Tren Konversi Motor Listrik Jadi Kendaraan Hobi Bagi Para Antusias 2026
- Senin, 13 April 2026
JAKARTA - Program pengalihan mesin bensin ke tenaga baterai dinilai lebih relevan bagi pemilik kendaraan hobi. Pendapat ini dikemukakan oleh pegiat motor listrik dari komunitas EV Holic yakni Bambang Setiawan Yudistira. Transformasi teknologi ini dianggap membutuhkan penyesuaian gaya hidup yang cukup signifikan bagi para penggunanya.
Pada pernyataan resminya Jumat 9 April 2026 pria yang akrab disapa Ibeng ini memberikan penjelasan teknis. Ia menyoroti bahwa kenyamanan sasis asli motor bensin merupakan nilai tambah yang tidak dimiliki produk baru. Kualitas geometri kendaraan donor yang sudah teruji puluhan tahun menjadi alasan utama para penggemar memilih konversi.
"Kalau dari rasa kenyamanan kendaraan dan lain-lain, saya lebih suka motor konversi dibandingkan motor listrik baru,". "Karena secara geometri, mekanik dan lain-lainnya, ini sudah teruji lama motor ini," tutur sosok yang akrab disapa Ibeng. Ia meyakini bahwa motor yang dikonversi dari unit bensin lama tetap terbukti sangat nyaman saat dikendarai.
Baca JugaSubsidi Motor Listrik Polytron Bikin Harga Turun Jadi 11 Jutaan
Keterbatasan Kapasitas Baterai dan Bagasi Motor Skutik
Meskipun menawarkan stabilitas sasis yang mumpuni, motor konversi tetap menyimpan sejumlah tantangan teknis yang nyata. Salah satu hambatan terbesar terletak pada keterbatasan ruang untuk penempatan baterai, terutama pada jenis motor skutik. Hal ini berdampak langsung pada hilangnya fungsi bagasi yang biasanya digunakan oleh para pengendara untuk menyimpan barang.
Ibeng menceritakan pengalamannya saat melakukan modifikasi pada unit skutik yang hanya mampu menampung baterai berukuran kecil. "Tempat untuk baterainya kan tidak besar kalau di skutik. Itu cuma dapat 20 Ampere Hour waktu itu,". "Dan di bawah jok itu sudah tidak ada lagi bagasi, semuanya buat baterai," jelas Ibeng kepada awak media.
Kapasitas baterai yang hanya 20 Ah tersebut secara otomatis membatasi jarak tempuh kendaraan dalam sekali pengisian. Sebagai perbandingan, satu liter bahan bakar minyak setara dengan jarak tempuh rata-rata motor listrik sejauh 50 kilometer. Artinya, untuk menempuh jarak yang lebih jauh, pengendara motor listrik konversi harus melakukan manajemen daya yang ketat.
Manajemen Pengisian Daya dan Efisiensi Perjalanan Harian
Daya jelajah yang terbatas menuntut pengguna untuk lebih rajin melakukan pengisian daya di tengah aktivitas mereka. Untuk menempuh jarak total 100 kilometer, motor konversi memerlukan waktu pengecasan yang tidak sebentar dibandingkan pengisian bensin. Fenomena ini yang membuat motor konversi dianggap kurang praktis untuk masyarakat umum dengan mobilitas yang sangat tinggi.
"Berarti saya harus cas pagi sebelum berangkat, siang 50 km cas lagi, baru bisa gitu," kata Ibeng. Ia juga menambahkan bahwa durasi untuk pengisian daya baterai hingga penuh memakan waktu yang cukup lama. Hal inilah yang memperkuat alasan mengapa skema konversi lebih cocok bagi mereka yang sudah memiliki kendaraan utama.
Bagi masyarakat umum, efisiensi waktu merupakan faktor krusial yang sulit dikompromikan dalam penggunaan transportasi harian mereka. Oleh karena itu, target pasar yang paling potensial saat ini adalah orang-orang yang memiliki modal dan waktu. Mereka biasanya menjadikan motor konversi sebagai kendaraan kedua atau ketiga yang hanya digunakan untuk keperluan hobi semata.
Hambatan Administrasi dan Tantangan Ekonomi Sektor Konversi
Faktor ekonomi juga memegang peranan penting dalam lambatnya adopsi program konversi motor bensin ke tenaga listrik. Meski pemerintah telah menyediakan subsidi, total biaya yang dikeluarkan pemilik kendaraan masih dirasa cukup memberatkan sebagian orang. Selain itu, adanya potensi penurunan nilai jual kembali aset kendaraan setelah dikonversi menjadi kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat.
Proses sertifikasi dan administrasi pada masa awal regulasi juga sempat mengalami berbagai kendala prosedur yang rumit. Ibeng yang merupakan salah satu pionir harus menunggu selama enam bulan hanya untuk menyelesaikan urusan perizinan kendaraannya. Detail teknis seperti standar suara klakson hingga kewajiban penempelan stiker peringatan tegangan tinggi menjadi syarat yang ketat.
"Lucunya semua sampai ke stiker-stiker juga ternyata menjadi keharusan," ujar Ibeng mengenang proses panjang perizinan motornya. Hingga saat ini, standarisasi dan infrastruktur bengkel konversi masih terus diupayakan untuk berkembang lebih masif lagi. Tantangan ekonomi dan birokrasi ini diharapkan dapat segera menemukan titik temu agar program pemerintah berjalan lebih lancar.
Masa Depan Bengkel Konversi dan Target Transformasi Energi
Tomy Huang selaku pendiri Bintang Racing Team sebelumnya sempat memberikan analisis terkait skema bantuan untuk masyarakat. Menurutnya, minat warga baru akan meningkat secara drastis jika biaya konversi bisa mencapai angka nol rupiah. Kolaborasi antara subsidi pemerintah sebesar 10 juta rupiah dan dana CSR perusahaan menjadi kunci sukses program tersebut.
Namun, di sisi lain, keberadaan bengkel konversi yang tersertifikasi masih sangat minim di berbagai wilayah Indonesia. Dari target ambisius sebanyak 120 juta unit motor, jumlah bengkel yang aktif saat ini masih sangat terbatas. Banyak pemilik bengkel memilih untuk tidak beroperasi karena jumlah pesanan yang masuk belum menunjukkan angka yang signifikan.
Kondisi ini menegaskan bahwa masa depan motor konversi sangat bergantung pada dukungan regulasi dan kesiapan infrastruktur nasional. Bagi para pencinta motor, konversi menawarkan kepuasan berkendara dengan jiwa kendaraan lama namun menggunakan teknologi energi modern. Meskipun harus berkompromi dengan jarak tempuh, kebanggaan memiliki kendaraan ramah lingkungan tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.
Ferdi Tri Nor Cahyo
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Gerak Cepat PLN, Kurang dari 1 Jam Listrik Kembali Normal di GI Angke
- Jumat, 17 April 2026
Menekraf Sebut Aset Kripto Perkuat Komersialisasi Kekayaan Intelektual Ekraf
- Jumat, 10 April 2026












