Sinergi Migas dan EBT Kokohkan Ketahanan Energi Nasional

Infrastruktur gas. (Sumber Foto: dunia-energi.com)
Rabu, 17 Juni 2026 | 16:42:48 WIB

JAKARTA – Eskalasi ketegangan geopolitik di tingkat global dinilai berpotensi mengganggu stabilitas serta pasokan energi di berbagai belahan dunia. 

Situasi ini mendesak Indonesia untuk memperkokoh ketahanan energinya agar tidak mudah goyah oleh fluktuasi harga maupun hambatan distribusi yang bisa mengancam perekonomian domestik.

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman, berpendapat bahwa tahun 2026 menjadi waktu yang krusial bagi tanah air untuk mempertegas fondasi keamanan energi melalui kombinasi strategi yang berimbang antara optimalisasi hulu minyak dan gas bumi (migas) serta akselerasi energi baru dan terbarukan (EBT). 

Bagi Yusri, migas dan EBT bukanlah dua opsi yang mesti saling menyingkirkan. Masing-masing sektor justru wajib diselaraskan sebagai pilar utama demi menjamin ketersediaan energi di dalam negeri.

Yusri menekankan bahwa industri hulu migas tetap mengemban tugas vital dalam menyuplai konsumsi energi domestik. 

Oleh sebab itu, penguatan modal, penajaman kegiatan eksplorasi, pembukaan lapangan kerja baru, serta memaksimalkan angka produksi wajib tetap menjadi fokus utama. 

Yusri memandang bahwa penemuan sumber migas baru, seperti yang ada di kawasan Andaman, menjadi bukti bahwa Indonesia masih menyimpan kekayaan alam yang melimpah untuk menopang kebutuhan energi fase panjang. 

Kendati demikian, penemuan tersebut mesti diiringi dengan langkah percepatan pengelolaan agar dampaknya bisa segera menyokong total produksi dalam negeri.

Di waktu yang sama, perluasan pemanfaatan energi baru dan terbarukan juga harus dipacu sebagai bagian dari peta jalan jangka panjang dalam merespons transisi energi di kancah global. 

Yusri menyatakan bahwa gas bumi dapat difungsikan sebagai jembatan transisi yang menghubungkan pemenuhan energi masa kini dengan target capaian porsi energi bersih di masa mendatang. 

Melalui formula tersebut, Indonesia diyakini mampu menyelaraskan tuntutan pertumbuhan ekonomi, kedaulatan energi, serta target pengurangan emisi karbon.

"Ketahanan energi nasional tidak dapat hanya mengandalkan satu sumber energi. Indonesia membutuhkan kombinasi yang seimbang antara peningkatan produksi migas dan percepatan pengembangan energi terbarukan agar mampu menghadapi berbagai risiko global yang semakin kompleks," ingat Yusri.

Yusri mengimbau bahwa apabila kolaborasi tersebut diimplementasikan secara berkesinambungan, tanah air bukan saja sanggup membentengi kedaulatan energinya, melainkan juga mendongkrak posisi tawar ekonomi nasional di tengah pergeseran geopolitik dunia yang dinamis.

"Jika sinergi ini dapat dijalankan secara konsisten, Indonesia tidak hanya mampu menjaga ketahanan energinya, tetapi juga memperkuat daya saing ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang," tutup Yusri.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo