Mengapa Otak Menyukai Berita Buruk dan Doomscrolling

Ilustrasi Mengapa Otak Kita Menyukai Berita Buruk (FOTO:NET)
Penulis: Yoga
Jumat, 12 Juni 2026 | 12:00:00 WIB

JAKARTA - Mengapa Otak Kita Menyukai Berita Buruk? Sisi Psikologis di Balik Doomscrolling adalah pertanyaan penting yang merujuk pada fenomena di mana sistem saraf manusia secara alami lebih cepat merespons dan terpaku pada informasi yang mengancam, menakutkan, atau negatif dibandingkan dengan kabar gembira. Kebiasaan ini bukan sekadar bentuk kurangnya kontrol diri, melainkan sebuah respons biologis yang tertanam jauh di dalam pikiran bawah sadar. Ketika seseorang terus menggulirkan layar ponsel demi mencari tahu tentang bencana, konflik, atau krisis ekonomi, ada mekanisme psikologis spesifik yang sedang bekerja secara aktif.

Ketertarikan pada hal-hal negatif ini sering kali berjalan otomatis tanpa disadari, menciptakan jebakan digital yang sulit dipatahkan. Banyak yang merasa heran mengapa setelah membaca satu berita duka, jempol justru terus bergerak mencari artikel sejenis lainnya yang setema. Memahami dinamika internal ini menjadi landasan utama agar seseorang dapat mengambil langkah nyata dalam mengendalikan konsumsi informasi sehari-hari secara lebih sehat.

Artikel ini merupakan bagian dari panduan komprehensif untuk menghentikan kebiasaan digital yang merusak, yang dapat dibaca selengkapnya dalam artikel pilar (menghindari jebakan doomscrolling). Dengan membedah cara kerja pikiran, pola konsumsi gawai yang tadinya merusak kesehatan mental bisa diubah secara perlahan. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai alasan ilmiah dan psikologis di balik ketertarikan manusia terhadap kabar buruk di dunia maya.

Mekanisme Evolusi dan Pertahanan Diri Manusia

Konsep Negativity Bias dalam Otak Lama

Sejak zaman purba, kelangsungan hidup manusia sangat bergantung pada kemampuan mendeteksi bahaya di sekitar lingkungan tempat tinggal. Otak berevolusi untuk memprioritaskan stimulus negatif seperti ancaman predator atau cuaca buruk agar tubuh bisa segera bersiap untuk bertarung atau melarikan diri. Di era modern, ancaman fisik tersebut digantikan oleh rentetan berita instan di layar ponsel, yang sayangnya tetap direspons oleh otak dengan cara yang sama protektifnya.

Peran Amigdala sebagai Alarm Tubuh

  • Bagian otak yang bernama amigdala bekerja sebagai sistem alarm 24 jam yang mendeteksi ancaman potensial.
  • Ketika ada judul berita yang mencemaskan, amigdala langsung aktif dan menuntut perhatian penuh dari pikiran.
  • Proses hormonal ini memicu rasa ingin tahu yang mendalam, memaksa seseorang mengabaikan konten positif demi memastikan situasi sekitar tetap aman.

Mengapa Otak Kita Menyukai Berita Buruk? Sisi Psikologis di Balik Doomscrolling dari Sudut Pandang Modern

Siklus Dopamin dan Pencarian Solusi

Dopamin sering dikenal sebagai hormon kebahagiaan, namun fungsi aslinya adalah mendorong pencarian informasi dan pemecahan masalah. Saat membaca hal yang buruk, otak mendambakan kepastian atau akhir yang bahagia dari cerita tersebut untuk meredakan kecemasan yang muncul. Pencarian kepastian yang tiada henti inilah yang menjelaskan Mengapa Otak Kita Menyukai Berita Buruk? Sisi Psikologis di Balik Doomscrolling, karena setiap kali halaman baru dimuat, ada harapan palsu bahwa informasi berikutnya akan membawa ketenangan.

Faktor Pemicu di Lingkungan Digital

• Desain aplikasi yang tanpa batas (infinite scroll) membuat proses pencarian jawaban tidak pernah menemui titik henti yang alami.

• Algoritma platform digital yang membaca ketertarikan pada konten negatif akan terus menyajikan video atau artikel serupa.

• Rasa keterikatan emosional yang intens dari kemarahan atau ketakutan terbukti secara statistik membuat pengguna bertahan lebih lama di dalam aplikasi.

Cara Memutus Rantai Ketertarikan Negatif Ini

Langkah Sederhana Mengalihkan Fokus Pikiran

Menyadari pemicu biologis adalah separuh dari pertempuran melawan kecanduan layar. Langkah berikutnya melibatkan tindakan aktif untuk melatih kembali fokus perhatian agar tidak melulu mencari sinyal bahaya yang tidak relevan dengan kehidupan pribadi langsung.

  • Membatasi konsumsi berita hanya pada pagi hari agar pikiran tidak membawa beban kecemasan saat waktu tidur tiba.
  • Mengganti aktivitas bergulir gawai dengan membaca buku fisik atau melakukan hobi yang melibatkan aktivitas fisik di luar ruangan.
  • Melakukan jeda napas secara sadar setiap kali ada dorongan kuat untuk menekan tautan berita utama yang bersifat provokatif.

Kesimpulan

Fenomena Mengapa Otak Kita Menyukai Berita Buruk? Sisi Psikologis di Balik Doomscrolling membuktikan bahwa ketertarikan pada kabar buruk adalah bagian dari insting bertahan hidup yang berjalan di tempat yang salah. Lingkungan digital saat ini mengeksploitasi keterikatan biologis tersebut demi mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Melalui kesadaran penuh terhadap cara kerja pikiran sendiri, batasan digital yang sehat dapat dibangun kembali demi menjaga ketenangan jiwa di tengah derasnya arus informasi global.

Reporter: Yoga