Relawan Flotilla Gaza Ceritakan Detik-detik Kejam Dicegat Israel
- Jumat, 22 Mei 2026
JAKARTA - Aktivis kemanusiaan dari armada Global Sumud Flotilla (GSF) membagikan kisah tentang tindakan kekerasan yang dilakukan tentara Israel saat mencegat kapal bantuan yang menuju Gaza di perairan internasional.
Para relawan mengaku menerima pukulan, diborgol dalam waktu lama, hingga ditembaki peluru plastik sebelum akhirnya diproses deportasi.
Salah satu aktivis asal Belgia, Jean Cabral (57), menuturkan detik-detik menegangkan saat kapal kecil yang ditumpanginya dihentikan militer Israel sejauh lebih dari 500 kilometer dari pesisir Israel pada Senin lalu.
Baca JugaMomentum Kebangkitan Nasional Percepat Transisi Energi Indonesia
“Kami sedang berada di laut internasional ketika komunikasi dijamming. Lalu mereka naik ke kapal sambil membawa senjata dan menembakkan peluru plastik hanya untuk bersenang-senang,” ujar Cabral setibanya di Bandara Istanbul, Kamis (21/5/2026).
Cabral berada dalam satu kapal bersama enam aktivis lain asal Italia, Belgia, Malaysia, Finlandia, Kanada-Palestina, dan Afrika Selatan. Menurut keterangannya, sekitar 10 personel pasukan Israel menyerbu kapal mereka dengan agresif meskipun para relawan telah mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.
“Kami tahu mereka pasukan komando laut Israel. Mereka langsung menyerang kapten kapal kami yang berasal dari Italia. Saya sendiri dipukul di pelipis kiri,” katanya.
Ia menceritakan bahwa para relawan kemudian dipindahkan ke kapal tahanan dengan tangan yang diikat kabel plastik sebelum dimasukkan ke dalam kontainer yang sempit.
“Saya mendengar mereka berkata dalam bahasa Inggris, ‘ayo bersenang-senang’,” ungkap Cabral.
Menurutnya, para tahanan juga mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses medis. Salah satu relawan pengidap epilepsi dilaporkan kehilangan obat-obatannya setelah disita oleh aparat Israel.
“Di kapal Sirius saja ada tujuh orang mengalami total 35 patah tulang,” katanya sambil menunjukkan bagian rusuk dan lengannya yang terluka.
Cabral menambahkan bahwa sekitar 200 tahanan hanya diberikan roti dan air dalam jumlah yang sangat terbatas. Para relawan perempuan bahkan harus meminta secara langsung untuk mendapatkan kebutuhan dasar seperti pembalut dan tisu toilet.
Setelah ditahan di dekat Ashdod, Israel selatan, para relawan dipindahkan menggunakan kendaraan tahanan dengan posisi tangan terborgol sangat erat.
“Kami dipaksa membungkuk berjam-jam. Mereka terus menampar dan menghina kami,” katanya.
Aktivis asal Turki, Bilal Kitay, juga memberikan kesaksian serupa mengenai tindakan kekerasan yang ia alami. Menurutnya, aksi pencegatan kali ini jauh lebih kejam dibandingkan operasi serupa yang terjadi pada April lalu.
“Mereka menyerang kami. Semua dipukul, laki-laki maupun perempuan. Ini yang setiap hari dialami warga Palestina,” ujarnya.
Ferdi Tri Nor Cahyo
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026












