Indramayu Pacu Industri Petrokimia demi Kurangi Ketergantungan Migas

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Jumat, 26 Juni 2026
Indramayu Pacu Industri Petrokimia demi Kurangi Ketergantungan Migas
Pemerintah Indramayu memacu industri petrokimia sebagai pilar ekonomi baru daerah. (Sumber Foto: NET)

INDRAMAYU - Pemerintah Kabupaten Indramayu mulai memacu sektor industri petrokimia sebagai pilar ekonomi baru guna mengurangi ketergantungan daerah pada minyak dan gas bumi.

Langkah ini sejalan dengan dimulainya pembangunan Proyek Polypropylene Plant Balongan (PPB) oleh PT Polytama Propindo yang diharapkan dapat memperkokoh rantai industri petrokimia nasional dan memicu tumbuhnya industri hilir di kawasan Balongan.

Bupati Indramayu Lucky Hakim menyatakan bahwa investasi petrokimia sangat krusial bagi diversifikasi ekonomi daerah. Selama ini, ekonomi Indramayu sangat bergantung pada sektor migas akibat adanya kilang minyak Balongan. 

Oleh karena itu, kehadiran industri petrokimia dinilai mampu memperluas basis ekonomi dan menciptakan sumber pertumbuhan baru.

“Investasi seperti ini diharapkan tidak hanya memperkuat sektor industri, tetapi juga membuka lebih banyak kesempatan kerja, mendorong tumbuhnya usaha-usaha baru, dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal,” kata Lucky, Kamis (25/6/2026).

Presiden Direktur PT Polytama Propindo Permono Avianto mengungkapkan bahwa proyek tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam meningkatkan kapasitas produksi serta memperkuat industri petrokimia di tanah air. 

Menurutnya, penambahan kapasitas produksi ini diharapkan mampu memicu perkembangan industri pendukung dan hilir yang menggunakan produk petrokimia sebagai bahan baku utama.

“Ini momen penting bagi perusahaan karena proyek ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas produksi dan mendukung pengembangan industri yang lebih luas,” ujarnya.

Direktur Utama PT Tuban Petrochemical Industries Sukriyanto berpendapat bahwa proyek ini bisa menjadi langkah awal pengembangan ekosistem industri petrokimia yang lebih masif di Balongan. 

Ia menambahkan bahwa integrasi industri hulu dan hilir dalam satu kawasan berpeluang meningkatkan efisiensi serta daya saing industri nasional. 

Namun, besarnya investasi di sektor ini tetap menyisakan tantangan bagi pemerintah daerah. Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah proyek industri tidak hanya dilihat dari nilai investasinya, tetapi juga dari kemampuannya menghasilkan efek berganda bagi ekonomi lokal.

“Selama ini struktur ekonomi Indramayu masih didominasi sektor primer dan energi, terutama migas serta pertanian. Karena itu, pengembangan industri pengolahan dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah agar tidak terlalu bergantung pada fluktuasi sektor migas,” kata Sukriyanto.

Lucky menambahkan bahwa proyek PPB dapat menjadi pembuka bagi investasi berkelanjutan di sektor hilir petrokimia.

“Jika ekosistem industri tersebut berkembang, Balongan berpeluang tumbuh menjadi salah satu pusat industri petrokimia di pantai utara Jawa yang tidak hanya menopang kebutuhan industri nasional, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indramayu dalam jangka panjang,” ujar Lucky.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua