Jumat, 22 Mei 2026

Dunia Penuh PLTU di 2025, Namun Penggunaan Batu Bara Kian Menurun

Dunia Penuh PLTU di 2025, Namun Penggunaan Batu Bara Kian Menurun
Ilustrasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. (Sumber Foto: lestari.kompas.com)

JAKARTA - Sepanjang tahun 2025, dunia tercatat membangun dan mengoperasikan lebih banyak pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Meski demikian, temuan menunjukkan bahwa pemanfaatan bahan bakar energi tersebut secara global justru mengalami penyusutan.

Laporan ini disampaikan oleh Global Energy Monitor (GEM) pada hari Rabu. Meningkatnya keterjangkauan serta melimpahnya ketersediaan energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, diklaim mampu memenuhi permintaan listrik bagi sebagian besar masyarakat global.

"Ini membantu menurunkan produksi listrik tenaga batu bara secara global sebesar 0,6% pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya," ujar laporan itu dikutip Global Energy Monitor, yang telah melacak pembangkit listrik tenaga batu bara selama lebih dari satu dekade, sebagaimana dimuat AFP, Kamis (21/5/2026).

Baca Juga

Perkuat Literasi Energi, Hamas School Kolaborasi dengan Telkom Univ

Secara rinci, penurunan produksi listrik terjadi meskipun kapasitas pembangkit yang mulai beroperasi atau dioperasikan tercatat meningkat 3,5% tahun lalu. Sebanyak 95% dari peningkatan kapasitas tersebut berada di China dan India.

"Kapasitas batu bara China tumbuh 6% tahun lalu, tetapi produksi listrik tenaga batu bara turun 1,2%, sebagian karena peningkatan kapasitas energi terbarukan yang pesat," jelasnya lagi.

"Hal yang sama terjadi di India, di mana kapasitas tumbuh hampir 4% , meskipun produksi turun hampir 3%," tambah lembaga itu.

Menurut manajer proyek Global Coal Plant Tracker GEM sekaligus penulis laporan tersebut, Christine Shearer, banyak provinsi dan negara bagian di China dan India yang memimpin pengembangan batu bara merupakan wilayah penghasil utama energi tersebut. 

Mereka, ujarnya, memiliki "insentif industri yang kuat untuk terus membangun pembangkit listrik tenaga batu bara".

Perlu diketahui, China memandang batu bara sebagai solusi andal untuk pasokan energi terbarukan yang tidak stabil, terutama pasca krisis listrik beberapa tahun lalu. India, sebagai negara terpadat di dunia, juga sangat bergantung pada batu bara guna memenuhi permintaan listrik yang terus melonjak.

Sementara itu, negara yang paling banyak membangun PLTU saat ini adalah Amerika Serikat (AS). Hal ini terjadi akibat adanya penundaan penghentian pembangkit listrik tenaga batu bara oleh pemerintah setempat.

"Pembangkit listrik tenaga batu bara AS meningkat lebih dari 80 TWh (terawatt jam) dari tahun ke tahun, angka yang sangat besar sehingga tidak ada negara lain yang mendekatinya," kata Shearer.

"Lonjakan tersebut bukan hanya fungsi dari pertumbuhan (permintaan), tetapi mencerminkan lingkungan kebijakan yang secara aktif mendorongnya," tambahnya.

Secara global, pembangkit listrik tenaga batu bara telah meningkat 0,3% sejauh tahun ini. Di sisi lain, pembangkit listrik tenaga angin dan surya telah mengalami lonjakan sebesar 10%.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Taktik Dual Track MedcoEnergi Hadapi Volatilitas Pasar Energi

Taktik Dual Track MedcoEnergi Hadapi Volatilitas Pasar Energi

Gagasan Bensin Sawit Prabowo, IESR: Berisiko Ganggu Ketahanan Pangan

Gagasan Bensin Sawit Prabowo, IESR: Berisiko Ganggu Ketahanan Pangan

Bantu Pertanian, Desa Krandegan Gunakan Pompa Irigasi Tenaga Surya

Bantu Pertanian, Desa Krandegan Gunakan Pompa Irigasi Tenaga Surya

Ditjen EBTKE Kaji Spesifikasi BBM Sampah untuk Dikomersialkan

Ditjen EBTKE Kaji Spesifikasi BBM Sampah untuk Dikomersialkan

Tinjau PLTP Kamojang, Bupati Garut Pacu Pemanfaatan Energi Hijau

Tinjau PLTP Kamojang, Bupati Garut Pacu Pemanfaatan Energi Hijau