Pertamina Pantau Harga Minyak Dunia untuk Pertamax Bulan Depan

Pertamina memantau harga minyak dunia untuk penyesuaian harga Pertamax bulan depan. (Sumber Foto: NET)
Selasa, 23 Juni 2026 | 16:03:02 WIB

JAKARTA - Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga, Joko Pranoto, menyampaikan bahwa harga Jenis Bahan Bakar Umum (JBU) seperti Pertamax Series untuk bulan mendatang akan disesuaikan mengikuti fluktuasi harga minyak dunia.

“Untuk JBU, ya, itu Patra Niaga selama ini dan seterusnya memang akan merespons terhadap kenaikan atau penurunan harga minyak dunia,” ujar Joko Pranoto di Terminal BBM Plumpang Jakarta, Senin (22/6/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons atas dinamika harga minyak mentah global yang terus berubah. Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh angka 117 dolar AS per barel pada April, namun kemudian mengalami penurunan cepat ke level sekitar 78 dolar AS per barel setelah munculnya rencana kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sedianya dilakukan di Swiss pada Jumat (19/6). 

Namun, harga minyak mentah Brent kembali merangkak naik di atas 80 dolar AS per barel pada Jumat (19/6) karena pasar mempertimbangkan tingginya risiko geopolitik pasca pembatalan dialog AS-Iran serta adanya agresi baru Israel di Lebanon.

“Nanti ke depan seperti apa, nanti kami lihat karena kami basisnya adalah harga satu bulan sebelumnya,” kata Joko.

Di sisi lain, nilai rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Mei berada di angka 106,56 dolar AS per barel, menurun dibandingkan ICP April yang bertengger di posisi 117,31 dolar AS per barel.

"Rata-rata ICP bulan Mei 2026 ditetapkan 106,56 dolar AS per barel, sejalan dengan penurunan harga minyak mentah utama dunia,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, dalam keterangan resminya.

Merosotnya ICP bulan Mei beriringan dengan melemahnya harga minyak mentah utama global, terutama Dated Brent, yang dipicu oleh meredanya tensi geopolitik di antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Laode menambahkan bahwa selama Mei 2026, pasar minyak dunia bereaksi terhadap berbagai situasi yang menunjukkan deeskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo