Senin, 19 Januari 2026

PMI BI Kuartal IV/2025 Menguat, Sektor Manufaktur Belum Pulih Sepenuhnya

PMI BI Kuartal IV/2025 Menguat, Sektor Manufaktur Belum Pulih Sepenuhnya
PMI BI Kuartal IV/2025 Menguat, Sektor Manufaktur Belum Pulih Sepenuhnya

JAKARTA — Kinerja industri pengolahan nasional menunjukkan sinyal perbaikan pada penghujung 2025. 

Bank Indonesia (BI) mencatat aktivitas manufaktur kembali menguat, tercermin dari kenaikan Prompt Manufacturing Index (PMI) BI pada kuartal IV/2025. Meski demikian, pemulihan tersebut belum sepenuhnya merata, khususnya pada aspek penyerapan tenaga kerja yang masih berada di zona kontraksi.

Data ini menggambarkan bahwa pertumbuhan produksi dan permintaan mulai bergerak positif, namun dunia usaha masih berhati-hati dalam menambah jumlah pekerja. Kondisi tersebut mencerminkan dinamika pemulihan industri yang masih bertahap, seiring penyesuaian terhadap tantangan global dan domestik.

Baca Juga

Konsisten Akselerasi Ekonomi Masyarakat Desa, Bank Mandiri Terima Piagam Penghargaan dari Menteri PDT

PMI BI Kembali Menguat di Akhir 2025

Dalam laporan terbarunya, BI mencatat PMI BI berada di level 51,86% pada kuartal IV/2025. Angka ini meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 51,66%. Posisi PMI di atas level 50% menandakan bahwa sektor industri pengolahan nasional masih berada dalam fase ekspansi.

Peningkatan kinerja ini ditopang oleh mayoritas komponen PMI yang menunjukkan ekspansi. Komponen volume produksi mencatat indeks sebesar 53,46%, mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi di sektor manufaktur. Selain itu, volume persediaan barang jadi juga berada di level yang sama, yakni 53,46%, menunjukkan kesiapan pelaku industri dalam memenuhi permintaan pasar.

Komponen lain yang turut menguat adalah volume total pesanan, dengan indeks mencapai 53,31%. Kondisi ini mengindikasikan adanya perbaikan permintaan, baik dari pasar domestik maupun eksternal, yang mendorong industri untuk tetap menjaga aktivitas produksinya.

Tenaga Kerja Masih Bertahan di Zona Kontraksi

Di tengah membaiknya sejumlah indikator utama, BI mencatat masih terdapat dua komponen PMI yang berada di zona kontraksi atau di bawah level 50%. Kedua komponen tersebut adalah kecepatan penerimaan barang input dan jumlah tenaga kerja.

Kecepatan penerimaan barang input tercatat sebesar 49,32%, mengindikasikan masih adanya tantangan dalam rantai pasok. Sementara itu, komponen jumlah tenaga kerja mencatat indeks sebesar 48,80% pada kuartal IV/2025.

“Komponen jumlah tenaga kerja mencatatkan perbaikan indeks pada kuartal IV/2025 sebesar 48,80% dibandingkan periode sebelumnya sebesar 48,70%, meski masih berada di zona kontraksi,” jelas laporan BI.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun aktivitas produksi meningkat, pelaku industri belum sepenuhnya meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Sikap kehati-hatian dunia usaha dalam merekrut pekerja baru masih menjadi karakteristik pemulihan industri saat ini.

Mayoritas Subsektor Manufaktur Masuk Fase Ekspansi

Berdasarkan Sublapangan Usaha (Sub-LU), BI mencatat sebagian besar subsektor industri pengolahan berada dalam fase ekspansi. Subsektor dengan indeks tertinggi adalah industri kertas dan barang dari kertas, percetakan, serta reproduksi media rekaman, dengan capaian indeks sebesar 56,71%.

Posisi berikutnya ditempati oleh industri barang galian bukan logam yang mencatat indeks 54,33%, disusul oleh industri makanan dan minuman dengan indeks 54,06%. Kinerja positif subsektor-sektor tersebut mencerminkan permintaan yang relatif kuat serta aktivitas produksi yang terus berjalan.

Selain itu, industri furnitur juga mencatatkan perbaikan signifikan dengan indeks sebesar 52,35%. Industri tekstil dan pakaian jadi pun berhasil naik ke zona ekspansi dengan indeks 50,19%, setelah pada periode sebelumnya berada di zona kontraksi masing-masing sebesar 43,88% dan 48,29%.

Perbaikan ini menunjukkan bahwa sejumlah subsektor yang sempat tertekan mulai menemukan momentum pemulihan, meski tingkat ekspansinya masih bervariasi.

Sejalan dengan Survei Dunia Usaha BI

Perkembangan PMI BI tersebut sejalan dengan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia. Hasil survei tersebut mengindikasikan bahwa kinerja kegiatan lapangan usaha industri pengolahan tetap tumbuh.

Dalam survei tersebut, nilai saldo bersih tertimbang (SBT) industri pengolahan tercatat sebesar 1,18%. Angka ini menandakan bahwa secara umum pelaku usaha masih melihat adanya pertumbuhan aktivitas bisnis, meskipun dengan laju yang relatif moderat.

Keselarasan antara PMI BI dan SKDU mencerminkan bahwa perbaikan kinerja manufaktur bukan sekadar bersifat sementara, melainkan didukung oleh persepsi dunia usaha terhadap prospek kegiatan produksi.

Prospek Manufaktur Kuartal I/2025 Tetap Ekspansif

Ke depan, BI memproyeksikan kinerja industri pengolahan masih akan bertahan di fase ekspansi pada awal 2025. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa pada kuartal I/2025, PMI BI diperkirakan berada di level 53,17%.

Pada periode tersebut, mayoritas komponen PMI juga diprakirakan tetap berada di zona ekspansi. Hal ini menunjukkan optimisme BI terhadap keberlanjutan pemulihan sektor manufaktur nasional.

“Mayoritas Sub-LU juga diprakirakan berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, Industri Furnitur, Industri Logam Dasar, serta Industri Makanan dan Minuman,” tutup Denny.

Dengan prospek tersebut, sektor manufaktur diharapkan terus menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional. Meski demikian, tantangan terkait penyerapan tenaga kerja dan efisiensi rantai pasok masih perlu menjadi perhatian agar pemulihan industri dapat berlangsung lebih merata dan berkelanjutan.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Mengenal Asuransi AXA Mandiri Adalah Jenis, Produk & Manfaatnya

Mengenal Asuransi AXA Mandiri Adalah Jenis, Produk & Manfaatnya

Andalan Nasabah, Akselerasi Transaksi Livin by Mandiri Perkuat Inklusi Keuangan

Andalan Nasabah, Akselerasi Transaksi Livin by Mandiri Perkuat Inklusi Keuangan

Tabel KUR BRI 2026: Skema Pinjaman dengan Plafon Rp100–250 Juta dan Cicilan Terjangkau

Tabel KUR BRI 2026: Skema Pinjaman dengan Plafon Rp100–250 Juta dan Cicilan Terjangkau

Aktivasi BPJS Kesehatan Jadi Syarat Penting Perlindungan Jemaah Haji Indonesia

Aktivasi BPJS Kesehatan Jadi Syarat Penting Perlindungan Jemaah Haji Indonesia

SBN Tetap Jadi Pilar Utama Investasi Dana Pensiun Indonesia Tahun 2026

SBN Tetap Jadi Pilar Utama Investasi Dana Pensiun Indonesia Tahun 2026