Krisis Listrik, Kepentingan Transisi ke Energi Terbarukan Makin Mendesak

Pemadaman listrik bergilir di Jawa dan Sumatera menunjukkan kerentanan sistem ketenagalistrikan nasional. (Sumber Foto: NET)
Kamis, 02 Juli 2026 | 15:47:54 WIB

BALI - Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di Jawa dan Sumatera menunjukkan lemahnya sistem ketenagalistrikan nasional yang masih sangat bergantung pada energi fosil. Gangguan pasokan listrik tersebut memberikan dampak nyata terhadap sektor rumah tangga, industri, hingga iklim investasi.

Meski Indonesia memiliki surplus listrik dan berstatus sebagai produsen batubara besar, dominasi PLTU membuat pasokan listrik menjadi rentan terhadap fluktuasi harga, kebijakan ekspor batubara, kendala rantai pasok, serta cuaca ekstrem yang memengaruhi distribusi energi. 

Peneliti menilai ketahanan energi nasional hanya dapat diperkuat dengan mempercepat pengembangan energi terbarukan, memodernisasi jaringan transmisi dan distribusi, serta menggeser sistem dari pembangkit terpusat menuju sistem energi yang lebih terdesentralisasi.

Organisasi masyarakat sipil mengkritik tata kelola energi yang dinilai masih mengunci Indonesia pada batubara, menghambat pengembangan PLTS atap, serta membebankan biaya ekonomi, sosial, dan lingkungan dari energi fosil kepada masyarakat. 

Pemadaman listrik bergilir di sejumlah kota di Jawa dan Sumatera belum lama ini membuat warga kelimpungan. Sejumlah usaha besar dan kecil, termasuk manufaktur, mengalami kerugian akibat terputusnya pasokan listrik tersebut. 

Berbagai pihak pun mengingatkan bahaya ketergantungan listrik pada energi fosil dan mendorong peralihan ke energi terbarukan.

“Biaya rumah tangga dan produksi bisa naik, memicu peningkatan biaya, secara makro mempengaruhi kepastian akses investasi,” kata Berly Martawardaya, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dalam diskusi daring bertajuk “Di Balik Pemadaman Listrik: Menelisik Keandalan Sistem Energi dan Urgensi Transisi Energi Berkeadilan”, Jumat (25/6/26).

Bagi dia, fenomena pemadaman listrik merupakan anomali di tengah produksi listrik yang kelebihan kapasitas dalam sepuluh tahun terakhir. Apalagi, berdasarkan data INDEF, konsumsi listrik per kapita penduduk Indonesia masih di bawah Malaysia, Thailand, dan Vietnam. 

Dia menyoroti sikap pemerintah yang masih memprioritaskan pembangkit berbasis fosil dibandingkan memberi ruang bagi energi terbarukan. 

Padahal, biaya produksi energi terbarukan seperti surya dan angin jauh lebih murah. Dampaknya, ketika harga batubara naik dan pasokan berkurang, produksi listrik menurun hingga berujung pada pemadaman bergilir.

Raden Raditya Wiranegara, peneliti Institute for Essential Services Reform (IESR), mengatakan bahwa pemadaman listrik menunjukkan kerentanan distribusi energi terkait faktor cuaca dan logistik batubara. 

Ia mendesak pemerintah untuk memperkuat jaringan transmisi demi menyokong energi terbarukan. Saat ini, ekspansi jaringan ketenagalistrikan dinilai masih tertinggal dibandingkan pembangunan pembangkit.

Menurut Beyrra Triasdian dari Trend Asia, sistem energi yang tersentralisasi dan bergantung pada pembangkit besar di Jawa sangat rentan. Gangguan jaringan dapat berdampak luas pada layanan publik, dan pemadaman di tengah tingginya produksi batubara membuktikan adanya kesalahan fatal dalam tata kelola energi nasional.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo