UNAIR Pacu Hilirisasi Riset Biomassa dalam Simposium Korea-ASEAN
BALI - Universitas Airlangga (UNAIR) melalui WUACD terus memperkuat perannya sebagai penggerak kolaborasi riset internasional melalui penyelenggaraan 15th Korea-ASEAN Joint Symposium (KAJS) on Biomass Utilization and Renewable Energy yang berlangsung di Bali pada Minggu (21/6/2026) hingga Senin (22/6/2026).
Forum tersebut mempertemukan akademisi dari Korea Selatan, Thailand, Indonesia, dan berbagai negara ASEAN.
Agenda ini membahas inovasi biomassa, bioteknologi, serta energi terbarukan sebagai solusi menghadapi tantangan transisi energi global. Simposium menjadi ruang strategis bagi para peneliti lintas negara untuk berbagi temuan ilmiah sekaligus membangun jejaring kolaborasi jangka panjang.
Melalui forum ini, UNAIR menegaskan komitmen dalam memperluas kerja sama internasional yang mampu mempercepat hilirisasi riset biomassa menjadi teknologi yang berdampak bagi masyarakat dan industri.
Mengawali rangkaian sesi ilmiah pada Minggu (21/6/2026), Prof. Dr. Sung Ok Han dari Korea University menjadi pemateri pembuka dengan presentasi riset bertajuk Sustainable Biosynthesis of Porphyrins and Their Derivatives in Corynebacterium glutamicum for Electrical, Photoactive, and Biochemical Applications.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan biosintesis berkelanjutan memungkinkan pengembangan porfirin dan turunannya sebagai material multifungsi yang dapat bermanfaat pada sektor elektronik, teknologi fotoaktif, serta biokimia.
“Melalui biosintesis berkelanjutan, porfirin dan turunannya dapat dikembangkan menjadi banyak material. Mulai dari yang mendukung aplikasi listrik, fotoaktif, hingga biokimia secara lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Pembahasan berlanjut pada Senin (22/6/2026), Assoc. Prof. Dr. Sehanat Prasongsuk dari Chulalongkorn University, Thailand, menyoroti pemanfaatan jamur hitam Aureobasidium spp. sebagai sumber produk bernilai tambah seperti biopolimer, enzim, pakan, hingga agen antijamur.
Hasil penelitian menunjukkan berbagai strain Aureobasidium dari Thailand memiliki kemampuan menghasilkan enzim pendegradasi biomassa, seperti xilanase dan $\beta$-xylosidase, yang berpotensi mendukung konversi limbah pertanian menjadi produk bernilai ekonomi.
“Bioteknologi tanaman dan jamur memberikan peluang besar untuk mengubah biomassa serta residu pertanian menjadi berbagai bioproduk yang mendukung ekonomi sirkular dan keberlanjutan energi,” jelasnya.
Dari Indonesia, dosen UNAIR Dr. Rico Ramadhan memaparkan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu sebagai sumber senyawa bioaktif bagi bidang kesehatan. Ia memperkenalkan Excelzyme, produk hasil konsorsium lokal yang dikembangkan di Teaching Industry Excelzyme di bawah Center of Excellence Research Center for Bio-Molecule Engineering (BIOME) Universitas Airlangga.
Produk tersebut telah diproduksi dalam skala 10 liter, 50 liter, hingga 200 liter sebagai bentuk nyata hilirisasi riset biomolekul. Menurut Rico, integrasi ilmu kimia dengan biodiversitas hutan tropis menjadi langkah penting bagi kesehatan, meski menghadapi tantangan perubahan iklim dan eksploitasi hayati.