Perluas Tenaga Surya Atap, Vietnam Butuh Fasilitas Kredit Hijau

Gelombang panas di Vietnam memicu lonjakan tajam permintaan listrik dan tagihan rumah tangga. (Sumber Foto: NET)
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:57:25 WIB

VIETNAM - Hujan "emas" baru-baru ini sedikit meredakan panas yang menyengat, membantu menurunkan permintaan listrik. Namun, jika mencermati grafik pembangkitan dan beban listrik, risiko kekurangan pasokan tetap sangat tinggi karena permintaan terus melonjak. 

Banyak rumah tangga mencatat kenaikan tajam pada tagihan listrik bulan Mei akibat periode panas yang berkepanjangan.

Berbicara kepada surat kabar Thanh Nien, Ibu Thien An (Kelurahan Tan My, Kota Ho Chi Minh) mengatakan: "Panasnya sangat terik sehingga tagihan listrik meroket. Pada bulan Maret, kami membayar 950.000 VND, pada bulan April naik menjadi 1,1 juta VND, dan pada bulan Mei, kami baru saja membayar 1,4 juta VND. 

Dibandingkan dengan bulan Maret, tagihan bulan Mei hampir 50% lebih tinggi. Sebenarnya, keluarga kami tidak menambahkan peralatan listrik baru; kami hanya lebih sering menggunakan AC. 

Misalnya, pada bulan Maret kami menggunakan AC dari jam 10 malam hingga 4 pagi keesokan harinya, pada bulan Mei kami menggunakan AC dari jam 9 malam hingga 6:30 pagi keesokan harinya."

Menurut Perusahaan Pengelola Sistem Tenaga dan Pasar Listrik Nasional (NSMO), wilayah Utara dan Tengah Utara mengalami gelombang panas terparah dalam lebih dari 10 tahun terakhir dengan suhu melebihi 40 derajat Celcius. Kondisi ekstrem ini memicu lonjakan beban listrik hingga mencetak rekor baru. 

Meskipun sempat turun berkat hujan di wilayah Selatan, prakiraan cuaca menunjukkan gelombang panas akan meluas hingga Agustus, yang berpotensi melampaui rekor penggunaan listrik sebelumnya.

Untuk merespons kondisi ini, Vietnam Electricity Group (EVN) telah menyiapkan langkah kontingensi seperti penghematan listrik, percepatan proyek jaringan, penerapan sistem penyimpanan baterai (BESS), serta pengamanan pasokan bahan bakar. Salah satu solusi tercepat untuk menambah pasokan adalah tenaga surya atap dengan sistem penyimpanan. 

Pemerintah Kota Ho Chi Minh melalui Rencana 239 bahkan mulai mempromosikan model tenaga surya swasembada di rumah tangga dan kantor.

Meskipun memiliki potensi besar dengan jutaan atap rumah, tingkat adopsi sistem tenaga surya atap mandiri saat ini masih rendah dibandingkan ekspektasi. 

Pakar energi, Dr. Nguyen Huy Hoach, menilai bahwa tenaga surya yang dikombinasikan dengan penyimpanan baterai (BESS) sebenarnya menawarkan efisiensi ekonomi bagi konsumen dengan pemakaian listrik tinggi. Namun, hambatan akses keuangan menjadi kendala utama.

"Kami mempromosikan pengembangan tenaga surya atap dengan penyimpanan baterai, tetapi berapa banyak orang yang dapat mengakses kredit hijau preferensial? Berapa banyak orang yang dapat menjual listrik dari penyimpanan baterai ke jaringan listrik? Mekanisme insentif kami masih tertinggal dari kebutuhan dan ambisi pengembangan sumber energi terbarukan ini," kata Dr. Hoach.

Selain kredit hijau, dunia usaha juga menantikan sinkronisasi kebijakan yang lebih jelas terkait perdagangan listrik langsung. Departemen Kelistrikan menyatakan bahwa bisnis ke depannya dapat diizinkan menjual 100% kelebihan listrik ke jaringan jika kondisi sistem transmisi regional memungkinkan untuk menangani beban tersebut.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo