Sabtu, 09 Mei 2026

SKK Migas & ExxonMobil Tahan Penurunan Produksi Lapangan Banyu Urip

SKK Migas & ExxonMobil Tahan Penurunan Produksi Lapangan Banyu Urip
Pengboran minyak baru di Blok Cepu. (Foto:NET).

JAKARTA – Upaya menghambat laju penurunan produksi alami terus dilakukan di Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, yang dikelola oleh ExxonMobil Cepu Limited. Berbagai prosedur teknis diterapkan guna memastikan level produksi minyak nasional tetap optimal di tengah tantangan depresiasi alami sumur migas.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengungkapkan bahwa pengelola Lapangan Banyu Urip terus berinovasi untuk meminimalisir penurunan produksi secara organik.

“Dalam rangka perang melawan penurunan produksi alamiah, Banyu Urip terus melakukan upaya menahan laju penurunan produksi dengan berbagai cara antara lain menahan keluarnya air dan gas dari sumur dengan injeksi kimia dan High Rate Test untuk menahan gas yang turut terproduksi dan memasang plug untuk menahan air yang juga turut terproduksi,” jelas Djoko.

Baca Juga

Pertamina dan Halliburton Percepat Digitalisasi Hulu Migas Nasional

Djoko menambahkan, rangkaian upaya tersebut berhasil memberikan tambahan hasil minyak yang cukup signifikan. “Lumayan tambahan produksi minyak sumurannya bisa 1.000 – 2.000 barel per hari (bph),” ucapnya.

Selain maksimalisasi sumur eksisting, operator Blok Cepu juga menjalankan program peningkatan produksi melalui kampanye pemboran Banyu Urip Infill Clastic (BUIC). Langkah ini menjadi taktik utama guna menjaga stabilitas produksi minyak nasional di tengah tren penurunan alami lapangan migas yang sudah berumur.

BUIC merupakan program pemboran terbaru di Banyu Urip yang menambah tujuh sumur baru sejak 2016. Proses ini dimulai pada April 2024 dan selesai pada Juni 2025, atau 10 bulan lebih cepat dari target awal. Hasil dari agenda BUIC ini dilaporkan menyumbang tambahan hingga 30.000 barel minyak per hari, sehingga output Blok Cepu naik dari 150 ribu bph menjadi kisaran 170 ribu hingga 180 ribu bph, atau mencakup sekitar 25 persen lifting minyak nasional.

Djoko menilai intervensi teknologi yang diterapkan ExxonMobil terbukti efektif menjaga produktivitas. Selain BUIC, peningkatan produksi dipicu oleh perawatan sumur aktif serta pengaktifan kembali sumur idle.

Salah satu pencapaian terbaru adalah peningkatan hasil Sumur Banyu Urip A07 melalui skema Water Shut-Off (WSO), di mana produksinya melesat dari 4.800 bph menjadi 12.300 bph. Lapangan Banyu Urip tetap menjadi pilar utama energi dalam negeri, di mana secara total Blok Cepu telah memproduksi lebih dari 650 juta barel minyak mentah.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

KTT BIMP-EAGA: Prabowo Tantang ASEAN Percepat Transisi Energi Bersih

KTT BIMP-EAGA: Prabowo Tantang ASEAN Percepat Transisi Energi Bersih

METI: Transisi Energi Adalah Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Nasional

METI: Transisi Energi Adalah Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Nasional

Rakernas ADPMET 2026: Al Haris Soroti Keadilan Fiskal Daerah Migas

Rakernas ADPMET 2026: Al Haris Soroti Keadilan Fiskal Daerah Migas

Pemerintah Kaji CNG Jadi Alternatif Pengganti LPG untuk Dapur

Pemerintah Kaji CNG Jadi Alternatif Pengganti LPG untuk Dapur

Pasar Baterai RI Diprediksi Tumbuh 23,7 Persen Hingga Tahun 2030

Pasar Baterai RI Diprediksi Tumbuh 23,7 Persen Hingga Tahun 2030