Peran Penting Gas Bumi dalam Transisi Energi Berkelanjutan Indonesia
RIAU – Di tengah upaya Indonesia mempercepat pengembangan energi terbarukan dan mencapai target net zero emission pada 2060, gas bumi dinilai tetap akan memegang peran penting dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Selain memiliki tingkat emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya, gas bumi juga menjadi penopang berbagai sektor strategis yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan.
Di sinilah gas bumi mengambil peran vital, bukan sekadar sebagai komoditas fosil yang tersisa, melainkan sebagai jembatan transisi yang realistis dan strategis menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.
Pandangan tersebut disampaikan Area Manager EMP Bentu Limited, Dadi Mulyadi, dalam forum diskusi yang diselenggarakan Forum Mahasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (FORMA KIP-K) Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau di Pekanbaru, Senin (15/6/2026).
Menurut Dadi, provinsi tersebut merupakan salah satu daerah yang memiliki peran penting dalam mendukung pasokan energi nasional.
Salah satu kontribusi tersebut berasal dari wilayah kerja EMP Bentu dan Korinci Baru yang saat ini memproduksi sekitar 68 MMSCFD gas bumi atau setara 1,04 persen produksi gas nasional.
Gas bumi yang diproduksi dari wilayah tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan strategis, mulai dari pembangkit listrik, industri pulp dan kertas, kilang pengolahan bahan bakar minyak, operasi migas, hingga jaringan gas rumah tangga di Pekanbaru, Dumai, dan Pelalawan.
“Sebagian listrik yang digunakan masyarakat Riau berasal dari gas bumi yang diproduksi di daerah ini. Gas bumi juga menjadi bahan bakar bagi industri strategis yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional,” ujar Dadi.
Dadi menjelaskan bahwa gas bumi memiliki posisi penting sebagai energi transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan. Menurut Dadi, pengembangan energi baru dan terbarukan tetap membutuhkan dukungan pasokan energi yang andal selama proses transisi berlangsung.
Selain membahas peran gas bumi, mahasiswa juga mendapatkan pemaparan dari M. Arif Salsabil, Analis Departemen Forkom SKK Migas Sumbagut, mengenai kontribusi industri hulu migas terhadap pembangunan nasional.
Arif menjelaskan bahwa sektor hulu migas tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang luas melalui penerimaan negara, dana bagi hasil daerah, pajak, investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga program pengembangan masyarakat.
“Industri hulu migas memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian. Selain menyediakan energi, sektor ini juga mendukung pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Arif menambahkan, SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus mendorong peningkatan kegiatan eksplorasi dan produksi untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
Di wilayah Sumatera Bagian Utara, saat ini terdapat 36 KKKS yang menjalankan kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan produksi migas. Provinsi tersebut menjadi salah satu wilayah strategis yang berkontribusi terhadap pasokan minyak dan gas bumi nasional.