Indonesia-Rusia Memperkuat Kerja Sama Migas hingga Energi Nuklir

FE
Ferdi Tri Nor Cahyo

Editor: Yoga Susila Utama

Jumat, 15 Mei 2026
Indonesia-Rusia Memperkuat Kerja Sama Migas hingga Energi Nuklir
Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia–Rusia Bidang Kerja Sama Perdagangan (Sumber Foto: NET)

JAKARTA - Pemerintah Indonesia dan Rusia melakukan pembahasan mengenai potensi kolaborasi di sektor minyak dan gas bumi (migas), LNG dan LPG, kemajuan energi terbarukan, serta pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai. Pembahasan tersebut menjadi agenda utama dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-14 Indonesia–Rusia.

“Kerja sama di sektor energi (dengan Rusia) telah menghasilkan berbagai komitmen investasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dan kilang minyak, ketenagalistrikan berbasis energi baru dan terbarukan, termasuk rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir modular kecil,” kata Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Yuliot, dalam keterangan resminya.

Agenda SKB ke-14 Indonesia–Rusia yang berfokus pada Kerja Sama Perdagangan, Ekonomi, dan Teknik ini dilaksanakan di Kazan, Rusia. Sektor energi serta sumber daya mineral menjadi poin bahasan yang sangat krusial dalam pertemuan tersebut.

Yuliot menjelaskan sejumlah progres kolaborasi bidang energi antara kedua negara, yang mencakup rencana pengadaan minyak, pembangunan lapangan migas, perkembangan proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban, hingga sinergi energi nuklir untuk kepentingan damai.

Di samping itu, pada sesi Plenary SKB ke-14 RI–Rusia, Wamen ESDM menekankan pentingnya peningkatan investasi serta kolaborasi teknologi energi untuk mendukung ketahanan energi nasional dan transisi menuju energi bersih.

“Hal ini sejalan dengan prioritas nasional dalam memperkuat ketahanan energi, baik untuk bahan bakar minyak maupun listrik,” ujar Yuliot.

Dalam forum tersebut, Yuliot juga menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia dalam mendorong pertumbuhan energi bersih serta peningkatan kapasitas listrik nasional sebagaimana direncanakan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

“Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, ditetapkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 70 GW, dengan target 40 GW berasal dari energi baru terbarukan atau sebesar 62 persen dari total tambahan kapasitas. Untuk pembangkit listrik tenaga nuklir, ditargetkan pembangunan dua unit dengan total kapasitas 500 MW,” tutur Yuliot.

Pertemuan SKB ke-14 RI–Rusia ini menghasilkan kesepakatan Agreed Minutes yang memuat poin-poin tindak lanjut kerja sama sektor energi dan sumber daya mineral bagi kedua belah pihak.

Dialog dalam pertemuan itu juga mencakup aspek hilirisasi, metalurgi mineral, hingga standarisasi pada industri migas dan energi. Forum SKB RI–Rusia merupakan jalur kerja sama bilateral formal antara Pemerintah Indonesia dan Federasi Rusia untuk meninjau kemajuan kerja sama pada berbagai sektor strategis.

Partisipasi Kementerian ESDM dalam forum ini menjadi langkah untuk memperkuat diplomasi energi Indonesia guna menopang ketahanan energi nasional, kemajuan hilirisasi industri, serta penguatan investasi teknologi di bidang energi.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua