Sabtu, 09 Mei 2026

Pemerintah Kaji CNG Jadi Alternatif Pengganti LPG untuk Dapur

Pemerintah Kaji CNG Jadi Alternatif Pengganti LPG untuk Dapur
PGN mendorong pemanfaatan CNG. (Foto:NET)

DENPASAR – Pemerintah tengah mengkaji penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai opsi energi alternatif untuk menggantikan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Kebijakan strategis ini diambil demi memperkuat kedaulatan energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor elpiji.

Meski keduanya berfungsi sebagai bahan bakar dapur, LPG dan CNG memiliki karakteristik teknis yang sangat berbeda. Mengacu pada data teknis Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), LPG merupakan gas cair hasil olahan minyak bumi. Sementara itu, CNG adalah gas alam terkompresi yang didominasi metana dan diambil langsung dari sumur-sumur dalam negeri. Perbedaan sumber inilah yang membuat CNG memiliki nilai ekonomi lebih kompetitif bagi keuangan negara.

Dari sisi biaya, penggunaan CNG diklaim jauh lebih murah dibandingkan LPG nonsubsidi. PT Pertamina Gas Negara (PGN) mencatat bahwa efisiensi pemakaian gas bumi melalui pipa bisa mencapai 20 hingga 25 persen. Penghematan ini dimungkinkan karena harga gas bumi domestik lebih stabil dibandingkan harga elpiji yang mengikuti fluktuasi pasar internasional. Selain itu, konsumen tidak perlu khawatir soal akurasi volume karena penghitungan menggunakan meteran gas.

Baca Juga

Pertamina dan Halliburton Percepat Digitalisasi Hulu Migas Nasional

Dalam aspek keamanan, CNG memiliki sifat yang lebih aman untuk lingkungan rumah tangga. Berdasarkan hukum fisika, massa jenis metana pada CNG lebih ringan dari udara sehingga gas akan cepat menguap ke atas jika terjadi kebocoran. Hal ini memperkecil risiko kebakaran hebat di area dapur, berbeda dengan LPG yang massanya lebih berat sehingga cenderung mengendap di permukaan lantai.

Namun, transisi ini menghadapi tantangan infrastruktur yang besar, terutama terkait pembangunan jaringan pipa gas. Berbeda dengan tabung LPG yang bersifat portabel, penggunaan CNG membutuhkan instalasi pipa permanen yang terhubung ke rumah penduduk.

Kendala lainnya adalah besarnya investasi awal yang diperlukan untuk membangun jaringan pipa tersebut. Selain itu, nilai panas atau kalor CNG sedikit di bawah LPG, sehingga durasi memasak mungkin akan terasa lebih lama.

Sebagai kesimpulan, baik LPG maupun CNG memiliki keunggulan dan tantangan tersendiri bagi kebutuhan publik. LPG unggul dalam kemudahan distribusi hingga ke pelosok yang belum terjangkau pipa. Sebaliknya, CNG menawarkan solusi energi jangka panjang yang lebih aman dan terjangkau secara berkelanjutan. Keberhasilan transisi ini akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur serta dukungan masyarakat.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

KTT BIMP-EAGA: Prabowo Tantang ASEAN Percepat Transisi Energi Bersih

KTT BIMP-EAGA: Prabowo Tantang ASEAN Percepat Transisi Energi Bersih

METI: Transisi Energi Adalah Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Nasional

METI: Transisi Energi Adalah Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Nasional

Rakernas ADPMET 2026: Al Haris Soroti Keadilan Fiskal Daerah Migas

Rakernas ADPMET 2026: Al Haris Soroti Keadilan Fiskal Daerah Migas

Pasar Baterai RI Diprediksi Tumbuh 23,7 Persen Hingga Tahun 2030

Pasar Baterai RI Diprediksi Tumbuh 23,7 Persen Hingga Tahun 2030

SKK Migas & ExxonMobil Tahan Penurunan Produksi Lapangan Banyu Urip

SKK Migas & ExxonMobil Tahan Penurunan Produksi Lapangan Banyu Urip