Kokohkan Ekonomi RI: Integrasi Energi Terbarukan dan Pertanian

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 02 Juli 2026
Kokohkan Ekonomi RI: Integrasi Energi Terbarukan dan Pertanian
Ilustrasi Pekerja memeriksa panel surya. (Sumber Foto: antaranews.com)

JAKARTA - Dunia kini memasuki babak baru pembangunan ekonomi. Krisis energi akibat konflik geopolitik, perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, hingga kompetisi teknologi telah mengubah perspektif negara dalam memandang pembangunan nasional. 

Jika dulu pertumbuhan ekonomi bergantung pada sumber daya alam, kini daya saing bangsa lebih ditentukan oleh integrasi sumber daya, teknologi, inovasi, dan kualitas sumber daya manusia ke dalam sistem ekonomi yang adaptif.

Sarasehan Kebangsaan bertema Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Bangsa yang berlangsung pada 26-28 Juni 2026 menjadi momentum untuk merefleksikan arah pembangunan Indonesia. 

Gagasan Presiden mengenai perlunya meninggalkan pendekatan sektoral menuju pembangunan sistemik adalah pengakuan bahwa tantangan abad ke-21 jauh lebih kompleks. Pangan, energi, industri, investasi, pendidikan, dan teknologi tidak lagi bisa diselesaikan secara parsial karena seluruh sektor tersebut saling bergantung.

Pesan tersebut mengandung makna yang lebih dalam dari sekadar koordinasi kementerian; Indonesia memerlukan transformasi paradigma pembangunan. Energi dan pertanian tidak boleh lagi dipandang sebagai komoditas tunggal. 

Keduanya harus diposisikan sebagai fondasi ekosistem industri nasional yang mampu menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Indonesia memiliki hampir seluruh prasyarat menjadi kekuatan ekonomi hijau dunia, namun ironinya, kekayaan sumber daya tersebut belum dikonversi menjadi keunggulan ekonomi berkelanjutan. 

Persoalan utamanya bukan kekurangan sumber daya, melainkan lemahnya integrasi antar sektor. Banyak ekonom menyebut fenomena ini sebagai resource-rich but system-poor.

Paradoks ini terlihat nyata pada sektor energi dan pertanian. Limbah pertanian yang mencapai puluhan juta ton per tahun seringkali terbuang, padahal merupakan sumber energi terbarukan yang potensial. 

Paradigma pembangunan pertanian perlu bergeser dari sekadar food producer menjadi food and energy producer. Konsep Agro-Energy System harus ditempatkan sebagai kerangka pembangunan nasional, di mana sektor pertanian menjadi bagian integral dari rantai industri energi terbarukan.

Dengan pendekatan cascade utilization, pemanfaatan biomassa dapat dilakukan secara berlapis agar hampir tidak ada limbah terbuang.

Keberhasilan hilirisasi ini membutuhkan inovasi teknologi dari perguruan tinggi yang didukung kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Kemandirian ekonomi pada akhirnya ditentukan oleh kemampuan mengelola sumber daya secara inovatif. 

Transformasi energi terbarukan dan hilirisasi pertanian adalah dua strategi pelengkap untuk mengubah kekayaan alam menjadi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan bagi Indonesia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua