Kamis, 14 Mei 2026

BRIN Percepat Operasional Observatorium Gunung Timau di Kupang

BRIN Percepat Operasional Observatorium Gunung Timau di Kupang
Ilustrasi Pengamatan posisi hilal menggunakan teleskop di Observatorium Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI). (Foto:NET).

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah memacu penyelesaian pembangunan observatorium astronomi di Gunung Timau, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diproyeksikan menjadi fasilitas pengamatan antariksa tercanggih di kawasan Asia. Fasilitas ini memiliki teleskop paling besar di Asia Tenggara dengan letak yang sangat menguntungkan di wilayah khatulistiwa.

Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan hal tersebut usai meninjau langsung lokasi di Gunung Timau pada Selasa, 5 Mei 2026. Arif menginstruksikan agar perakitan teleskop segera diselesaikan supaya dapat berfungsi secara utuh guna memperkokoh kerja sama penelitian di tingkat global.

“Kami ingin teleskop ini segera dirampungkan dan beroperasi penuh, karena akan menjadi fasilitas strategis bagi penguatan riset antariksa Indonesia. Sekaligus mendukung pengembangan spaceport nasional di Biak, Papua,” kata Arif, Jumat (8/5/2026).

Baca Juga

Kebijakan Cofiring Biomassa DitaksirHanya Perpanjang Umur PLTU

Hingga saat ini, tahap pembangunan fisik teleskop dilaporkan sudah menyentuh angka 95 persen. Selain fokus pada operasional alat, Arif menekankan pentingnya penguatan ekosistem penelitian melalui perekrutan peneliti baru, pembenahan gedung magnetometer, serta peningkatan sarana pendukung bagi staf ahli.

“Tidak hanya membangun teleskop, tetapi kami juga perlu memperkuat ekosistem risetnya. Penambahan peneliti dan revitalisasi gedung magnetometer menjadi bagian penting untuk mendukung operasional observatorium secara optimal,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Arif juga memberikan catatan kepada Pemerintah Kabupaten Kupang terkait pentingnya perbaikan akses infrastruktur jalan menuju lokasi observatorium.

“Observatorium ini memiliki peran strategis bagi riset antariksa Indonesia. Karena itu, akses jalannya juga harus diperkuat agar kawasan ini tidak terisolasi,” ucapnya.

Peneliti dari Pusat Riset Antariksa BRIN, Andre Pandie, menambahkan bahwa kehadiran fasilitas ini sejalan dengan rencana pembangunan bandara antariksa (spaceport) di Biak yang menjadi prioritas penguatan sektor antariksa tanah air.

“Observatorium ini nantinya diharapkan menjadi fasilitas pendukung utama dalam operasional dan pengembangan aktivitas antariksa nasional,” kata Andre.

Andre menyebutkan bahwa teleskop ini merupakan yang terbesar di wilayah Asia Tenggara. Ia menambahkan bahwa saat ini hanya ada dua unit teleskop dengan spesifikasi serupa di dunia, yakni berlokasi di Jepang dan Indonesia.

“Dan juga posisi kami yang strategis di khatulistiwa sehingga menjadi spot yang ideal untuk pengamatan luar angkasa. Karena itu, sudah ada kerjasama internasional dan akan ada kerjasama berikutnya yang menunggu bila teleskop ini sudah beroperasi,” ujarnya.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Perubahan Paradigma: Energi Nuklir Tidak Lagi Pilihan Terakhir

Perubahan Paradigma: Energi Nuklir Tidak Lagi Pilihan Terakhir

Pemerintah Tingkatkan Kapasitas Simpan BBM guna Transisi Energi

Pemerintah Tingkatkan Kapasitas Simpan BBM guna Transisi Energi

Pertamina Edukasi Pelajar Terkait Transisi Energi Melalui Program SEB

Pertamina Edukasi Pelajar Terkait Transisi Energi Melalui Program SEB

Kebijakan Cofiring Biomassa Diperkirakan Hanya Perpanjang Umur PLTU

Kebijakan Cofiring Biomassa Diperkirakan Hanya Perpanjang Umur PLTU

PLN IP Integrasikan PLTS dengan Pasar Karbon Lewat Strategi Beyond kWh

PLN IP Integrasikan PLTS dengan Pasar Karbon Lewat Strategi Beyond kWh