Gas Alam Diyakini Jadi Elemen Utama Transisi Energi Indonesia

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), bagian dari Subholding Gas Pertamina, ditunjuk sebagai motor utama dalam menjalankan program strategis. (Sumber Foto: kabarbursa.com)
Senin, 25 Mei 2026 | 11:57:36 WIB

TANGERANG – Banyak pihak merasa cemas akan terjadinya perlambatan agenda transisi energi, terutama akibat beragam perkembangan serta situasi geopolitik yang penuh ketidakpastian saat ini. 

Meski demikian, program transisi energi yang dicanangkan berbagai negara diprediksi akan terus berlanjut, yang ditandai dengan masih tingginya permintaan terhadap gas.

Laporan kuartalan terkini dari IEA memproyeksikan pasar gas alam dunia akan tetap ketat dalam dua tahun mendatang. 

Walaupun tantangan yang dihadapi semakin besar, fundamental industri tetap menunjukkan bahwa gas alam akan terus menjadi bagian krusial dalam bauran energi global. 

Pada periode yang sama tahun lalu, IEA memperkirakan pasokan energi akan naik 7 persen pada 2026. Dengan beroperasinya berbagai proyek baru serta pertumbuhan ekonomi yang masih kokoh di tengah tantangan saat ini, dinamika tersebut terus berjalan.

Mansoor Muhamed Al Hamed, CEO Mubadala Energy, menyatakan bahwa fundamental transisi energi tetap konsisten dengan memanfaatkan gas yang memiliki emisi lebih rendah dibandingkan energi fosil lainnya. 

“Kami harus menurunkan emisi, memperluas energi terbarukan, dan melakukan dekarbonisasi. Namun gas yang melimpah, andal, dan beremisi lebih rendah tetap akan menjadi bagian penting dari bauran energi,” jelas Mansoor pada sesi Global Executive Talk bertema The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas di ajang IPA Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026, Rabu (20/5/2026).

Menurutnya, di dunia yang penuh volatilitas, gas berperan ganda sebagai bahan bakar transisi sekaligus penopang ketahanan energi. 

Mubadala Energy, ujar Mansoor, menegaskan komitmennya untuk mempercepat pengembangan proyek gas di Laut Andaman, Indonesia, di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan ketidakpastian geopolitik global. 

“Indonesia memiliki peluang luar biasa, mulai dari peningkatan permintaan energi, posisi geografis strategis, hingga potensi besar sumber daya laut dalam,” tutur Mansoor.

Sementara itu, Roberto Lorato, Direktur dan CEO Medco Energi, mengungkapkan bahwa gas mampu menggantikan batu bara, mendukung stabilitas energi terbarukan yang bersifat intermiten, serta memenuhi kebutuhan pasar yang permintaan listriknya terus tumbuh pesat. 

Medco memprediksi transisi energi di Indonesia dan kawasan Asia akan ditopang oleh keberadaan gas.

“Transisi energi di kawasan ini akan dibangun melalui kombinasi gas dan energi terbarukan, bukan melalui pendekatan yang bersifat ekstrem,” jelas Roberto. 

Indonesia dan Asia secara lebih luas masih memerlukan lebih banyak investasi hulu migas. Oleh karena itu, Medco akan terus mengalokasikan modal di sektor ini sembari secara bertahap mengembangkan proyek Energi Baru Terbarukan (EBT).

“Keduanya bukanlah sesuatu yang saling bertentangan, melainkan sama-sama dibutuhkan untuk masa depan energi,” ungkap Roberto.

Reporter: Ferdi Tri Nor Cahyo