Harga Minyak Melambung Picu Tekanan Berat di Bursa Saham Asia
- Kamis, 30 April 2026
JAKARTA – Kondisi harga minyak melambung tinggi telah memberikan tekanan signifikan pada sentimen investor di bursa saham Asia yang bergerak melemah pagi ini.
Laju inflasi yang dipicu oleh kenaikan biaya energi menjadi momok utama bagi para pelaku pasar modal di kawasan regional.
"Harga minyak mentah WTI melonjak 2 persen menjadi 82,16 dolar AS per barel, sementara Brent naik 1,3 persen ke 86,21 dolar AS per barel," ujar Stephen Innes, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Kamis (30/4/2026).
Baca JugaSubsidi Motor Listrik Polytron Bikin Harga Turun Jadi 11 Jutaan
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang mencatatkan penurunan tipis sebesar 0,2 persen pada awal sesi perdagangan.
Innes berpendapat bahwa lonjakan harga komoditas energi ini akan memaksa bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu lebih lama.
Kekhawatiran akan terbatasnya pasokan dari negara-negara produsen minyak utama memperburuk situasi di pasar spot.
Sektor transportasi dan industri manufaktur menjadi yang paling terdampak oleh volatilitas harga bahan bakar ini.
Para manajer investasi kini cenderung memindahkan aset mereka ke instrumen yang dianggap lebih aman atau safe haven.
Indeks Hang Seng dan Nikkei terpantau kompak mengikuti tren pelemahan global akibat beban biaya operasional emiten yang diprediksi membengkak.
Ketidakpastian geopolitik turut menambah daftar panjang faktor yang membuat bursa saham sulit untuk bangkit.
Ekspektasi pertumbuhan ekonomi di akhir kuartal ini terpaksa dikaji ulang oleh banyak lembaga pemeringkat internasional.
Ferdi Tri Nor Cahyo
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026












