Kamis, 21 Mei 2026

Cadangan Tersisa 3 Juta Ton, Mitrabara Siap Mencaplok Tambang Baru

Cadangan Tersisa 3 Juta Ton, Mitrabara Siap Mencaplok Tambang Baru
Kegiatan bongkar muat batu bara di area pertambangan PT Mitrabara Adiperdana Tbk. (Sumber Foto: ekonomi.bisnis.com)

JAKARTA - PT Mitrabara Adiperdana Tbk (MBAP) membuka peluang untuk mengakuisisi tambang baru seiring menipisnya cadangan batubara yang tersisa sekitar 3 juta ton.

Langkah ini disiapkan untuk menjaga keberlanjutan produksi setelah tambang yang ada saat ini diperkirakan beroperasi hingga 2028.

Direktur Utama PT Mitrabara Adiperdana Tbk, Khoirudin, mengungkapkan bahwa saat ini perusahaan memperkirakan sisa cadangan batubara berada di kisaran 3 juta ton. Dengan cadangan tersebut, kegiatan penambangan direncanakan berlangsung hingga 2028.

Baca Juga

Strategi Perluasan TOWR: Fokus ke Pusat Data dan Energi Terbarukan

"Saat ini Mitrabara memperkirakan sisa cadangan adalah kurang lebih 3 juta ton, di mana dari sisa cadangan 3 juta ton ini kami berencana untuk melakukan penambangan sampai dengan tahun 2028," ujar Khoirudin dalam Paparan Publik di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Pada 2026, perusahaan memperoleh persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sebesar 1,05 juta ton.

 Namun, perusahaan menargetkan penjualan mencapai 1,45 juta ton dengan memanfaatkan stok batubara yang tersisa dari tahun sebelumnya. 

Khoirudin mengatakan, kondisi harga batubara tahun ini yang lebih baik dibandingkan tahun lalu diharapkan dapat memberikan sentimen positif terhadap kinerja penjualan perusahaan.

"Kalau kami bandingkan dari harga rata-rata tahun lalu itu cukup rendah sekitar US$ 81 per ton, sementara untuk harga tahun ini harganya jauh di atas itu gitu," katanya.

Untuk menjaga kesinambungan bisnis pertambangan, Mitrabara tengah menjajaki peluang akuisisi tambang baru melalui anak usaha perusahaan di sektor pertambangan.

"Kami memiliki anak usaha di sektor pertambangan yang kemudian kami jadikan vehicles untuk kemudian mencari tambang-tambang baru dalam bentuk akuisisi atau bentuk kerja sama di kemudian hari," ujar Khoirudin.

Sementara itu, Direktur PT Mitrabara Adiperdana Tbk, Helmy Paramaditya, menambahkan bahwa proses penjajakan tambang baru tersebut sudah memasuki tahap akhir. Namun, perusahaan belum dapat membuka detail proyek yang sedang dibidik.

"Untuk pengembangan usaha Mitrabara sendiri di bidang pertambangan saat ini kami sedang ada potensi memang namun untuk tahapannya belum kami bisa bagikan di sini tapi untuk tahapannya sudah sudah hampir akhir jadi ketika nanti sudah bisa kami publikasikan nanti akan kami sampaikan," kata Helmy.

Menurut dia, akuisisi tersebut diharapkan dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan pendapatan perusahaan ke depan, di tengah strategi diversifikasi usaha yang juga dijalankan perusahaan. 

Selain memperkuat bisnis pertambangan, Mitrabara juga mengembangkan bisnis non-batubara melalui energi baru terbarukan, jasa pertambangan, dan agroindustri. 

Perusahaan bahkan tengah membangun pabrik wood pellet di Kalimantan Utara yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir kuartal II atau awal kuartal III 2026.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Waka MPR Diskusikan Investasi EBT Bersama Petinggi Temasek

Waka MPR Diskusikan Investasi EBT Bersama Petinggi Temasek

Pemprov NTB Melebarkan Kerja Sama dan Kembangkan Energi Terbarukan

Pemprov NTB Melebarkan Kerja Sama dan Kembangkan Energi Terbarukan

Eramet Memprediksi Konsumsi Nikel Baterai Naik 218 Persen pada 2035

Eramet Memprediksi Konsumsi Nikel Baterai Naik 218 Persen pada 2035

Harga Baterai dan PLTS Turun, Pelaksanaan Proyek Jadi Kunci

Harga Baterai dan PLTS Turun, Pelaksanaan Proyek Jadi Kunci

Indonesia Miner 2026: AI dan Teknologi Jadi Arah Baru Tambang

Indonesia Miner 2026: AI dan Teknologi Jadi Arah Baru Tambang