Dunia Borong Stok Minyak akibat Perang Iran
LONDON - Sejumlah negara yang terdampak secara ekonomi akibat konflik bersenjata di Iran kini bergegas memperkuat sistem keamanan energi di dalam negeri masing-masing. Aksi besar-besaran dalam meningkatkan cadangan minyak dan gas strategis (Strategic Petroleum Reserves/SPR) ini diperkirakan bakal mendongkrak permintaan baru sampai setengah miliar barel di pasar internasional.
Sebelumnya, aksi pemblokiran total di Selat Hormuz sepanjang lebih dari sembilan puluh hari sempat menghentikan seperlima pasokan minyak serta gas alam cair (LNG) global, sehingga mendongkrak harga minyak mentah Brent hingga mendekati angka US$ 120 per barel.
Meski begitu, keadaan tersebut pada akhirnya dapat diredam berkat pemanfaatan cadangan darurat yang dimiliki dunia. Sepanjang konflik berlangsung, terdapat dua strategi utama yang dinilai sukses mengamankan pasar energi internasional.
- Pelepasan Cadangan IEA: Sebanyak 32 anggota Badan Energi Internasional (IEA) sepakat melepas rekor 400 juta barel cadangan darurat kami. Sesuai aturan, anggota IEA wajib memiliki cadangan setara 90 hari impor bersih.
- Strategi Mandiri China: Meski bukan anggota penuh IEA, China berhasil melewati krisis berkat cadangan SPR raksasa kami yang mencapai lebih dari satu miliar barel. Dengan "dana darurat" ini, pemerintah China memotong pembelian minyak mentah hingga sepertiga selama perang, menghemat miliaran dolar, dan terhindar dari guncangan ekonomi.
Kondisi sebaliknya dirasakan sejumlah negara seperti India, Pakistan, serta Thailand yang terpaksa mengambil kebijakan penghematan ketat akibat minimnya stok cadangan. Saat ini, perburuan SPR global mengalami pergeseran signifikan. India yang pasokannya hanya cukup untuk 8 hari, kini berupaya mengejar standar 90 hari sesuai ketetapan IEA.
Pakistan menyusun rencana memperbesar kapasitas penampungan hingga 35 juta barel, sementara Australia dan Singapura tengah mengkaji opsi perluasan area penampungan energi mereka.
Eropa kini melirik pengelolaan penyimpanan gas yang diawasi ketat seiring melonjaknya ketergantungan pada LNG dari AS. Perusahaan raksasa seperti Saudi Aramco juga memperbanyak tangki penampungan di luar Arab guna menjaga fleksibilitas ekspor saat krisis.
Berdasarkan perhitungan Reuters, target penimbunan global ini diproyeksikan memerlukan setidaknya 500 juta barel minyak mentah, ditambah kewajiban dunia untuk mengisi kembali 400 juta barel stok yang terkuras saat perang.
Kombinasi kebutuhan penampungan baru serta pengisian ulang tangki yang kosong tersebut mencapai total 1 miliar barel. Jumlah besar ini dipastikan menjadi faktor pendorong kuat agar harga minyak mentah global tidak merosot tajam dalam beberapa tahun ke depan.