Keamanan Energi Picu Lonjakan Investasi Sektor Energi Terbarukan

Salah satu proyek energi terbarukan di Evander. (Sumber Foto: bloombergtechnoz.com)
Kamis, 28 Mei 2026 | 13:17:43 WIB

SINGAPURA - Utusan utama Singapura untuk urusan iklim memprediksi sumber energi terbarukan akan menarik modal investasi baru dalam skala masif. Fenomena ini didorong oleh kekhawatiran terkait keamanan energi serta rantai pasokan yang memicu kenaikan pendapatan sekaligus permintaan di sektor tersebut.

Peningkatan permintaan global akan bahan baku untuk industri energi bersih berpotensi menyebabkan kenaikan harga dalam beberapa tahun mendatang, "kecuali kapasitas industri mampu mengimbangi," kata Duta Aksi Iklim Ravi Menon kepada Bloomberg News pada Jumat.

“Anda membutuhkan sinyal harga dan kemudian modal dan investasi akan mengalir ke sektor ini, dan pasokan kemudian akan mulai mengejar ketinggalan. Faktanya, investor cerdas seharusnya sudah berinvestasi di sektor ini sekarang, menyadari bahwa akan ada permintaan dan harga akan naik,” kata mantan pejabat bank sentral tersebut.

Permintaan energi terbarukan diperkirakan melonjak seiring upaya negara-negara yang selama ini bergantung pada bahan bakar fosil untuk meningkatkan kemandirian energi mereka. Langkah ini diambil di tengah gangguan pasokan minyak serta gas yang berkepanjangan akibat perang di Iran. 

Korea Selatan dan Filipina tercatat sebagai negara yang berupaya mempercepat proyek-proyek tersebut. Indeks Transisi Energi Bersih S&P Global telah naik 37% tahun ini, melampaui kenaikan 30% pada Indeks Minyak S&P Global.

“Dorongan politik sejalan dengan agenda energi bersih karena bagaimana cara memastikan Anda tidak terjebak dalam situasi ini lagi?” kata Menon, yang merupakan mantan kepala Otoritas Moneter Singapura selama lebih dari 12 tahun.

Percepatan transisi hijau ini diprediksi dapat meningkatkan harga di seluruh sektor energi terbarukan, termasuk bagi konsumen. Meningkatnya permintaan dan terbatasnya pasokan logam industri serta mineral penting, ditambah kenaikan biaya bahan bakar jangka pendek dan upaya diversifikasi rantai pasokan ke dalam negeri, akan berkontribusi pada tren tersebut dan menciptakan peluang investasi baru. 

Perubahan iklim juga diproyeksikan membawa tekanan inflasi jangka panjang akibat pengeluaran untuk pemulihan bencana dan adaptasi.

Meskipun tidak ada krisis pasokan dalam waktu dekat berkat produksi massal dan ekspor teknologi hijau China, negara-negara cenderung ingin mendiversifikasi rantai pasokan guna menghindari ketergantungan pada satu sumber. Namun, "masalah keamanan energi yang berkaitan dengan energi terbarukan masih jauh dari skala risiko konsentrasi pada bahan bakar fosil," tambahnya. 

Meski demikian, perluasan energi terbarukan tetap menghadapi hambatan berupa peralihan jangka panjang kembali ke batu bara yang sempat diterapkan oleh ekonomi besar Asia, seperti India, untuk mengatasi kekurangan listrik sejak perang di Iran dimulai.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo