POD Ronggolawe Disetujui, SAKA Pacu Produksi Migas

Persetujuan POD Ronggolawe resmi diterbitkan SKK Migas sebagai langkah percepatan produksi migas. (Sumber Foto: NET)
Senin, 15 Juni 2026 | 15:29:37 WIB

JAKARTA - Fase baru kini dimulai dalam program pengembangan Lapangan Ronggolawe yang terletak di Wilayah Kerja (WK) Pangkah. 

Hal ini terjadi setelah pihak Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) resmi menerbitkan persetujuan Rencana Pengembangan Lapangan (Plan of Development/POD).

Bagi PT Saka Energi Indonesia (SAKA), persetujuan ini menjadi sebuah momentum krusial untuk mempercepat proses konversi dari hasil temuan eksplorasi menuju tahapan produksi riil demi menyokong ketahanan energi di tingkat nasional. 

Sebagai salah satu pelaku usaha hulu migas di bawah payung Subholding Gas Pertamina, SAKA terus mempertegas komitmennya dalam menyokong peningkatan volume produksi migas nasional lewat optimalisasi area-area yang potensial. 

Lapangan Ronggolawe-PHE-7 yang berada di dalam area kerja WK Pangkah tersebut diproyeksikan mulai beroperasi pada penghujung tahun 2029. 

Target kapasitas produksi maksimal dari lapangan ini diperkirakan mampu menyentuh angka 5.126 barel minyak per hari (Barrel of Oil Per Day/BOPD).

Direktur Eksplorasi dan Pengembangan SAKA, Fuji Koesumadewi, mengungkapkan bahwa keluarnya persetujuan POD ini menjadi langkah yang sangat strategis untuk mempercepat konversi cadangan migas yang ditemukan agar bisa menjadi aset produktif yang bernilai tinggi, baik bagi internal perusahaan maupun bagi negara.

“Persetujuan POD ini merupakan langkah penting dalam upaya SAKA mengakselerasi pengembangan sumber daya migas menjadi produksi yang memberikan nilai tambah bagi perusahaan,” ujarnya, dikutip Sabtu (13/6/2026).

Langkah maju ini diperkuat oleh data analisis mendalam dari sumur appraisal RGL-3, yang menyajikan fondasi teknis solid untuk pengerjaan proyek tersebut. 

Sebelum tahapan ini, SAKA sudah melayangkan berkas Penentuan Status Eksplorasi (PSE) untuk Lapangan Ronggolawe pada tahun 2025. 

Langkah itu diambil sebagai kelanjutan dari kesuksesan penemuan cadangan hidrokarbon lewat sumur eksplorasi RGL-1 di tahun 2012. Kandungan berharga tersebut kemudian divalidasi kembali melalui proses pengeboran sumur appraisal RGL-3 pada tahun 2024. 

Kapasitas cadangan di Lapangan Ronggolawe ditaksir menyentuh angka kisaran 10 juta barel minyak yang siap dieksploitasi hingga masa kontrak kerja sama selesai. 

Volume tersebut dinilai punya kapabilitas untuk memberikan andil besar dalam menyukseskan program peningkatan output migas nasional yang tengah diprioritaskan oleh pemerintah.

Keberadaan cadangan hidrokarbon pada Struktur Ronggolawe ini berhasil diidentifikasi berada di zona lapisan CD Carbonate. 

Hasil temuan tersebut didapatkan setelah melewati serangkaian proses pengujian teknis yang ketat, mulai dari uji kandung lapisan (Drill Stem Test), inspeksi tekanan reservoir, hingga aktivitas pengambilan serta riset laboratorium terhadap sampel fluida. 

Dari seluruh rangkaian evaluasi tersebut, lapangan ini dinyatakan memiliki nilai komersial yang sangat layak untuk ditindaklanjuti ke tahap komersialisasi.

Berdasarkan blueprint pengembangan yang telah disetujui, SAKA diagendakan bakal mengebor empat sumur pengembangan baru. Seluruh sumur tersebut nantinya diintegrasikan dengan fasilitas penunjang operasional yang sudah ada di WK Pangkah via jaringan pipa bawah laut. 

Metode kerja seperti ini diterapkan agar jalannya proyek menjadi jauh lebih efisien dengan memaksimalkan sarana infrastruktur eksisting. 

Menariknya, skema pengerjaan Lapangan Ronggolawe-PHE-7 ini juga diposisikan sebagai percontohan nyata dari penerapan strategi unitisasi yang mempertemukan antara WK Pangkah dengan WK West Madura Offshore (WMO). 

WK WMO sendiri dikelola secara langsung oleh Pertamina Hulu Energi WMO. Kolaborasi strategis ini diproyeksikan bisa mendongkrak efisiensi volume produksi sekaligus mempercepat proses monetisasi dari hasil kegiatan eksplorasi bumi tersebut.

Menurut Fuji, aspek efisiensi dalam ranah operasional akan tetap diposisikan sebagai prioritas utama di setiap jengkal proses pengerjaan lapangan. 

Kendati demikian, manajemen korporasi dipastikan bakal tetap memegang teguh regulasi keselamatan kerja serta pemeliharaan aspek lingkungan sebagai pilar operasi yang berkelanjutan.

“Dalam pelaksanaannya, SAKA akan terus mengedepankan efisiensi dan efektivitas biaya maupun kegiatan operasional, dengan tetap menjunjung tinggi aspek keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan,” tambahnya.

Melalui perolehan izin POD Ronggolawe ini, SAKA tidak sekadar memperluas portofolio bisnis dan kapasitas produksi masa depan mereka, melainkan juga memperkuat positioning kontribusinya dalam memenuhi target pemenuhan migas domestik. 

Sinergi dan dukungan penuh dari para pemangku kepentingan beserta jajaran mitra bisnis diharapkan mampu mengakselerasi eksekusi proyek ini di lapangan. 

Dengan demikian, output positif di sektor ekonomi, ketahanan energi, hingga dampak sosial dapat segera dinikmati secara kontinu oleh masyarakat luas dan negara.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo