AS Pimpin Peningkatan Emisi Karbon Global di 2025, Ini Pemicunya

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Selasa, 30 Juni 2026
AS Pimpin Peningkatan Emisi Karbon Global di 2025, Ini Pemicunya
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. (Sumber Foto: NET)

LONDON - Amerika Serikat (AS) berkontribusi sekitar sepertiga dari total lonjakan emisi karbon dunia sepanjang tahun 2025.

Merujuk pada laporan Energy Institute, kenaikan emisi karbon di AS dipicu oleh mahalnya harga gas yang memaksa produsen listrik beralih kembali menggunakan batubara. 

Laporan yang disusun bersama Ember, Kearney Institute, serta KPMG tersebut mencatat bahwa konsumsi batubara AS melesat 10% pada tahun lalu. Kondisi ini membalikkan tren transisi menuju bahan bakar bersih dan turut mendongkrak emisi secara nasional.

Emisi karbon sektor energi dunia naik 1,1% menjadi 35.806 juta metrik ton karbon dioksida, di mana lebih dari sepertiga kenaikannya berasal dari AS.

"Peningkatan di kawasan Amerika Utara ini bertentangan dengan tren penurunan emisi selama 10 tahun sebesar 0,7%," kata laporan tersebut seperti dikutip dari Reuters, Selasa (30/6/2026).

Sementara itu, permintaan energi global terus menunjukkan pertumbuhan. Total pasokan energi naik 1,7% dibanding tahun 2024, dengan energi terbarukan menyumbang kontribusi terbesar. Pembangkit listrik tenaga terbarukan tumbuh 9,1%, yang didominasi oleh lonjakan 30% pada energi surya.

Di sisi lain, emisi karbon sektor energi di Eropa meningkat 0,5%, sedangkan di China naik 0,7% pada 2025. Permintaan listrik melonjak melampaui pasokan, naik 3% secara tahunan, akibat pesatnya penggunaan kendaraan listrik, pusat data, serta kecerdasan buatan.

Konsumsi minyak dunia terpantau naik 1,3% pada 2025 menjadi 103 juta barel per hari, dibandingkan kenaikan 1,1% pada 2024, dengan pertumbuhan produksi mencapai 3,5%. 

Di China, penggunaan bensin dan solar justru menyusut tahun lalu, meneruskan tren yang terpantau pada 2024. Adapun pertumbuhan permintaan gas terpusat di Eropa, Timur Tengah, dan Amerika Utara, dengan Eropa serta India sangat bergantung pada impor untuk memenuhi hampir separuh pasokan mereka.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua