Gelombang Panas Global Dorong Harga Batu Bara Kembali Menguat

Harga batu bara global menguat didorong oleh peningkatan permintaan di tengah gelombang panas. (Sumber Foto: NET)
Selasa, 30 Juni 2026 | 16:11:54 WIB

JAKARTA - Nilai komoditas batu bara akhirnya mengalami peningkatan usai terperosok selama tiga hari berturut-turut. 

Penguatan tersebut ditunjang oleh bertambahnya permintaan di tengah fenomena gelombang panas. Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara pada Senin (29/6/2026) ditutup di level US$ 127,45 per ton atau naik 1,77%. Pergerakan positif ini menjadi sinyal baik setelah harganya merosot 4,4% dalam tiga hari beruntun sebelumnya.

Kebutuhan akan batu bara meningkat di tengah gelombang panas dan musim panas yang sedang melanda Amerika Serikat serta Eropa. 

Musim panas di Eropa mengakibatkan kebutuhan listrik melonjak. Di tengah lonjakan permintaan tersebut, Jerman menghadapi kendala rendahnya level air Sungai Rhine. 

Sungai ini merupakan jalur logistik batu bara paling padat di Eropa sehingga rendahnya permukaan air akan menghambat pengiriman komoditas tersebut. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan, terutama saat suhu tinggi diprediksi akan menaikkan permintaan listrik sekaligus menurunkan performa pembangkit listrik berbasis gas dan tenaga surya.

Dari Amerika Serikat, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengeluarkan perintah darurat untuk mempertahankan operasional salah satu unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di Colorado guna memastikan pasokan listrik tetap andal. 

Hal tersebut disampaikan oleh Departemen Energi AS pada Jumat. Instruksi itu memerintahkan Tri-State Generation and Transmission Association, Platte River Power Authority, Salt River Project, PacifiCorp, serta Public Service Company of Colorado, anak usaha Xcel Energy, agar tetap menjaga Craig Station Unit 1 dalam kondisi siap beroperasi sesuai arahan Southwest Power Pool.

Sebelumnya, unit tersebut direncanakan berhenti beroperasi pada akhir 2025. Namun, Wright telah menerbitkan perintah darurat serupa pada Desember 2025 dan Maret 2026 yang mewajibkan pembangkit tersebut tetap tersedia untuk dioperasikan.

Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah memakai wewenang darurat untuk menjaga operasional sejumlah pembangkit listrik tua berbahan bakar batu bara dan gas melampaui jadwal pensiun yang telah ditetapkan. Tindakan ini dilakukan dengan alasan menjaga keandalan jaringan listrik nasional. 

Wright menyebutkan bahwa penghentian pembangkit listrik yang masih berfungsi baik berpotensi mengancam keandalan jaringan listrik sekaligus menaikkan biaya listrik selama periode permintaan puncak pada musim panas. 

Departemen Energi juga menyoroti adanya kekhawatiran terhadap keandalan pasokan listrik di kawasan Pegunungan Rocky (Rocky Mountain), termasuk karena banyaknya pembangkit termal yang telah berumur serta kendala pada rantai pasok. Keputusan darurat terbaru itu berlaku sejak 29 Juni hingga 26 September 2026.

Di sisi lain, China melaporkan stok batu bara kokas di Negeri Tirai Bambu itu masih terbatas dikarenakan kecelakaan tambang mematikan di Provinsi Shanxi pada akhir Mei 2026. 

Kejadian tersebut memicu inspeksi keselamatan secara masif dan penghentian sementara operasional sekitar 155 tambang, sehingga produksi lokal belum pulih sepenuhnya. Kondisi pasokan yang terbatas menjaga harga batu bara kokas. 

Harga sempat menyentuh level tertinggi dalam 19 bulan pada awal Juni akibat kekhawatiran kekurangan stok, meskipun setelahnya mulai terkoreksi saat sebagian tambang beroperasi kembali. 

Pembeli mulai membatasi aktivitas pembelian setelah tren harga yang tajam. Banyak pabrik baja dan pedagang memilih untuk menahan diri karena margin industri baja masih sempit, prospek kebutuhan baja belum pasti, selisih harga antara batu bara lokal dan impor semakin menyusut sehingga insentif impor berkurang.

Stok di lokasi tambang yang terus merosot tetap menjadi variabel pendukung harga. Inventori di kawasan tambang berkurang sehingga pasokan di pasar spot masih terbatas, walaupun kenaikan harga mulai memicu resistensi dari pembeli. 

Impor China tetap naik, terutama dari Australia dan Kanada, untuk menutupi kekurangan stok domestik. Akan tetapi volume pembelian tidak seagresif sebelumnya dikarenakan para importir menilai harga sudah terlalu mahal dan risiko penurunan harga masih ada.

Ekspor dari Australia Melonjak. Peningkatan kebutuhan untuk musim panas sudah terlihat sejak Mei 2026. Ekspor batu bara dari pelabuhan-pelabuhan Australia di Hay Point, Dalrymple Bay Coal Terminal (DBCT), Abbot Point, dan Gladstone yang terletak di negara bagian Queensland pada Mei 2026 meningkat. 

Pengiriman naik 11,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 7,4% secara bulanan (month-on-month/mom) menjadi 17,28 juta metrik ton (mt). 

Data tersebut dipublikasikan oleh North Queensland Bulk Ports Corporation dan Gladstone Ports Corporation. Secara rinci, pengiriman batu bara dari Dalrymple Bay Coal Terminal (DBCT) pada Mei mencapai 4,86 juta ton, naik 17,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, pengiriman dari Hay Point meningkat 14,3% yoy menjadi 4,21 juta ton. 

Di sisi lain, pengiriman dari Abbot Point tercatat 2,6 juta mt, turun 0,3% yoy. Selain itu, pengiriman batu bara dari Pelabuhan Gladstone meningkat 11,6% dibandingkan Mei 2025 menjadi 5,59 juta ton. Pada Mei, pengiriman batu bara dari Gladstone ke Jepang menyumbang 27,4% dari total ekspor. 

Sementara itu, Korea Selatan, India, dan Vietnam masing-masing menyerap 25,7%, 18,6%, dan 8,9% dari total ekspor tersebut. Sementara itu, total pengiriman batu bara dari keempat pelabuhan tersebut selama periode Januari-Mei 2026 mencapai 76,35 juta metrik ton.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo