Rabu, 04 Maret 2026

Wamenaker Tegaskan Pelatihan Vokasi Harus Tingkatkan Kompetensi dan Perluas Peluang Kerja Nasional

Wamenaker Tegaskan Pelatihan Vokasi Harus Tingkatkan Kompetensi dan Perluas Peluang Kerja Nasional
Wamenaker Tegaskan Pelatihan Vokasi Harus Tingkatkan Kompetensi dan Perluas Peluang Kerja Nasional

JAKARTA - Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia terus menjadi perhatian pemerintah, terutama dalam menghadapi dinamika pasar kerja yang semakin kompetitif. 

Salah satu instrumen yang dinilai strategis adalah pelatihan vokasi. Namun, pemerintah menekankan bahwa pelatihan tersebut tidak boleh berhenti pada tataran administratif semata.

Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor menegaskan bahwa pelatihan vokasi harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan peluang kerja dan tidak sekadar menjadi kegiatan administratif.

Baca Juga

Mudik Gratis 2026 InJourney Airports Resmi Dibuka, Layani Rute Makassar–Surabaya via Kapal Laut

“Pelatihan harus menghasilkan kompetensi yang diakui dan dibutuhkan pasar kerja. Jika pelatihan tidak meningkatkan peluang kerja, maka pendekatannya harus kita perbaiki bersama,” kata Wamenaker dalam keterangannya di Jakarta.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa orientasi utama pelatihan vokasi adalah hasil akhir berupa peningkatan daya saing tenaga kerja. Kompetensi yang diperoleh peserta harus relevan dan selaras dengan kebutuhan industri.

Standar Jelas dan Berorientasi Hasil

Lebih lanjut, ia menilai pelatihan vokasi merupakan salah satu solusi efektif untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sepanjang dilaksanakan dengan standar yang jelas, proses yang berkualitas, serta berorientasi pada hasil.

Menurutnya, kualitas pelaksanaan menjadi faktor penentu keberhasilan program. Standar yang jelas mencakup kurikulum, metode pembelajaran, hingga sertifikasi kompetensi yang diakui dunia usaha.

“Oleh karena itu, pelatihan vokasi tidak boleh sekadar menggugurkan kegiatan,” ujar pria yang akrab disapa Ferry tersebut.

Pesan tersebut mengandung penekanan bahwa pelatihan tidak boleh hanya menjadi formalitas untuk memenuhi target program. Sebaliknya, pelatihan harus benar-benar dirancang untuk menjawab tantangan ketenagakerjaan dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Berbasis Informasi Pasar Kerja yang Akurat

Agar pelatihan berdampak nyata, perencanaan program tidak dapat dilakukan tanpa dasar data yang kuat. Wamenaker Ferry menambahkan agar pelatihan benar-benar berdampak, perencanaan program harus didasarkan pada informasi pasar kerja yang akurat dan mutakhir. Dengan demikian, program yang diselenggarakan dapat selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.

Informasi pasar kerja yang akurat membantu menentukan jenis keterampilan yang sedang dibutuhkan, sektor mana yang berkembang, serta kompetensi apa yang memiliki peluang besar untuk diserap industri. Tanpa pendekatan berbasis data, pelatihan berisiko tidak relevan dan sulit menghasilkan lulusan yang siap kerja.

Dengan pendekatan ini, pelatihan vokasi diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi pencari kerja. Sinkronisasi tersebut menjadi kunci dalam menekan angka pengangguran dan meningkatkan kualitas tenaga kerja nasional.

Kemitraan dengan Dunia Usaha dan Industri

Sejalan dengan itu, kemitraan juga menjadi kunci efektivitas penyelenggaraan pelatihan vokasi.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus mendorong seluruh balai pelatihan di bawah naungannya untuk aktif membangun kolaborasi strategis dengan dunia usaha dan dunia industri.

“Kami terus mendorong seluruh balai pelatihan di lingkungan Kemnaker untuk aktif membangun kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri,” ujar Wamenaker Ferry.

Kolaborasi ini dapat diwujudkan melalui berbagai bentuk, seperti penyusunan kurikulum bersama, program magang, hingga penempatan kerja bagi lulusan pelatihan. Dengan keterlibatan langsung pelaku industri, materi pelatihan dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Kemitraan yang kuat juga membuka peluang rekrutmen langsung bagi peserta yang telah menyelesaikan pelatihan. Hal ini sekaligus memastikan bahwa program vokasi tidak terputus pada tahap pembelajaran, tetapi berlanjut hingga penyerapan tenaga kerja.

Pelatihan Inklusif untuk Semua Lapisan Masyarakat

Selain berorientasi pada kualitas dan kemitraan, aspek inklusivitas juga menjadi perhatian penting dalam penyelenggaraan pelatihan vokasi. Pemerintah menilai bahwa kesempatan meningkatkan kompetensi harus terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

Selain itu, ia menilai pelatihan vokasi juga harus bersifat inklusif dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Pelatihan vokasi harus membuka akses seluas-luasnya, termasuk bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan. Kita ingin semua memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatkan kompetensi dan memperluas peluang kerja,” kata dia.

Pendekatan inklusif ini bertujuan memastikan bahwa tidak ada kelompok yang tertinggal dalam upaya peningkatan kualitas tenaga kerja. Penyandang disabilitas dan kelompok rentan harus mendapatkan akses, fasilitas, serta dukungan yang memadai agar mampu bersaing di dunia kerja.

Dengan memperluas akses dan meningkatkan kualitas pelatihan, pemerintah berharap program vokasi benar-benar menjadi instrumen efektif dalam memperkuat daya saing tenaga kerja Indonesia. Pelatihan yang relevan, berbasis data, bermitra dengan industri, dan inklusif diyakini mampu memperluas peluang kerja sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Kemendagri Perkuat Cold Chain Berbasis BUMD Pangan untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional Berkelanjutan

Kemendagri Perkuat Cold Chain Berbasis BUMD Pangan untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional Berkelanjutan

BNPB Kebut Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Sumatera Tuntas Tiga Tahun

BNPB Kebut Rehabilitasi dan Rekonstruksi Bencana Sumatera Tuntas Tiga Tahun

Update Harga Sembako Jatim 4 Maret 2026, Elpiji 3 Kg dan Cabai Naik, Daging Sapi Ikut Terkerek

Update Harga Sembako Jatim 4 Maret 2026, Elpiji 3 Kg dan Cabai Naik, Daging Sapi Ikut Terkerek

BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 di Agustus, Sebagian Besar Wilayah Lebih Kering

BMKG Prediksi Puncak Kemarau 2026 di Agustus, Sebagian Besar Wilayah Lebih Kering

Update PIP Maret 2026 SD, SMP, SMA dan SMK, Ini Cara Cek Status Pencairan Dana Terbaru

Update PIP Maret 2026 SD, SMP, SMA dan SMK, Ini Cara Cek Status Pencairan Dana Terbaru