Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Senin 19 Januari 2026, Bergerak Fluktuatif
- Senin, 19 Januari 2026
JAKARTA - Perdagangan awal pekan membawa tantangan tersendiri bagi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pada Senin, 19 Januari 2026, mata uang Garuda diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, seiring pengaruh sentimen global yang masih cukup dominan. Tekanan eksternal diperkirakan membuat rupiah berisiko ditutup di rentang Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah sebelumnya mencatatkan penguatan pada penutupan perdagangan Kamis, 15 Januari 2026. Saat itu, rupiah ditutup menguat 0,18% atau naik 3,50 poin ke level Rp16.895,5 per dolar AS. Namun, penguatan tersebut terjadi di tengah kondisi indeks dolar AS yang justru bergerak naik.
Baca JugaTabel KUR BRI 2026: Skema Pinjaman dengan Plafon Rp100–250 Juta dan Cicilan Terjangkau
Pada waktu yang sama, indeks dolar AS tercatat menguat 0,15% menuju level 99,20. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan rupiah belum sepenuhnya didukung oleh pelemahan dolar, melainkan lebih dipengaruhi oleh dinamika sentimen jangka pendek.
Meredanya Ketegangan Global Dukung Dolar AS
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, pernyataan Presiden AS Donald Trump turut meredam kekhawatiran pasar global.
Trump menyatakan keyakinannya bahwa otoritas Iran akan menghentikan eskalasi terhadap demonstran, sehingga meminimalkan potensi respons militer dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar lebih tenang dan kembali masuk ke aset-aset berdenominasi dolar AS.
Di sisi lain, sentimen positif juga datang dari rilis data ekonomi Amerika Serikat. Penjualan ritel AS tercatat melampaui ekspektasi pasar, yang mengindikasikan bahwa konsumsi rumah tangga masih berada pada level yang kuat. Data ini memperkuat persepsi bahwa perekonomian AS tetap solid meskipun berada dalam fase penyesuaian kebijakan moneter.
Harapan Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Ibrahim menuturkan bahwa meskipun Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) Amerika Serikat masih berada di atas target bank sentral sebesar 2%, pelaku pasar tetap optimistis terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve.
Menurutnya, pasar masih melihat peluang bahwa bank sentral AS akan melanjutkan rencana pemangkasan suku bunga pada tahun ini. Ekspektasi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang global, termasuk rupiah.
“Hari ini fokus pasar adalah klaim pengangguran awal untuk minggu yang berakhir pada 10 Januari, dengan perkiraan 215.000 warga Amerika mengajukan tunjangan pengangguran, di atas 208.000 yang terlihat pada minggu sebelumnya,” ujar Ibrahim.
Data klaim pengangguran ini menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja AS, yang selama ini menjadi salah satu pertimbangan utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga acuan.
Tekanan Domestik dari Konsumsi Rumah Tangga
Selain faktor global, Ibrahim juga menyoroti kondisi domestik yang turut memengaruhi pergerakan rupiah. Ia menilai konsumsi rumah tangga masih menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun, di sisi lain, daya beli kelompok kelas menengah menunjukkan tanda-tanda tekanan.
Menurut Ibrahim, kelompok kelas menengah saat ini berada dalam posisi yang rentan dan mulai mengalami pergeseran ke kelompok masyarakat rentan. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat kelas menengah memiliki peran penting sebagai pondasi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Perlunya stimulus yang lebih banyak diberikan kepada kelas menengah untuk menjaga kondisi daya belinya. Sebab, kelas menengah merupakan kelompok yang terhimpit di tengah kondisi gejolak perekonomian, padahal merupakan pondasi pertumbuhan ekonomi,” pungkas Ibrahim.
Ia menilai bahwa tanpa dukungan kebijakan yang memadai, tekanan terhadap kelas menengah berpotensi menekan konsumsi domestik, yang pada akhirnya dapat berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah.
Perlunya Perluasan Stimulus bagi Kelas Menengah
Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan bahwa selama ini stimulus fiskal pemerintah masih lebih banyak menyasar kelompok rumah tangga miskin melalui berbagai program bantuan sosial dan bantuan langsung tunai (BLT). Sementara itu, dukungan bagi kelas menengah dinilai masih terbatas.
Ia mencatat bahwa insentif pajak berupa PPh Pasal 21 yang baru diterapkan pemerintah saat ini hanya mencakup lima sektor, terutama sektor padat karya dan pariwisata. Menurutnya, cakupan tersebut belum cukup luas untuk menopang daya beli kelas menengah secara keseluruhan.
Oleh karena itu, Ibrahim menilai diperlukan perluasan bentuk stimulus yang lebih menyeluruh bagi kelompok kelas menengah. Langkah ini dianggap penting untuk menjaga stabilitas konsumsi nasional serta memberikan bantalan bagi perekonomian di tengah ketidakpastian global.
Proyeksi Perdagangan Rupiah Hari Ini
Untuk perdagangan hari ini, Senin, 19 Januari 2026, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak fluktuatif. Meski demikian, tekanan eksternal dan kondisi domestik membuat rupiah berpotensi ditutup melemah.
Ia memperkirakan pergerakan rupiah akan berada di kisaran Rp16.890 hingga Rp16.920 per dolar AS. Rentang tersebut mencerminkan keseimbangan antara sentimen global yang mendukung dolar AS dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar di dalam negeri.
Dengan demikian, pergerakan rupiah pada awal pekan ini masih akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi global serta respons pasar terhadap kebijakan dan stimulus domestik yang ada.
Mazroh Atul Jannah
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Danantara Disiapkan Jadi Penggerak Investasi 2026, Kepastian Kebijakan Krusial
- Senin, 19 Januari 2026
Aktivasi BPJS Kesehatan Jadi Syarat Penting Perlindungan Jemaah Haji Indonesia
- Senin, 19 Januari 2026
PMI BI Kuartal IV/2025 Menguat, Sektor Manufaktur Belum Pulih Sepenuhnya
- Senin, 19 Januari 2026
SBN Tetap Jadi Pilar Utama Investasi Dana Pensiun Indonesia Tahun 2026
- Senin, 19 Januari 2026
Berita Lainnya
PMI BI Kuartal IV/2025 Menguat, Sektor Manufaktur Belum Pulih Sepenuhnya
- Senin, 19 Januari 2026
SBN Tetap Jadi Pilar Utama Investasi Dana Pensiun Indonesia Tahun 2026
- Senin, 19 Januari 2026
Update Harga Emas Antam Senin, 19 Januari 2026, Menguat Sentuh Rp 2,703 Juta per Gram
- Senin, 19 Januari 2026
Update Harga Emas Perhiasan Senin 19 Januari 2026 Stabil, Mulai Rp438 Ribu per Gram
- Senin, 19 Januari 2026









