Pacu Inisiatif RE100, Climate Group Soroti Hambatan Energi Hijau RI
- Senin, 25 Mei 2026
JAKARTA – Director of Energy at Climate Group, Sam Kimmins, menyatakan bahwa Indonesia mempunyai potensi besar untuk mengakselerasi pemanfaatan energi terbarukan melalui inisiatif RE100.
Namun, ia menilai masih terdapat beberapa hambatan kebijakan yang menyulitkan perusahaan untuk mengakses listrik hijau secara langsung.
“Di Indonesia, ada 133 anggota internasional kami yang beroperasi,” kata Kimmins saat ditemui di sela-sela agenda Climate Group Asia Action Summit di Singapura pada Kamis, 21 Mei 2026.
Baca JugaGandeng Negara Lain, Indonesia Pacu Transisi Energi Global yang Adil
Menurut Kimmins, Climate Group saat ini tengah menjajaki kerja sama dengan sejumlah perusahaan di Indonesia agar mau bergabung dalam kampanye RE100, yakni inisiatif global bagi perusahaan yang berkomitmen menggunakan 100 persen listrik dari sumber energi terbarukan.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan RE100 di setiap negara senantiasa melibatkan organisasi lokal. Di Indonesia, Climate Group bermitra dengan Institute for Essential Services Reform (IESR) untuk memperkenalkan skema tersebut kepada pelaku usaha maupun pemerintah.
Kimmins menegaskan bahwa organisasi lokal memiliki peran vital karena mereka memahami kondisi kebijakan di lapangan serta mampu menjadi penghubung komunikasi dengan pemerintah.
Menurutnya, pemerintah Indonesia cukup terbuka dalam diskusi mengenai pengembangan energi terbarukan dan mekanisme investasi hijau.
Ia mengungkapkan bahwa tantangan utama di Indonesia adalah absennya mekanisme yang mengizinkan produsen energi terbarukan independen menjual listrik secara langsung kepada perusahaan melalui jaringan PLN.
Padahal, skema perjanjian pembelian listrik atau power purchase agreement (PPA) dianggap krusial untuk menekan harga listrik hijau sekaligus menarik akses pembiayaan swasta bagi proyek energi terbarukan.
Saat ini, Climate Group masih terus berdialog dengan pemerintah terkait penggunaan jaringan listrik bersama agar pengembang independen bisa menyalurkan energi terbarukan kepada pelanggan korporasi melalui infrastruktur PLN.
Skema tersebut dinilai menguntungkan semua pihak: PLN mendapatkan pendapatan dari jasa transmisi, sementara pengembang memperoleh kepastian pembeli.
Selain akses jaringan, Kimmins juga menyoroti subsidi energi fosil di Indonesia yang membuat harga energi konvensional tampak lebih murah, sehingga menghambat daya saing energi terbarukan.
Meski biaya produksi energi bersih sebenarnya lebih murah, sinyal harga tersebut belum dirasakan pasar karena adanya dukungan terhadap sistem energi lama. Climate Group tidak mendorong subsidi tambahan, melainkan mendukung pembukaan akses pasar agar energi bersih dapat bersaing secara sehat.
Ferdi Tri Nor Cahyo
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026
Berita Lainnya
Terpopuler
2.
Metode Memperbaiki Baterai Mobil Listrik Modern
- 25 Mei 2026












