Aktivitas Jual- Beli di Pasar Aceh Tamiang Bangkit Pascabanjir, Warga Bersyukur

Minggu, 25 Januari 2026 | 08:26:21 WIB
Aktivitas Jual- Beli di Pasar Aceh Tamiang Bangkit Pascabanjir, Warga Bersyukur

JAKARTA - Pemulihan aktivitas ekonomi mulai terasa di Kabupaten Aceh Tamiang setelah bencana banjir yang sempat melumpuhkan berbagai sektor kehidupan masyarakat. 

Salah satu indikator paling nyata terlihat dari kembali bergeliatnya aktivitas jual-beli di Pasar Pagi Kuala Simpang. Perlahan namun pasti, pedagang kembali membuka kios, sementara warga mulai memadati pasar untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, meski daya beli belum sepenuhnya pulih.

Kondisi tersebut menjadi gambaran awal kebangkitan ekonomi lokal pascabencana. Pasar tradisional yang sempat sepi kini kembali ramai, seiring membaiknya kondisi lingkungan dan mulai lancarnya pasokan barang kebutuhan masyarakat.

Pasar Pagi Kuala Simpang Kembali Berdenyut

Pantauan di Pasar Pagi Kuala Simpang menunjukkan sejumlah pedagang telah kembali membuka kiosnya. Warga pun terlihat mulai berbelanja berbagai kebutuhan harian, mulai dari sayuran, ikan, telur, hingga bumbu dapur. Aktivitas ini menandai pulihnya fungsi pasar sebagai pusat perputaran ekonomi masyarakat Aceh Tamiang.

Salah seorang warga Kampung Sriwijaya, Kuala Simpang, Nurlia Tullaila, mengaku rutin kembali berbelanja di pasar tersebut setelah kondisi pasar kembali dibuka secara normal. Ia merasakan perbedaan signifikan dibandingkan kondisi awal pascabanjir.

"Sekarang senanglah, harga arang-barang sudah normal, kebutuhan pun sudah ada semua. Kalau kemarin-kemarin kan belum ada, apa pun belum ada cuma sayuran saja sama ikan, itu mahal-mahal. Tapi alhamdulillah lah sekarang sudah normal," kata Nurlia.

Menurut Nurlia, kondisi pasar yang kembali normal memberikan rasa lega bagi warga yang selama beberapa waktu kesulitan mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Harga Kebutuhan Pokok Mulai Stabil

Nurlia menyampaikan bahwa harga kebutuhan pokok saat ini relatif stabil dibandingkan masa awal setelah banjir surut. Saat itu, aktivitas pasar belum berjalan normal dan pedagang terpaksa berjualan di pinggir jalan, sehingga harga barang cenderung lebih mahal.

Ia mencontohkan komoditas cabai rawit dan sayuran yang sempat mengalami lonjakan harga cukup tinggi. Namun kini, harga tersebut mulai berangsur turun. Cabai rawit yang sebelumnya dijual hingga Rp20.000 kini turun menjadi sekitar Rp12.000 per seperempat kilogram.

Penurunan harga tersebut disambut baik oleh warga, mengingat kondisi ekonomi pascabanjir masih membutuhkan banyak pengeluaran tambahan. Biaya untuk membersihkan rumah, memperbaiki perabot, serta memenuhi kebutuhan sehari-hari menjadi beban tersendiri bagi masyarakat terdampak.

Selain itu, Nurlia juga mengungkapkan bahwa bantuan sembako dari pemerintah sangat membantu meringankan kebutuhan warga. Bantuan berupa beras, gula, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya membuat warga sementara waktu hanya perlu membeli lauk-pauk dan sayuran di pasar.

Harapan Warga dan Pedagang Pascabencana

Nurlia berharap kondisi pasar terus stabil dan pasokan barang tetap lancar agar harga kebutuhan pokok dapat terjaga. Menurutnya, stabilitas harga sangat penting agar aktivitas ekonomi masyarakat Aceh Tamiang dapat kembali pulih sepenuhnya.

Ia juga berharap bencana banjir serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang. Dampak banjir yang dirasakan warga sangat besar, mulai dari kerusakan rumah hingga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Harapan serupa juga disampaikan oleh para pedagang yang mulai kembali beraktivitas setelah banjir surut. Mereka berharap pemulihan tidak hanya terjadi di sektor pasar, tetapi juga didukung oleh perbaikan infrastruktur pendukung.

Pedagang Mulai Bangkit Meski Hadapi Tantangan

Wais Alkarni, pedagang sembako di Pasar Pagi Kuala Simpang, mengaku mulai membuka kios dan kembali berjualan sejak banjir surut. Ia menyebut sebagian besar barang dagangannya sempat berhasil diselamatkan ke lantai dua kios.

"Kita mulai jualan dari surut banjir, pertengahan Desember (2025) itu udah jualan karena menghabiskan barang, barang-barang yang kena banjir pun habis (terjual) karena tidak ada barang," kata Wais kepada ANTARA.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah barang seperti gula, minyak goreng, telur, dan kacang-kacangan sempat rusak karena terendam banjir. Namun, barang-barang tersebut tetap terjual karena pasokan dari Medan sempat terhenti dan masyarakat membutuhkan barang kebutuhan mendesak.

Wais menambahkan, harga kebutuhan pokok sempat melonjak tajam sekitar tiga hari setelah banjir surut akibat kelangkaan barang. Seiring berjalannya waktu dan mulai lancarnya distribusi, harga pun perlahan kembali normal, meski beberapa komoditas seperti minyak goreng masih tergolong tinggi.

Daya Beli Belum Pulih Sepenuhnya

Menurut Wais, harga telur yang sebelumnya mencapai Rp75 ribu per rak kini turun ke kisaran Rp50–52 ribu per rak. Sementara itu, harga beras justru menurun karena banyaknya bantuan sembako yang diterima warga.

Meski pasar mulai ramai, ia menilai daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih. Salah satu penyebabnya adalah stok bantuan yang masih tersedia di rumah warga, serta akses jalan dari perkampungan menuju kota yang masih terbatas.

Hal senada disampaikan Hendi Hidayat, pedagang sayuran di Pasar Pagi Kuala Simpang. Ia mengaku baru kembali membuka kios sekitar dua minggu setelah air banjir surut. Hendi menjual berbagai komoditas seperti cabai merah keriting seharga Rp24 ribu per kilogram, bawang putih Rp38 ribu per kilogram, serta berbagai kebutuhan pangan lainnya.

Selain pedagang bahan pangan, sejumlah pedagang lain seperti toko pakaian dan pertokoan di sekitar pasar, termasuk penjual alat kelistrikan dan barang pecah belah, juga mulai kembali membuka usahanya.

Para pedagang berharap perbaikan infrastruktur jalan dapat segera dipercepat agar distribusi barang kembali lancar, harga stabil, dan aktivitas ekonomi Pasar Aceh Tamiang dapat pulih sepenuhnya dalam waktu dekat.

Terkini