Seskab: Kerja Sama Maritim Indonesia–Inggris Diproyeksi Serap 600 Ribu Tenaga Kerja
- Kamis, 22 Januari 2026
JAKARTA - Kerja sama internasional di sektor maritim kembali membuka peluang besar bagi Indonesia, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi kelautan.
Kolaborasi antara Indonesia dan Inggris yang difokuskan pada pembangunan kapal tangkap nelayan dinilai bukan hanya memperkuat sektor perikanan nasional, tetapi juga berpotensi menyerap ratusan ribu tenaga kerja di dalam negeri. Pemerintah memandang kemitraan ini sebagai langkah strategis dalam mendorong industri maritim nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Potensi besar tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, yang menegaskan bahwa kerja sama maritim antara Indonesia dan Inggris diperkirakan mampu menyerap hingga 600 ribu pekerja Indonesia. Proyeksi ini muncul dari komitmen kedua negara dalam pembangunan ribuan kapal nelayan yang proses produksinya dilakukan di dalam negeri.
Baca JugaPetugas Haji yang Pernah Berhaji Akan Langsung Ditempatkan di Mina Tahun Ini
Kerja sama tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam pertemuan bilateral antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Pertemuan berlangsung di 10 Downing Street, London, Inggris, pada Selasa, 20 Januari 2026, dan membahas penguatan kemitraan strategis di berbagai sektor, termasuk maritim.
Kerja Sama Maritim Jadi Topik Utama Pertemuan Bilateral
Dalam keterangannya kepada awak media di Bandara London Stansted, Inggris, pada Rabu, 21 Januari 2026, Seskab Teddy menjelaskan bahwa kerja sama maritim ini memiliki dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja. Ia menyampaikan bahwa Menteri Kelautan dan Perikanan turut memaparkan potensi serapan tenaga kerja yang sangat besar dari proyek tersebut.
"Kerja sama (maritim) dalam pembangunan 1.582 kapal nelayan. Yang menariknya, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan akan memperkerjakan sekitar 600 ribu orang," kata Seskab Teddy.
Pertemuan bilateral ini menegaskan keseriusan kedua negara dalam membangun kemitraan jangka panjang, khususnya di sektor kelautan dan perikanan yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia. Inggris menyatakan komitmennya untuk mendukung pembangunan armada perikanan Indonesia melalui transfer teknologi dan investasi industri maritim.
Pembangunan 1.582 Kapal Nelayan Disepakati
Teddy menjelaskan bahwa berdasarkan pemaparan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Inggris menyepakati pembuatan sebanyak 1.582 unit kapal tangkap ikan untuk nelayan Indonesia. Kapal-kapal tersebut akan diproduksi dan dirakit di dalam negeri, sehingga memberikan dampak langsung pada industri galangan kapal nasional.
Produksi kapal dalam jumlah besar ini diproyeksikan menjadi penggerak utama sektor industri maritim, mulai dari manufaktur baja, komponen kapal, hingga jasa pendukung lainnya. Selain meningkatkan kapasitas armada nelayan nasional, proyek ini juga diharapkan dapat mempercepat modernisasi alat tangkap ikan Indonesia.
Dengan dikerjakannya proyek ini di Indonesia, pemerintah optimistis manfaat ekonominya akan dirasakan secara luas oleh masyarakat, terutama di wilayah pesisir dan sentra industri maritim.
Rincian Serapan Tenaga Kerja dari Proyek Maritim
Lebih lanjut, Seskab Teddy merinci estimasi penyerapan tenaga kerja yang berasal dari proyek kerja sama tersebut. Menurutnya, ribuan kapal yang akan dibangun itu akan membuka lapangan kerja di berbagai sektor, baik secara langsung maupun tidak langsung.
"Karena nanti (kapal) diproduksinya, dirakitnya di Indonesia. Jadi 30 ribu sendiri itu untuk awak kapalnya, kemudian 400 ribu untuk yang memproduksinya, kemudian nanti ada 170 ribu itu dari multiplier effect-nya," kata Teddy.
Sebanyak 30 ribu tenaga kerja diperkirakan akan terserap sebagai awak kapal nelayan. Sementara itu, sekitar 400 ribu orang akan terlibat langsung dalam proses produksi dan perakitan kapal di dalam negeri. Selain itu, efek berganda atau multiplier effect dari proyek ini diproyeksikan mampu menciptakan sekitar 170 ribu lapangan kerja tambahan di sektor pendukung.
Multiplier effect tersebut mencakup berbagai bidang, seperti logistik, distribusi, penyediaan bahan baku, hingga sektor jasa yang tumbuh seiring meningkatnya aktivitas industri maritim.
Maritime Partnership Programme Perkuat Ketahanan Maritim Nasional
Kerja sama maritim Indonesia–Inggris ini berada dalam kerangka Maritime Partnership Programme (MPP). Melalui program tersebut, kedua negara berkomitmen untuk mengembangkan kemampuan maritim Indonesia secara menyeluruh, termasuk peningkatan kapasitas angkatan laut dan pengadaan lebih dari 1.000 armada perikanan.
MPP juga diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dengan memperkuat sektor perikanan tangkap. Armada baru yang modern dan efisien diharapkan dapat meningkatkan produktivitas nelayan, menjaga keberlanjutan sumber daya laut, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim.
Bagi Indonesia, kemitraan ini dinilai strategis karena membuka peluang investasi baru di industri galangan kapal, mendorong revitalisasi komunitas nelayan, serta memperkuat pertahanan dan keamanan maritim nasional. Pemerintah melihat kerja sama ini sebagai bagian dari upaya jangka panjang membangun ekonomi maritim yang berdaya saing global.
Respons Positif Presiden Prabowo terhadap Kemitraan
Presiden Prabowo Subianto menyambut positif kerja sama maritim antara Indonesia dan Inggris tersebut. Dalam pertemuan dengan PM Keir Starmer, Prabowo menilai kemitraan ini sebagai elemen penting dalam pengembangan ekonomi maritim nasional.
“Kami sangat puas dengan pelaksanaan kemitraan maritim ini. Saya rasa, ini akan menjadi bagian penting bagi perkembangan ekonomi maritim kami,” kata Prabowo.
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk terus mendorong kerja sama internasional yang memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional. Dengan potensi penyerapan ratusan ribu tenaga kerja, kerja sama maritim Indonesia–Inggris diharapkan menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir di masa mendatang.
Mazroh Atul Jannah
idxcarbon adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Hasnur Internasional Waspadai Dampak Tidak Langsung Pelemahan Rupiah Tahun 2026
- Kamis, 22 Januari 2026
ITDC Olah Air Laut Jadi Air Bersih, Perkuat Pasokan Air Pariwisata Hijau Bali
- Kamis, 22 Januari 2026
Menteri PU Dorong Percepatan Pemulihan Infrastruktur Sanitasi Pascabencana Aceh Tamiang
- Kamis, 22 Januari 2026
Indonesia dan Inggris Sepakat Perkuat Pembiayaan Alam Berkelanjutan Berbasis Model Aceh
- Kamis, 22 Januari 2026
Berita Lainnya
Hujan Diprediksi Mengguyur Jakarta Seharian, Warga Diimbau Tetap Waspada dan Siaga
- Kamis, 22 Januari 2026
Prabowo Mendarat di Swiss, Indonesia Siap Tampil di World Economic Forum Davos 2026
- Kamis, 22 Januari 2026
Mendagri Dorong Percepatan Pengembalian TKD untuk Daerah Terdampak Bencana
- Kamis, 22 Januari 2026
Presiden Prabowo Bertemu Raja Charles III dalam Agenda Lingkungan Indonesia-Inggris
- Kamis, 22 Januari 2026
BKKBN Perluas Layanan Kesehatan Keluarga untuk Warga Terdampak Bencana Aceh
- Kamis, 22 Januari 2026












