Malaysia Kaji Potensi Tenaga Nuklir demi Stabilitas Energi Nasional

Wisatawan menikmati pemandangan Selat Malaka di Bukit St. Paul. (Sumber Foto: antaranews.com)
Kamis, 11 Juni 2026 | 19:57:25 WIB

KUALA LUMPUR - Malaysia, melalui lembaga khususnya, sedang melakukan penilaian komprehensif terhadap potensi program tenaga nuklir. Penilaian tersebut mencakup pengembangan kebijakan, kerangka hukum dan peraturan, kelayakan proyek, partisipasi industri, keterlibatan pemangku kepentingan, serta pengembangan sumber daya manusia.

Wakil Perdana Menteri Fadillah Yusof, sebagaimana dilaporkan BERNAMA di Kuala Lumpur, Sabtu, menyatakan bahwa langkah mengeksplorasi tenaga nuklir untuk pembangkit listrik merupakan upaya strategis dalam memperkuat keamanan energi jangka panjang sekaligus mendukung transisi energi bersih nasional. 

Inisiatif ini sejalan dengan Rencana Malaysia Ketigabelas (13MP) yang diajukan Perdana Menteri Anwar Ibrahim pada 31 Juli 2025.

"Kebutuhan untuk mengevaluasi kelayakan tenaga nuklir semakin relevan di tengah lanskap energi global yang berubah, yang dibentuk oleh ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi pasokan serta harga bahan bakar," kata Fadillah Yusof yang juga merupakan Menteri Transisi Energi dan Transformasi Air (PETRA) Malaysia.

Penilaian program tenaga nuklir dilakukan oleh MyPOWER Corporation Malaysia. Lembaga di bawah Kementerian PETRA tersebut telah ditunjuk sebagai Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir (NEPIO) yang bertugas mengoordinasikan persiapan berdasarkan pendekatan bertahap sesuai rekomendasi Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Fadillah menunjukkan bahwa ketegangan global, khususnya di Timur Tengah dan gangguan pada jalur energi utama seperti Selat Hormuz, telah berdampak pada pasar energi dan stabilitas pasokan. "Dalam konteks ini, tenaga nuklir menawarkan daya beban dasar yang stabil dan rendah karbon serta dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil," katanya.

Beberapa negara ASEAN lainnya pun kini mempertimbangkan tenaga nuklir dalam strategi diversifikasi mereka. Filipina menargetkan kapasitas 4.800 megawatt pada 2050, Vietnam telah kembali memasukkan nuklir ke rencana energi nasional, sementara Indonesia sedang menjajaki reaktor modular kecil (SMR). 

Fadillah menegaskan bahwa prioritas Malaysia adalah memastikan setiap pengembangan nuklir masa depan dievaluasi secara cermat melalui analisis teknis komprehensif yang selaras dengan prioritas nasional serta kewajiban internasional.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo