Proyek Tembok Hijau Besar Tiongkok Percepat Penyerapan Karbon
TIONGKOK - Berdasarkan sebuah riset yang dimuat pada 28 Mei di jurnal Geophysical Research Letters, vegetasi yang ditanam lewat inisiatif reboisasi masif di negeri ini terlihat berkembang lebih pesat dibanding vegetasi di kawasan hutan liar.
Kondisi tersebut diduga dipicu oleh kapasitas vegetasi itu dalam menyerap gas karbon dioksida yang meninggi di udara.
Negara ini telah menanam 66 miliar pohon sejak tahun 1978 dan berniat menanam 34 miliar pohon lagi menjelang pertengahan abad ini sebagai elemen dari program 'Tembok Hijau Besar' demi menghalangi pelebaran gurun Gobi serta Taklamakan.
Yuhang Luo, pakar ekologi lanskap di Universitas Peking di Shenzhen, bersama timnya hendak mengerti dengan pasti bagaimana disparitas antara hutan buatan dan hutan liar memengaruhi kemampuan mereka dalam mengikat karbon serta menanggapi pergeseran iklim.
Hutan buatan adalah kawasan hutan yang sengaja dibangun oleh manusia, layaknya proyek Tembok Besar Hijau, sementara hutan liar berkembang tanpa bantuan campur tangan manusia.
Para peneliti memakai data satelit untuk memantau indeks luas daun, tingkat kepadatan kanopi, dan pendorong utama penyerapan karbon, guna memastikan kecepatan pertumbuhan berbagai macam tipe hutan.
Mereka mendapati bahwasanya hutan buatan meningkatkan luas daun 66% lebih gesit daripada hutan liar.
Hampir seluruh disparitas itu dipicu oleh realita bahwasanya hutan buatan jauh lebih muda dibanding hutan liar, dan pohon muda berkembang lebih pesat daripada pohon yang lebih tua.
Namun, bahkan saat membandingkan hutan dengan usia serta kondisi perkembangan yang mirip, hutan buatan tetap tumbuh 4,6% lebih pesat.
Perkebunan biasanya tersusun dari jenis tanaman yang berkembang pesat layaknya eucalyptus dan birch, dengan tanaman pesaing dibersihkan serta lahan diberi pupuk secara berkala.
Campur tangan manusia ini menolong meminimalkan persaingan demi meraih cahaya, air, dan zat hara.
Disparitas pertumbuhan mencapai puncaknya di hutan buatan dengan vegetasi berusia 30-40 tahun dan menyusut secara berarti setelah 40 tahun.
Sebaliknya, hutan liar berkembang lebih lamban namun konstan, sehingga memberikan keunggulan jangka panjang.
Riset lain yang dimuat pada Mei 2025 di jurnal Communications Earth & Environment menemukan bahwasanya hutan liar mengakumulasi lebih banyak karbon di tanah dibandingkan hutan buatan.
Dari Sumbernya mengatakan, "Hutan tanaman dapat menjadi alat yang ampuh untuk penyerapan karbon dalam jangka pendek, tetapi keunggulan ini hanya bersifat sementara. Dalam hal penyimpanan karbon jangka panjang dan ketahanan, hutan alami tetap tak tergantikan."
Dari Sumbernya berharap temuan terbaru ini akan menolong mengarahkan upaya reboisasi untuk menjamin manfaat optimal dari kegiatan menanam pohon, sehingga memangkas pengaruh pergeseran iklim.
Mengacu pada Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput negara ini, sejak Program Hutan Lindung Tiga Utara (sering disebut Tembok Besar Hijau) memasuki tahap gentingnya pada tahun 2023, penguasa pusat telah menanamkan modal sekitar US$13,06 miliar serta menjalankan 544 proyek utama.
Mengacu pada People's Daily, di Xinjiang, sabuk hutan lindung di Gurun Taklamakan terbentang sejauh 3.046 km.
Pengikisan lahan di gurun dan wilayah berpasir yang luas ini telah menyusut sekitar 40% sejak tahun 2000.