Potensi Karier Baru di Era Transisi Energi Hijau
JAKARTA - Direktur Utama PT PLN Energy Management Indonesia (EMI), Henri Firdaus mengungkapkan bahwa transisi energi menuju ekonomi rendah karbon berpotensi menciptakan sekitar 16,6 juta lowongan pekerjaan hijau (green jobs) di tingkat global pada 2026.
Hal tersebut ia ungkapkan dalam kegiatan Expert Talk Institut Teknologi PLN (ITPLN) bertema “Dekarbonisasi dan Manajemen Energi Berkelanjutan untuk Generasi Masa Depan”, Kamis (24/06/2026).
Menurut Henri, sektor pembangkit listrik tenaga surya (Solar PV) diperkirakan menjadi kontributor terbesar terhadap penciptaan lowongan pekerjaan hijau dengan porsi mencapai 44 persen dari total kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut.
"Transisi energi bukan hanya tentang mengurangi emisi, tetapi juga membuka peluang karier baru bagi generasi muda yang memiliki kompetensi di bidang energi, keberlanjutan, dan teknologi," ujar Henri di Jakarta.
Henri menjelaskan bahwa transisi energi global menuju ekonomi rendah karbon akan mendorong pertumbuhan pasar kerja hijau secara signifikan. Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja akan meningkat seiring percepatan investasi pada energi bersih, efisiensi energi, kendaraan listrik, serta pasar karbon.
Ia menilai perkembangan transisi energi akan menciptakan berbagai lowongan pekerjaan baru yang membutuhkan kompetensi khusus di bidang energi, teknologi, dan keberlanjutan. Beberapa profesi yang diperkirakan semakin dibutuhkan antara lain Energy Auditor, Carbon Analyst dan ESG Specialist, Renewable Energy Engineer, REC dan Carbon Market Trader, Sustainability Consultant, hingga Green Data Center Engineer.
Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja pada bidang tersebut akan meningkat seiring upaya berbagai negara dan perusahaan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca serta mencapai target keberlanjutan.
Karena itu, Henri mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk mulai mempersiapkan kompetensi yang relevan melalui sertifikasi auditor energi, mempelajari standar internasional seperti GHG Protocol, ISO 50001, dan GRI Standards, serta mengikuti program magang maupun riset bersama PLN Group dan PT PLN EMI.
Henri menjelaskan bahwa dekarbonisasi dilakukan melalui efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, elektrifikasi, serta pengembangan pasar karbon.
PT PLN EMI sendiri telah mengelola layanan Renewable Energy Certificate (REC) dan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) yang mendukung percepatan transisi energi nasional. Dengan meningkatnya investasi pada sektor energi bersih, transisi energi diperkirakan akan menjadi salah satu sumber utama penciptaan lowongan pekerjaan baru yang berkelanjutan bagi masa depan ekonomi nasional.