Rupiah Dekati Rp18 Ribu per Dolar AS, BI Akan Jaga Stabilitas

Petugas menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS). (Sumber Foto: katadata.co.id)
Kamis, 04 Juni 2026 | 15:09:39 WIB

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memberikan tanggapan terkait nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi terhadap dolar AS hingga mendekati level Rp18 ribu. Hari ini, kurs rupiah berada di level Rp17.900 per dolar AS dan mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Rabu (3/6).

Berdasarkan pantauan pada situs Bloomberg pukul 13.57 WIB, rupiah berada di level Rp17.954 per dolar AS, melemah 116 poin atau 0,65 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Merespons kondisi tersebut, BI menegaskan akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global maupun domestik serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal," kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangan resmi, Rabu (3/6).

BI menyatakan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki guna memastikan mekanisme pasar berjalan baik sekaligus menjaga kecukupan likuiditas valuta asing (valas).

"Bank Indonesia terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas guna turut mendukung stabilitas pasar keuangan," ujarnya.

Selain melakukan stabilisasi di pasar, BI juga mulai memberlakukan ketentuan baru terkait pembelian valas tunai. Sejak 2 Juni 2026, bank sentral menetapkan batas pembelian valas tunai terhadap rupiah tanpa underlying menjadi maksimal US$25 ribu per pelaku per bulan.

Di sisi lain, BI juga terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus meredam risiko gejolak nilai tukar. Saat ini, kerja sama LCT telah dijalankan dengan sejumlah negara mitra, yakni China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Ramdan menambahkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tidak hanya bergantung pada kebijakan moneter, tetapi juga memerlukan sinergi berbagai pihak.

"Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, dunia usaha, dan pelaku pasar guna memastikan bekerjanya mekanisme pasar secara baik serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional," pungkasnya.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo