Transisi Energi Global: Energi Terbarukan Resmi Melewati Batu Bara

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Kamis, 28 Mei 2026
Transisi Energi Global: Energi Terbarukan Resmi Melewati Batu Bara
Energi bersih dan terbarukan seperti tenaga angin dan matahari semakin murah. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Untuk kali pertama dalam lebih dari satu abad, energi terbarukan berhasil melampaui batu bara dalam komposisi pembangkit listrik global. Pencapaian ini merupakan tonggak sejarah penting dalam transisi energi dunia yang selama beberapa dekade terakhir masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Data terbaru dari lembaga riset energi global independen, Ember, menunjukkan bahwa energi terbarukan menyumbang 33,8% listrik global sepanjang 2025, sedikit mengungguli batu bara yang mencatatkan angka 33,0%. Ini menjadi momen bersejarah sejak tahun 1919 di mana energi bersih kembali mendominasi produksi listrik dunia.

Capaian ini didorong oleh akselerasi pengembangan energi angin dan surya di berbagai pusat ekonomi utama seperti Amerika Serikat, Eropa, dan China. 

Penurunan biaya teknologi penyimpanan baterai, turbin angin, serta panel surya turut menjadikan energi bersih kian kompetitif dibanding pembangkit listrik berbasis batu bara. Sepanjang tahun 2025, energi terbarukan menghasilkan listrik global sekitar 10.730 terawatt-jam (TWh), sementara batu bara menghasilkan 10.476 TWh.

Dalam kurun waktu satu dekade terakhir, porsi energi terbarukan melonjak hampir 11 poin persentase, dari 23,0% pada 2015 menjadi 33,8% pada 2025. 

Pertumbuhan paling pesat disumbang oleh proyek pembangkit tenaga angin dan surya berskala besar. Meski tenaga air masih memberikan kontribusi signifikan, ekspansi energi bersih kini lebih banyak ditopang oleh teknologi baru yang efisien dan fleksibel.

Di sisi lain, dominasi batu bara perlahan meredup. Pada 2025, produksi listrik dari batu bara menyusut 63 TWh dibanding tahun sebelumnya, penurunan pertama sejak pandemi 2020. 

Sepanjang abad ke-20, batu bara menjadi sumber listrik utama dunia dan sempat menyumbang lebih dari 40% bauran listrik global pada era 2000-an. Namun, tekanan untuk menurunkan emisi serta masifnya investasi energi bersih telah menggeser peta energi dunia.

Meski begitu, transisi energi global belum usai. Jika gas serta sumber fosil lainnya dihitung, bahan bakar fosil secara keseluruhan masih menyumbang sekitar 57% pembangkit listrik dunia pada 2025. Gas dan sumber fosil lain berkontribusi 24,4%, sementara tenaga nuklir mencatat 8,9%. 

Hal ini menandakan bahwa meski energi terbarukan sudah melampaui batu bara secara individual, ketergantungan dunia pada energi fosil tetap tinggi untuk memenuhi kebutuhan listrik yang terus meningkat. 

Perubahan ini menegaskan arah baru sistem energi global, di mana inovasi teknologi, kebijakan keberlanjutan, dan investasi menjadi penentu utama masa depan pembangkit listrik dunia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua