Senin, 19 Januari 2026

Inflow Asing Dorong Saham Big Caps Kembali Menjadi Motor Pasar

Inflow Asing Dorong Saham Big Caps Kembali Menjadi Motor Pasar
Inflow Asing Dorong Saham Big Caps Kembali Menjadi Motor Pasar

JAKARTA Arus dana asing yang kembali deras ke pasar saham Indonesia mulai membentuk pola pergerakan baru di awal 2026. 

Di tengah fluktuasi indeks yang masih tinggi, investor global justru terlihat semakin agresif mengoleksi saham-saham berkapitalisasi besar atau big caps. Fenomena ini menandai kembalinya peran saham unggulan sebagai jangkar stabilitas pasar, sekaligus membuka fase rotasi investasi dari saham-saham berisiko menuju emiten dengan likuiditas dan fundamental kuat.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sepanjang periode 12–15 Januari 2026, investor asing mencatatkan beli bersih (net buy) sebesar Rp4,6 triliun. Bahkan, sejak awal tahun, total net buy asing di pasar saham nasional telah mencapai Rp6,35 triliun. Aliran dana ini dinilai menjadi katalis penting yang mendorong pergerakan saham-saham big caps sekaligus menopang kinerja indeks utama.

Baca Juga

Konsisten Akselerasi Ekonomi Masyarakat Desa, Bank Mandiri Terima Piagam Penghargaan dari Menteri PDT

Inflow Asing Perkuat Kepercayaan Pasar Saham

Masuknya dana asing dalam jumlah besar ke pasar saham Indonesia mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi dan pasar keuangan domestik. Di tengah dinamika global yang masih dibayangi ketidakpastian, Indonesia justru dinilai menawarkan kombinasi menarik antara stabilitas makroekonomi dan peluang pertumbuhan.

Inflow tersebut diperkirakan menjadi momentum bagi investor untuk melakukan rotasi portofolio, khususnya ke saham-saham berkapitalisasi besar yang dinilai lebih aman dan likuid. Saham big caps kerap menjadi pilihan utama ketika pasar berada dalam fase volatil, karena dianggap mampu memberikan keseimbangan antara risiko dan potensi imbal hasil.

Saham Big Caps Jadi Target Utama Investor Asing

Sejumlah saham big caps tercatat menjadi incaran utama investor asing dalam beberapa pekan terakhir. Saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) mencatatkan net foreign buy (NFB) sebesar Rp602,3 miliar. Sementara itu, saham PT Astra International Tbk. (ASII) diborong asing senilai Rp564,6 miliar, dan saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) mencatatkan NFB sebesar Rp477 miliar.

Tak hanya itu, dalam kurun waktu 20 hari terakhir, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menjadi salah satu saham yang paling agresif dikoleksi investor asing dengan nilai net buy mencapai Rp2,6 triliun. Saham ASII dan INCO juga mencatatkan akumulasi signifikan masing-masing sebesar Rp1,4 triliun dan Rp1,2 triliun.

Derasnya aliran dana asing ke saham-saham tersebut memperkuat indikasi bahwa investor global tengah memposisikan ulang portofolionya ke emiten-emiten berfundamental kuat dan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional.

IHSG Volatil, Namun Tetap Mencetak Rekor Baru

Di tengah arus masuk modal asing, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan lalu bergerak cukup volatil. Meski demikian, IHSG tetap mampu mencatatkan sejumlah rekor all time high dan menembus level psikologis 9.000.

Secara mingguan, IHSG tercatat menguat 1,68% dibandingkan pekan sebelumnya dan bergerak di rentang 8.715–9.100. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa volatilitas pasar tidak serta-merta menggerus minat investor, terutama ketika didukung oleh inflow asing yang solid.

Sementara itu, indeks LQ45 yang didominasi saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid justru tampil lebih unggul. Sejak awal tahun, indeks LQ45 telah menguat 5,05%, melampaui penguatan IHSG yang tercatat sebesar 4,96% secara year to date (YTD).

Reposisi Investor ke Saham Likuid dan Fundamental Kuat

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, mencermati bahwa aliran modal asing belakangan ini memang lebih banyak mengalir ke saham-saham big caps, khususnya emiten likuid yang tergabung dalam indeks LQ45.

“Ini terlihat dari kondisi saat pasar bergerak volatil, namun indeks LQ45 justru mampu menguat cukup solid,” tutur Ekky.

Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa investor tengah melakukan reposisi portofolio ke saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid, bukan keluar dari pasar. Strategi ini dinilai mencerminkan sikap selektif investor dalam menghadapi dinamika pasar, dengan tetap mengedepankan kualitas fundamental emiten.

Ekky meyakini bahwa ke depan, saham-saham dengan fundamental yang baik akan kembali menjadi motor penggerak pasar. Ia menilai bahwa dominasi saham big caps dalam pergerakan indeks merupakan karakter struktural pasar modal Indonesia, bukan sebuah anomali.

Peluang Akumulasi di Tengah Dinamika Pasar

Lebih lanjut, Ekky menjelaskan bahwa saham-saham big caps pada dasarnya juga didominasi oleh emiten konglomerasi, seperti BBCA atau GGRM. Ketergantungan pasar terhadap grup besar tersebut merupakan bagian dari struktur pasar yang telah terbentuk sejak lama.

“Dalam kondisi seperti ini, biarkan mekanisme pasar bekerja secara alami tanpa terlalu banyak intervensi,” ucap Ekky.

Ia menambahkan, ketika saham-saham berfundamental belum bergerak atau masih tertinggal, kondisi tersebut justru dapat dilihat sebagai peluang bagi investor untuk melakukan akumulasi. Dalam jangka panjang, selama fundamental dan prospek emiten tetap solid, harga saham diyakini akan mencerminkan nilai intrinsiknya.

“Sangat mungkin, ke depan giliran saham-saham fundamental yang akan menjadi motor penggerak pasar, ketika momentum rotasi kembali terjadi,” kata Ekky.

Dengan derasnya inflow asing dan pergeseran minat investor ke saham-saham big caps, pasar saham Indonesia memasuki fase baru yang ditandai oleh penguatan berbasis kualitas. Meski volatilitas masih menjadi bagian dari dinamika jangka pendek, arah pergerakan modal menunjukkan optimisme terhadap prospek pasar dalam jangka menengah hingga panjang.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Mengenal Asuransi AXA Mandiri Adalah Jenis, Produk & Manfaatnya

Mengenal Asuransi AXA Mandiri Adalah Jenis, Produk & Manfaatnya

Andalan Nasabah, Akselerasi Transaksi Livin by Mandiri Perkuat Inklusi Keuangan

Andalan Nasabah, Akselerasi Transaksi Livin by Mandiri Perkuat Inklusi Keuangan

Tabel KUR BRI 2026: Skema Pinjaman dengan Plafon Rp100–250 Juta dan Cicilan Terjangkau

Tabel KUR BRI 2026: Skema Pinjaman dengan Plafon Rp100–250 Juta dan Cicilan Terjangkau

Aktivasi BPJS Kesehatan Jadi Syarat Penting Perlindungan Jemaah Haji Indonesia

Aktivasi BPJS Kesehatan Jadi Syarat Penting Perlindungan Jemaah Haji Indonesia

PMI BI Kuartal IV/2025 Menguat, Sektor Manufaktur Belum Pulih Sepenuhnya

PMI BI Kuartal IV/2025 Menguat, Sektor Manufaktur Belum Pulih Sepenuhnya