PLN Kejar Target PLTS 100 GW Melalui Pemanfaatan Lahan dan Waduk

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 06 Juli 2026
PLN Kejar Target PLTS 100 GW Melalui Pemanfaatan Lahan dan Waduk
Ilustrasi Pemerintah targetkan bangun PLTS 100 gigawatt. (Sumber Foto nasional.kontan.com)

JAKARTA - Pemerintah bersama PT PLN (Persero) terus berupaya mencari jalan untuk mewujudkan sasaran Presiden Prabowo Subianto dalam mencapai kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebesar 100 Gigawatt (GW).

Korporasi tersebut sudah menyusun quick wins guna mulai menjalankan megaproyek itu.

Direktur Utama PLN dari Sumbernya mengungkapkan bahwasanya agenda quick wins mencakup 27,4 Gigawatt peak (GWp) PLTS dan Battery Energy Storage System (BESS) dengan kapasitas 82,5 Gigawatt hour (GWh).

Dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI pada Kamis (2/7/2026), dari Sumbernya memaparkan bahwasanya quick wins itu diturunkan ke dalam empat agenda.

Pertama, "Fat Burning Program" untuk menghilangkan pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM) pada sistem kelistrikan masif.

Lewat agenda ini, korporasi menargetkan mampu mengganti pemakaian 1,9 juta kiloliter BBM dengan PLTS berkapasitas 6,9 GWp serta 15,5 GWh BESS.

Kedua, pelaksanaan proyek PLTS yang termuat dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 guna menaikkan keandalan sistem di Jawa.

Pada agenda ini, korporasi menargetkan penambahan kapasitas PLTS 7 GWp yang disertai dengan 28 GWh BESS.

Ketiga, pemakaian waduk untuk penguatan sistem listrik Jawa, dengan taksiran tambahan kapasitas 10,3 GWp PLTS serta 30 GWh BESS.

Korporasi memperkirakan proyek ini bakal memerlukan area lahan sekitar 10.000 hektare (ha).

Keempat, menghilangkan BBM di 741 titik Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) sistem isolated.

Agenda ini bakal mengganti 800.000 kiloliter BBM dengan 3,2 GWp PLTS serta 9 GWh BESS.

Di luar itu, korporasi juga menyiapkan agenda "super technology green corridor", yang memakai lahan di sisi jalan tol untuk membangun PLTS.

Dari Sumbernya mengatakan, korporasi sudah berdiskusi dengan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) untuk membangun kemitraan strategis (strategic alliance).

Korporasi dan Jasa Marga mengidentifikasi sekitar 802,2 kilometer (km) koridor jalan tol yang berpotensi dikembangkan sebagai PLTS corridor berbasis right-of-way.

Dengan lebar kedua sisi sekitar 3 - 5 meter, maka terdapat potensi area lahan sekitar 401 ha.

Area lahan di koridor jalan tol itu berpotensi digunakan untuk membangun PLTS dengan kapasitas sekitar 400 Megawatt peak (MWp).

Korporasi mengidentifikasi pemakaian ruas jalan tol di Pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Kepulauan Riau.

Dari Sumbernya optimistis pelaksanaan target PLTS 100 GW bisa memenuhi keekonomian proyek yang kompetitif.

Sebab, ada janji dari pemerintah untuk menolong penyediaan lahan.

Dari Sumbernya mengakui bahwasanya selama ini penyediaan lahan menjadi hambatan utama terhadap pelaksanaan proyek PLTS.

Dirinya menggambarkan, dengan taksiran harga lahan Rp 200.000 per meter, maka ada kenaikan harga listrik sekitar US$ 1 cent per kilowatt-hour (kWh).

Jika harga lahannya mencapai Rp 600.000 per meter, maka tambahan harganya mencapai US$ 3 cent per kWh.

"Khusus untuk program ini, karena tanah sudah disediakan oleh pemerintah dan juga menggunakan waduk-waduk, tentu saja ini menjadikan program PLTS ditambah BESS dari program Presiden ini menjadi program yang secara keekonomian menjadi sangat kompetitif," kata dari Sumbernya.

Dari Sumbernya menambahkan, korporasi terus berdiskusi secara intensif dengan pemerintah terkait penyediaan lahan, yakni dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Menurut dari Sumbernya, Kementerian ATR/BPN menyiapkan lahan sekitar 28.000 ha.

Dari jumlah tersebut, korporasi sudah melaksanakan penyesuaian data (overlay) dengan peta jaringan transmisi serta gardu induk.

Hasilnya, korporasi mengidentifikasi ada sekitar 8.500 ha lahan yang siap digunakan untuk membangun sekitar 8,5 GWp PLTS.

Sedangkan untuk pemakaian waduk, korporasi berdiskusi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) serta Kementerian ESDM.

Sudah ada enam waduk di Pulau Jawa yang sudah teridentifikasi.

Keenam waduk tersebut adalah Waduk Jatiluhur (PLTS 2,27 GWp dan BESS 6,52 GWh), Waduk Cirata (PLTS 1,71 GWp dan BESS 4,90 GWh), Waduk Saguling (PLTS 1,48 GWp dan BESS 4,17 GWh), Waduk Jatigede (PLTS 1,13 GWp dan BESS 3,89 GWh), Waduk Kedung Ombo (PLTS 1,26 GWp dan BESS 3,61 GWh) dan Waduk Gajah Mungkur (PLTS 2,42 GWp dan BESS 6,91 GWh).

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua