Pakar SCU Desak Pembatasan PLTU di Jateng dan Beralih ke EBT

Senin, 18 Mei 2026 | 16:05:52 WIB
Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di Cilacap, Provinsi Jawa Tengah. (Sumber Foto: ANTARAnews.com)

SEMARANG - Penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) di area Jawa Tengah dinilai masih jauh dari kata optimal.

Pemerintah baik di tingkat daerah maupun pusat didesak untuk segera membatasi operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara, mengingat ketersediaan pasokan listrik di wilayah tersebut sebenarnya sudah mengalami surplus atau melebihi dari total kebutuhan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pakar Lingkungan dari Universitas Katolik Soegijapranata (SCU) Semarang, Benny Danang Setianto.

Ia menegaskan bahwa dalam kondisi pasokan daya yang sudah berlebih, melanjutkan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar fosil sudah tidak lagi sejalan dengan kebutuhan dan justru memperparah kerusakan bagi lingkungan sekitar.

"Saya tidak menentang langsung bahwa PLTU harus ditutup, tetapi please, perhatikanlah kondisi-kondisi semacam ini. Ya, kalau memang sudah kelebihan energi, ngapain dibangun lagi? Kalau perlu malah agak di-shutdown, mulai beralihlah ke energi-energi lain," ujar Benny saat memberikan keterangan setelah acara diskusi lingkungan di Pringsewu, Kota Lama Semarang, Sabtu (16/5/2026).

Benny sangat menyayangkan munculnya pandangan skeptis yang mengkhawatirkan pasokan daya tidak akan mencukupi jika ketergantungan pada bahan bakar fosil dikurangi.

Menurut pandangannya, Jawa Tengah dibekali dengan potensi sumber energi alternatif yang sangat masif, akan tetapi hingga saat ini pemanfaatannya masih belum digarap secara maksimal (underutilized).

Ia memaparkan data terkait potensi panas bumi (geotermal) di Jawa Tengah yang hingga detik ini baru terserap di kisaran sembilan persen saja.

Tak hanya panas bumi, potensi energi angin atau bayu yang membentang luas di sepanjang kawasan Pantai Utara dan Pantai Selatan Jawa Tengah juga terkesan kurang mendapat perhatian serius.

"Loh, enggak ada, enggak mungkin enggak mencukupi. Saya justru mengatakan tadi kami punya sumber-sumber energi lain yang masih underutilized. Loh, geotermal itu banyak banget. Kami baru 9 persen. Meskipun ada pro-kontra, semua tindakan kami kan punya konsekuensi terhadap alam, enggak mungkin (tidak ada dampak)," jelasnya.

Selain itu, ia pun melayangkan kritik terhadap lambatnya transisi ke energi angin yang perkembangannya terkesan stagnan dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir.

"Energi angin belum kami garap secara serius. Itu pembangkit listrik tenaga bayu itu di pinggiran-pinggiran pantai itu belum ada 1 persen total kalau data yang dikeluarkan kementerian sendiri loh, Kementerian ESDM tahun 2021, dan belum banyak berubah sampai sekarang," imbuh Benny.

Terkini