Konflik Iran Memanas, China Ubah Batu Bara Jadi BBM Demi Aman

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Senin, 15 Juni 2026
Konflik Iran Memanas, China Ubah Batu Bara Jadi BBM Demi Aman
Pusat konversi batu bara terbesar di China dibangun di Mongolia Dalam untuk memperkuat ketahanan energi domestik. (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Langkah taktis diambil guna mengamankan pasokan energi dengan mengubah batu bara menjadi bahan bakar minyak (BBM), gas, hingga bahan kimia lainnya. Upaya ini diterapkan di tengah kondisi geopolitik global yang semakin memanas setelah pecahnya konflik di Iran.

Wilayah Mongolia Dalam yang menjadi produsen batu bara terbesar di negara itu mendeklarasikan strategi besar untuk mendirikan pusat konversi batu bara terbesar di China. 

Megaproyek tersebut disiapkan guna memproses batu bara menjadi minyak, gas, dan produk kimia, sebagai metode mutakhir untuk memangkas ketergantungan yang tinggi pada pasokan energi luar negeri. 

Kebijakan ini sekaligus menunjukkan bagaimana ketegangan internasional telah mendorong China untuk memperkuat perhatian pada ketahanan energi domestik.

"Kami meningkatkan dan memperkuat kapasitas produksi domestik untuk proyek batu bara-menjadi-minyak, gas, dan kimia guna meningkatkan kemandirian domestik," ujar Wakil Ketua Eksekutif Daerah Otonom Mongolia Dalam di China Huang Zhiqiang dalam konferensi pers terbarunya dilansir dari Reuters, Senin (15/6).

Mongolia Dalam menjadi area yang memiliki dua sisi berbeda, sebab di satu sisi wilayah ini menjadi produsen energi terbarukan paling masif di China. 

Namun di sisi lain, daerah tersebut juga diandalkan untuk operasional pemanfaatan batu bara cair. Situasi ini menjadikannya wilayah yang sangat ideal di tengah rumitnya proses transisi energi di China. 

Negeri Tirai Bambu sendiri diketahui sangat bergantung pada pasokan minyak dari luar negeri, sedangkan cadangan batu bara lokal mereka tergolong sangat melimpah.

Walaupun industri hilirisasi batu bara terus mengalami kemajuan yang cepat, skala operasional saat ini masih terbilang minim jika disandingkan dengan total impor minyak serta gas China. 

Sebagai perbandingan, jumlah produksi gas, cairan, dan zat kimia dari batu bara pada tahun 2024 baru bisa menggantikan kisaran 6 persen dari keseluruhan minyak mentah dan gas yang didatangkan China pada tahun yang sama. 

Kendati demikian, arah perkembangannya terus menunjukkan kenaikan.

Pada Mei yang lalu, Kementerian Lingkungan Hidup China secara resmi memberikan lampu hijau bagi proyek percontohan konversi batu bara menjadi olefin senilai 22,1 miliar yuan (berkisar Rp51,5 triliun) di Ordos, Mongolia Dalam. 

Proyek dengan daya tampung 800 ribu metrik ton per tahun ini ditargetkan untuk menghasilkan olefin, yang merupakan bahan baku utama dalam pembuatan plastik serta komoditas kimia. 

Pemanfaatan pasokan batu bara lokal yang ekonomis menyajikan keuntungan kompetitif tersendiri bagi China bila dibandingkan dengan kompetitor petrokimia dunia yang mesti menebus minyak mentah dengan harga yang amat tinggi. 

Nilai tambah ini kian terlihat semenjak bergejolaknya perang Iran, di mana sektor batu bara mulai beralih menjadi industri petrokimia secara masif.

Di sisi berbeda, China juga harus menghadapi konsekuensi buruk bagi kelestarian lingkungan, mengingat prosedur konversi batu bara menjadi produk minyak bumi bakal memicu pelepasan emisi karbon dalam skala yang sangat besar. 

Perkara ini tentu menjadi hambatan yang berat bagi target iklim serta netralitas karbon yang tengah dikejar oleh pemerintah China. 

Mengenai persoalan biaya karbon tersebut, Huang Zhiqiang tidak memberikan respons secara langsung. Walau begitu, ia memastikan bahwa Mongolia Dalam terus berupaya mengimbangi pemanfaatan cadangan batu bara mereka yang masif dengan percepatan energi bersih.

Untuk saat ini, bidang energi terbarukan dilaporkan telah berkontribusi hingga 53 persen dari keseluruhan kapasitas listrik yang terpasang di wilayah tersebut. 

Di samping itu, catatan resmi pemerintah menunjukkan adanya program untuk memadukan hidrogen hijau ke dalam proyek konversi batu bara menjadi bahan kimia. Langkah tersebut diimplementasikan guna menekan laju emisi. 

Akan tetapi, kebijakan ini segera memanen kritik pedas dari para pegiat energi bersih. Mereka memberikan peringatan keras agar pemanfaatan teknologi hijau tidak diposisikan sebagai alasan atau pembenaran untuk terus menggulirkan perluasan skala besar di sektor batu bara.

Sebagai informasi tambahan, Mongolia Dalam memproduksi sekitar 1,25 ton hingga 1,28 miliar ton batu bara tiap tahunnya, atau menyuplai lebih dari seperempat dari keseluruhan produksi nasional China. 

Dua pertiga dari total pasokan yang sangat besar itu bersumber dari Ordos, kota yang saat ini tengah bersiap untuk bertransformasi menjadi pusat basis petrokimia berbasis batu bara paling megah di Negeri Tirai Bambu.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua