Penggunaan Energi Panas Bumi untuk Inovasi Kopi Canaya

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 02 Juli 2026
Penggunaan Energi Panas Bumi untuk Inovasi Kopi Canaya
Proses pengeringan kopi Canaya menggunakan energi panas bumi di fasilitas Kamojang. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Di sebuah ruang kolaborasi energi bersih di Jakarta, secangkir kopi kini memiliki makna lebih dari sekadar minuman. Ia menjadi bagian dari sistem yang mendalam: uap bumi yang diubah menjadi nilai ekonomi, teknologi yang bersinergi dengan desa, serta petani yang terlibat dalam arsitektur transisi energi nasional.

Kopi bernama Canaya diperkenalkan sebagai wajah baru inovasi panas bumi Indonesia. Produk binaan Koperasi Pemasaran Bersama Kanyaah Kamojang (KOPBASHKA) ini lahir dari kolaborasi bersama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk melalui program Geothermal Coffee Process (GCP), yang memanfaatkan panas bumi bukan hanya untuk listrik, tetapi juga untuk proses pengeringan kopi.

“Melalui inovasi seperti Geothermal Coffee Process, kami ingin menunjukkan bahwa energi panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik,” ujar Ahmad Yani, Direktur Utama PGE. “Tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.”

Pernyataan itu menjadi narasi baru bahwa energi tidak hanya berhenti di gardu pembangkit, tetapi bergerak hingga ke ladang kopi di kaki Kamojang. Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menempatkan proyek ini sebagai bagian dari ekosistem transisi energi yang inklusif.

Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, menyebut ruang seperti RECHARGE – Green Brew Space sebagai “bukti bahwa sektor energi dapat berkontribusi langsung pada pemberdayaan masyarakat.”

Perubahan paling nyata terjadi di ruang pengeringan kopi. Melalui sistem heat exchanger, panas bumi dari fasilitas Kamojang dialirkan untuk menjaga suhu dan kelembapan pengeringan biji kopi secara konstan. Proses yang biasanya memakan waktu 30–40 hari kini dipangkas menjadi hanya 3–10 hari.

“Dengan suhu dan kelembapan yang terjaga 24 jam, kualitas biji kopi lebih bersih, seragam, dan minim cacat rasa,” ujar Novi Purwono, General Manager PGE Area Kamojang. “Cita rasa manis buah dan keasaman khas Arabika Kamojang tetap terjaga.”

Di tingkat petani, dampaknya sangat terasa. Lebih dari 300 petani kini terlibat dalam rantai produksi Canaya, dengan harga beli ceri kopi meningkat menjadi Rp17.000–Rp18.000 per kilogram. Kopi Canaya kini tidak hanya beredar di pasar domestik, tetapi juga telah menembus pasar ekspor ke Jerman dan Jepang.

Dalam lanskap yang lebih luas, proyek ini menjadi bagian dari strategi dekarbonisasi, mengurangi ketergantungan pada pengering berbahan bakar fosil. 

Selain mengantarkan PGE Area Kamojang meraih penghargaan ASEAN Renewable Energy Project Awards 2024, Canaya berdiri sebagai simbol transformasi besar bahwa energi bersih bukan hanya soal megawatt, melainkan juga kehidupan yang ikut menghangat di sekitarnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua