Lampung Jadi Contoh Pengembangan Industri Bioetanol Nasional

Lampung dipilih sebagai lokasi pengembangan industri bioetanol nasional dengan kapasitas 60 juta liter per tahun. (Sumber Foto: NET)
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:57:25 WIB

LAMPUNG - Pemerintah terus mematangkan strategi transisi energi nasional melalui percepatan industri bioetanol berbasis pertanian. Langkah ini ditandai dengan rencana pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas 60.000 kiloliter (KL) atau setara 60 juta liter per tahun di Provinsi Lampung, yang diproyeksikan menjadi model pengembangan energi terbarukan terintegrasi di Indonesia.

Komitmen tersebut ditegaskan dalam Rapat Koordinasi dan Kunjungan Lapangan Pengembangan Bioetanol Terintegrasi di Provinsi Lampung yang dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Todotua Pasaribu. 

Dalam agenda tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung bersinergi dengan PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), dan PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI) melalui penandatanganan Joint Declaration

Kolaborasi ini mencakup komitmen penguatan rantai pasok bahan baku, pembangunan fasilitas produksi, kemitraan dengan petani, hingga transfer teknologi.

Wamen Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, mengungkapkan pemilihan Lampung sebagai lokasi awal ekosistem bioetanol nasional didasarkan pada keunggulan ketersediaan bahan baku (feedstock) serta letak geografis yang strategis.

"Lampung memiliki feedstock paling mumpuni untuk pengembangan bioetanol nasional. Selain itu, posisinya sangat strategis karena dapat memasok kebutuhan Sumatera dan sebagian Jawa yang merupakan pusat konsumsi energi terbesar di Indonesia," ujar Todotua dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

Berdasarkan peninjauan lapangan di Kecamatan Tegineneng (Kabupaten Pesawaran) dan Desa Rejosari (Kabupaten Lampung Selatan), wilayah ini dinilai sangat siap. Lampung kaya akan potensi bahan baku multi-feedstock, mulai dari molases (tetes tebu), sorgum, hingga limbah biomassa. 

Proyek ini akan dilaksanakan dalam dua tahap, dimulai dari pilot project penanaman sorgum varietas Enryu dan fasilitas percontohan, hingga tahap komersial dengan perluasan lahan hingga 6.000 hektare dan pabrik utama yang beroperasi pada 2028.

"Yang ingin kami bangun bukan hanya pabrik, tetapi ekosistem ekonomi. Feedstock ada di sini, logistik ada di sini, masyarakat agrikulturnya juga ada di sini. Tinggal kami maksimalkan," pungkas Todotua.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo