Akses Listrik Dunia: 655 Juta Jiwa Masih Belum Terjangkau

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Jumat, 26 Juni 2026
Akses Listrik Dunia: 655 Juta Jiwa Masih Belum Terjangkau
Sebanyak 655 juta jiwa di dunia masih belum memiliki akses listrik hingga 2024. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Sebanyak 655 juta jiwa atau sekitar 8 persen penduduk global masih menjalani kehidupan tanpa akses listrik hingga tahun 2024. 

Sebagian besar populasi yang belum merasakan layanan energi mendasar tersebut berdomisili di wilayah Afrika Sub-Sahara. Temuan ini termuat dalam dokumen terkini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berjudul Tracking SDG 7: The Energy Progress Report yang diterbitkan pada Rabu (24/6/2026). 

Laporan tersebut pun mencatat sekitar 1,8 miliar orang masih memanfaatkan teknologi dan bahan bakar memasak yang berisiko bagi kesehatan serta menimbulkan polusi.

Afrika Sub-Sahara merupakan kawasan yang paling tertinggal perihal akses energi. Lebih dari 560 juta penduduk di sana belum mendapatkan aliran listrik, sementara sekitar 970 juta orang masih kekurangan akses terhadap fasilitas memasak yang aman dan bersih. 

PBB menyatakan bahwa kecepatan pembangunan infrastruktur energi di wilayah tersebut wajib ditingkatkan hingga tiga kali lipat agar target akses listrik universal pada 2030 dapat terwujud. Tanpa adanya percepatan yang nyata, jutaan penduduk diprediksi akan terus tertinggal dari jangkauan layanan energi modern.

Di tengah hambatan tersebut, laporan mencatat adanya kemajuan positif di sektor energi terbarukan. Penggunaan energi bersih terus melonjak dan saat ini berkontribusi lebih dari 30 persen terhadap konsumsi listrik dunia. 

Kemajuan ini dianggap belum memadai untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 7 yang mengupayakan akses energi modern, berkelanjutan, andal, dan terjangkau bagi seluruh penduduk bumi pada 2030.

PBB mengingatkan bahwa dunia masih berada di jalur yang belum selaras dengan sasaran tersebut. Kesenjangan akses energi antarnegara masih lebar, sedangkan dampak krisis energi global terus memengaruhi perekonomian dan pasar energi internasional. 

Laporan ini menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor serta kepemimpinan politik yang lebih solid untuk mempercepat pemerataan akses energi, khususnya bagi komunitas dan negara yang paling tertinggal. 

Selain itu, kebijakan yang konsisten dianggap krusial guna memperluas penggunaan energi terbarukan, menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, dan memperkuat ketahanan ekonomi dalam menghadapi gangguan rantai pasok global.

Wakil Sekretaris Jenderal PBB Urusan Ekonomi dan Sosial, Li Junhua, menyebut beberapa perkembangan positif telah tercapai beberapa tahun terakhir, khususnya dalam perluasan akses energi yang terjangkau dan bersih.

“Kami telah melihat kemajuan yang menggembirakan dalam perluasan akses energi yang terjangkau, andal, dan bersih. Namun jutaan orang masih belum memiliki akses, sehingga kemajuan yang ada belum sejalan dengan ambisi SDG 7,” ujar Li, Rabu (24/6/2026).

Li menegaskan bahwa krisis energi global saat ini seharusnya dijadikan momentum untuk mempercepat transisi menuju energi bersih. Menurutnya, hal itu hanya dapat terwujud melalui peningkatan investasi dan dukungan internasional dalam skala yang jauh lebih besar.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua