia Mendekati Rekor
Tim Analis MNC Sekuritas mencatat IHSG ditutup menguat tipis 0,01% ke level 9.134 pada perdagangan sebelumnya. Namun, penguatan tersebut disertai munculnya tekanan jual karena area target yang telah ditentukan sebelumnya berhasil disentuh.
“Waspadai adanya potensi koreksi lanjutan ke area 9.088–9.106 yang masih merupakan bagian dari wave (v) dari wave [iii]. Adapun area penguatan selanjutnya berada di rentang 9.192–9.229,” tulis Tim Analis MNC Sekuritas.
Secara teknikal, level support IHSG diperkirakan berada di kisaran 9.088 dan 8.956. Sementara itu, area resistansi berada pada rentang 9.192 hingga 9.227. Rentang tersebut menjadi titik krusial yang akan menentukan arah pergerakan indeks dalam jangka pendek, apakah mampu menembus level lebih tinggi atau mengalami koreksi terbatas.
Saham Pilihan Analis untuk Perdagangan Hari Ini
Di tengah kondisi pasar yang cenderung selektif, MNC Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati investor. Emiten yang masuk dalam daftar pantauan antara lain PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES), PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), serta PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP).
Rekomendasi tersebut mempertimbangkan faktor teknikal maupun sentimen sektoral yang masih mendukung. Saham-saham berbasis komoditas dan ekspor dinilai memiliki daya tahan lebih baik, terutama di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang masih berada dalam tekanan. Investor disarankan tetap disiplin dalam manajemen risiko dengan memperhatikan level support dan resistansi masing-masing saham.
Rupiah Melemah, Pasar Saham Tetap Bertahan
Menariknya, penguatan IHSG terjadi di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan adanya pergeseran fokus investor ke instrumen ekuitas, meskipun volatilitas global dan ketidakpastian moneter masih membayangi.
Head of Research RHB Sekuritas Andrey Wijaya menilai bahwa secara keseluruhan, IHSG pada 2026 masih berada dalam tren yang konstruktif. Ia menyebutkan target base case IHSG berada di level 9.400, sementara optimist case mencapai 10.200.
Prospek tersebut didukung oleh pemulihan laba emiten, perbaikan margin di sejumlah sektor utama, pelonggaran kondisi keuangan domestik, serta premi pertumbuhan Indonesia yang relatif menarik dibandingkan negara-negara emerging markets lainnya.
“Meski volatilitas global tetap menjadi risiko, arah jangka menengah IHSG masih positif selama stabilitas makro dan kredibilitas kebijakan tetap terjaga,” ujar Andrey.
Namun demikian, Andrey menilai ruang penguatan rupiah cenderung terbatas. Permintaan struktural terhadap dolar AS, ketidakpastian arah suku bunga global, serta kecenderungan investor asing melakukan lindung nilai membatasi potensi penguatan mata uang domestik. Oleh karena itu, tahun 2026 lebih tepat dipandang sebagai fase optimisme berbasis ekuitas dengan kehati-hatian di sisi nilai tukar.
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Sektor Saham
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai bahwa pelemahan rupiah justru dapat menjadi sentimen positif bagi saham-saham berorientasi ekspor. Sebaliknya, emiten yang bergantung pada impor berpotensi menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya produksi.
Pandangan senada disampaikan Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan. Menurutnya, sektor komoditas dan ekspor seperti emas, nikel, batu bara, serta crude palm oil (CPO) berpeluang diuntungkan jika rupiah terus melemah, terutama bagi emiten dengan pendapatan berbasis dolar dan struktur biaya dalam rupiah.
“Sebaliknya, sektor yang bergantung pada impor, seperti consumer goods tertentu, farmasi, dan manufaktur dengan bahan baku impor, berpotensi tertekan akibat kenaikan biaya dan tekanan margin,” tutur Ekky.
Sementara itu, dampak pelemahan rupiah terhadap sektor perbankan dinilai relatif netral secara fundamental. Meski demikian, besarnya porsi kepemilikan asing membuat saham perbankan tetap sensitif terhadap pergerakan arus modal asing, sehingga volatilitas masih mungkin terjadi.
Dengan kombinasi sentimen teknikal, makroekonomi, serta pergerakan nilai tukar, pelaku pasar diharapkan tetap selektif dan disiplin dalam mengambil keputusan investasi pada perdagangan hari ini.
Mazroh Atul Jannah
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Saham Emiten Emas Menguat Seiring Lonjakan Harga Emas Dunia Mendekati Rekor
- Rabu, 21 Januari 2026
Rekomendasi Bebek Lezat dan Terjangkau di Kuningan, Favorit Pelajar dan Mahasiswa
- Rabu, 21 Januari 2026
Kopi Lemon untuk Diet: Benarkah Efektif Membantu Menurunkan Berat Badan?
- Rabu, 21 Januari 2026
Kinerja Pariwisata Nasional 2025 Lampaui Target, Kunjungan Wisman dan Devisa Menguat
- Rabu, 21 Januari 2026
Berita Lainnya
Asei Siapkan Strategi Jaga Laba Berkelanjutan di Tengah Tantangan 2026
- Rabu, 21 Januari 2026
OJK dan Kejaksaan RI Perkuat Sinergi Penanganan Perkara Keuangan Nasional
- Rabu, 21 Januari 2026
Menkeu Purbaya Siap Evaluasi Anggaran Program Makan Bergizi Gratis Pekan Depan
- Rabu, 21 Januari 2026





.jpg)







