BMKG Prediksi Tahun 2026 Riau Lebih Kering dari 2025, Waspada Musim Kemarau
- Jumat, 06 Maret 2026
JAKARTA - Perubahan pola iklim diperkirakan akan memengaruhi kondisi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia pada tahun 2026, termasuk di Provinsi Riau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan wilayah tersebut akan mengalami kondisi yang lebih kering dibandingkan tahun sebelumnya. Situasi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jika tidak diantisipasi sejak dini oleh berbagai pihak terkait.
Prediksi tersebut disampaikan berdasarkan analisis kondisi iklim global serta pemantauan dinamika atmosfer yang memengaruhi wilayah Indonesia. Meski tidak berarti bahwa hujan akan sepenuhnya hilang, intensitas curah hujan diperkirakan lebih rendah dibandingkan kondisi yang terjadi sepanjang 2025. Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi dianggap penting untuk mengurangi dampak yang mungkin timbul, terutama terkait potensi karhutla di daerah rawan.
Baca JugaJadwal Libur Idul Fitri 2026: Daftar Tanggal Libur dan Cuti Bersama Lebaran
Perbedaan Pola Iklim antara 2025 dan 2026
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa perbedaan kondisi cuaca antara 2025 dan 2026 dipengaruhi oleh fenomena iklim global yang berbeda. Pada tahun 2025, Indonesia dipengaruhi oleh fenomena La Nina dalam kategori lemah yang membuat kondisi atmosfer cenderung lebih basah.
“Tahun 2025 diawali dan diakhiri dengan La Nina lemah sehingga kondisinya lebih basah. Sementara pada 2026, memasuki April kondisi ENSO diperkirakan netral, sehingga diperkirakan akan lebih kering dibandingkan 2025,” kata Faisal dalam konferensi pers di Pekanbaru, Kamis.
Fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) memang menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pola cuaca di kawasan tropis. Ketika ENSO berada dalam fase netral, curah hujan biasanya tidak sekuat saat terjadi La Nina, sehingga kondisi atmosfer dapat menjadi relatif lebih kering.
Perubahan ini menjadi perhatian penting bagi daerah-daerah yang selama ini memiliki potensi tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan, termasuk Riau yang setiap tahun menghadapi ancaman tersebut.
Catatan Iklim Tiga Dekade Terakhir
BMKG juga menggunakan data klimatologi jangka panjang untuk memperkuat prediksi tersebut. Berdasarkan catatan iklim selama 30 tahun terakhir, curah hujan pada 2026 diperkirakan sedikit berada di bawah kondisi normal.
Kondisi ini diperkirakan terjadi karena wilayah di sekitar garis khatulistiwa, termasuk Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat, saat ini memasuki periode yang dikenal sebagai “kemarau kecil”. Pada fase ini, hujan masih bisa terjadi meskipun durasinya relatif singkat.
Menurut Faisal, periode ini merupakan masa peralihan sebelum wilayah tersebut memasuki puncak musim kemarau. “Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Juni, Juli, dan Agustus,” ujanya.
Pada periode kemarau kecil, hujan masih sesekali turun namun tidak berlangsung lama. Hal ini membuat kondisi tanah dan vegetasi secara perlahan mulai mengering sebelum memasuki fase kemarau yang lebih intens.
Upaya Membasahi Lahan Sejak Dini
Menghadapi potensi musim kering yang lebih dominan pada 2026, berbagai langkah antisipasi mulai dipersiapkan. Salah satu strategi yang dilakukan adalah membasahi lahan sejak dini agar tidak terlalu kering saat puncak musim kemarau tiba.
Langkah ini dinilai penting untuk menekan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang sering meningkat ketika kondisi cuaca sangat kering. BMKG saat ini bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk melakukan operasi modifikasi cuaca.
Operasi tersebut dilakukan dengan menyemai awan agar hujan dapat turun di wilayah-wilayah yang diprediksi rawan karhutla. Dengan cara ini, tingkat kelembapan tanah dapat dipertahankan sehingga risiko kebakaran dapat diminimalkan.
“Ketika masih memungkinkan dilakukan penyemaian awan, kita upayakan mendatangkan hujan untuk membasahi lahan agar lebih jenuh sebelum memasuki puncak musim kemarau,” katanya.
Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap kondisi lahan tetap cukup lembap sehingga api tidak mudah menyebar apabila terjadi percikan kebakaran di kawasan hutan atau lahan gambut.
Kewaspadaan terhadap Potensi El Nino
Selain memantau kondisi ENSO yang saat ini berada dalam fase netral, BMKG juga terus mengawasi kemungkinan perkembangan fenomena El Nino pada tahun-tahun mendatang. Fenomena ini dikenal dapat memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering di Indonesia.
Jika El Nino terjadi bersamaan dengan angin monsun Australia yang cenderung membawa udara kering, maka potensi kekeringan bisa semakin meningkat. Kondisi tersebut dapat memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Karena itu, BMKG menilai koordinasi lintas lembaga menjadi kunci penting dalam menghadapi potensi dampak tersebut. Pemantauan cuaca dan iklim akan terus dilakukan secara intensif untuk memberikan informasi yang akurat kepada pemerintah maupun masyarakat.
BMKG juga terus menjalin koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, serta instansi yang bergerak di bidang penanggulangan bencana.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla yang mungkin muncul selama musim kemarau. Informasi yang disampaikan secara berkala juga diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam menyiapkan langkah mitigasi yang tepat.
“BMKG siap mendukung semua pihak agar lebih siap dan sigap dalam menghadapi ancaman karhutla,” ujarnya.
Dengan berbagai langkah pemantauan dan mitigasi tersebut, diharapkan potensi dampak dari kondisi cuaca yang lebih kering pada 2026 dapat diminimalkan, sekaligus menjaga keselamatan lingkungan dan masyarakat di wilayah rawan kebakaran.
Mazroh Atul Jannah
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Diskon Tarif Tol Mudik Lebaran 2026 Resmi Diumumkan, Ini Jadwal dan Rute Lengkapnya
- Jumat, 06 Maret 2026
Xpeng Indonesia Siapkan Layanan Gratis Cek Kendaraan Listrik Selama Mudik Lebaran
- Jumat, 06 Maret 2026
GAC Hyptec A800 Resmi Meluncur, Sedan Listrik Canggih Didukung Teknologi Huawei
- Jumat, 06 Maret 2026
Berita Lainnya
BPJS Kesehatan Salurkan Santunan Anak Yatim di Padang Momentum Ramadhan
- Jumat, 06 Maret 2026
Baznas Sumedang Salurkan 3.000 Paket Sembako dari Zakat ASN untuk Mustahik
- Jumat, 06 Maret 2026













