Minggu, 10 Mei 2026

Cadangan Migas 5 TCF Ditemukan di Kaltim, Investasi 8 Miliar Dolar AS

Cadangan Migas 5 TCF Ditemukan di Kaltim, Investasi 8 Miliar Dolar AS
Ilustrasi PT Pertamina Hulu Energi, (Foto:NET).

JAKARTA – Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, memaparkan hasil Drill Stem Test (DST) pada sumur eksplorasi lepas pantai (offshore) Kalimantan Timur menunjukkan capaian yang sangat positif dalam dua pekan terakhir. Menurut Djoko, hasil uji alir tersebut selaras dengan estimasi awal bahwa reservoir migas di area itu memiliki potensi besar dan kualitas yang sangat layak dikembangkan secara komersial.

“DST sumur eksplorasi offshore Kaltim yang telah dilaksanakan minggu lalu dan minggu ini telah dinyatakan selesai. Hasilnya sangat menggembirakan sekali sesuai prediksi awal,” ujar Djoko Siswanto, Kamis (7/5/2026).

Ia menerangkan, dari satu sumur yang diuji melalui DST, didapatkan potensi produksi gas mencapai 200 million standard cubic feet per day (MMSCFD) dan kondensat sekitar 12.000 barel per hari (BOPD). Dengan kapasitas tersebut, pengembangan lapangan diprediksi cukup menggunakan lima sumur dalam satu anjungan. Jika semua sumur berfungsi maksimal, total produksi diproyeksikan menembus 1.000 MMSCFD gas dan 60.000 BOPD kondensat.

Baca Juga

Pertamina dan Halliburton Percepat Digitalisasi Hulu Migas Nasional

Djoko menganggap skema pengembangan ini sangat efisien dan berpeluang menjadi proyek migas strategis nasional. Saat ini, proyek tengah dalam tahap sertifikasi cadangan yang ditargetkan rampung pada Juni 2026. Merujuk pada estimasi awal, cadangan gas di offshore Kalimantan Timur tersebut ditaksir mencapai 5 triliun kaki kubik (TCF).

Pasca sertifikasi, langkah selanjutnya adalah penyusunan desain pengembangan lapangan, mencakup jumlah sumur produksi, pembangunan platform, fasilitas produksi, hingga analisis keekonomian. Djoko menyebutkan bahwa pengembangan lapangan ini diperkirakan memerlukan investasi sekitar 8 miliar dolar AS. Selain itu, proyek ini dipastikan bakal mengaktifkan kembali kilang LNG Bontang yang selama ini tidak beroperasi (idle).

“Reaktivasi kilang LNG idle diperkirakan membutuhkan investasi sekitar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp17,5 triliun,” katanya.

Bagi Djoko, kehadiran investasi jumbo tersebut akan memberi pengaruh signifikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional, dengan target tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 50 persen. Penerimaan negara dan daerah juga diprediksi akan terkerek naik seiring berjalannya proyek ini.

SKK Migas menargetkan proyek offshore Kalimantan Timur tersebut mulai beroperasi (onstream) pada 2029. Hasil produksi nantinya diutamakan untuk memenuhi kebutuhan domestik demi memperkokoh ketahanan energi nasional.

“Gas dan kondensatnya diprioritaskan untuk kepentingan dalam negeri terlebih dahulu sesuai amanat Undang-Undang Migas,” ujar Djoko.

Ferdi Tri Nor Cahyo

Ferdi Tri Nor Cahyo

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

KTT BIMP-EAGA: Prabowo Tantang ASEAN Percepat Transisi Energi Bersih

KTT BIMP-EAGA: Prabowo Tantang ASEAN Percepat Transisi Energi Bersih

METI: Transisi Energi Adalah Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Nasional

METI: Transisi Energi Adalah Mesin Pertumbuhan Ekonomi Baru Nasional

Rakernas ADPMET 2026: Al Haris Soroti Keadilan Fiskal Daerah Migas

Rakernas ADPMET 2026: Al Haris Soroti Keadilan Fiskal Daerah Migas

Pemerintah Kaji CNG Jadi Alternatif Pengganti LPG untuk Dapur

Pemerintah Kaji CNG Jadi Alternatif Pengganti LPG untuk Dapur

Pasar Baterai RI Diprediksi Tumbuh 23,7 Persen Hingga Tahun 2030

Pasar Baterai RI Diprediksi Tumbuh 23,7 Persen Hingga Tahun 2030